Self-Interest, Rationale, Decision Making

Apakah manusia itu pada dasarnya egois?

Apa yang menjadi dasar kita sebagai manusia dalam mengambil sebuah keputusan? Keuntungan pribadi? Keuntungan kelompok? Apakah semua keputusan dalam hidup hanya diambil berdasarkan asas untung-rugi?

Game theory merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi antaragen dalam suatu situasi atau permainan. Dengan asumsi mendasar bahwa setiap agen itu hanya ingin memaksimalkan self-interest, kita justru berujung pada kasus seperti Prisoner’s Dilemma. Sama-sama ingin untung sendiri malah mengakibatkan kita menjadi rugi. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Dalam game theory juga dijelaskan bahwa banyak sekali permainan yang bisa dijabarkan dalam bentuk extensive form — membuka seluruh state yang ada untuk mengetahui ujung dari permainan. Teorinya, ketika sudah tahu ujung dari permainan, harusnya kita bisa tahu bagaimana mencapai ke ujung permainan tersebut dan bagaimana mencari strategi supaya ujung permainan tersebut menguntungkan bagi kita. Jadi, teorinya kita bisa memenangkan setiap permainan catur melawan orang lain jika kita menggunakan bantuan komputer.

Faktanya, komputer sampai detik ini belum sanggup menjabarkan seluruh state yang ada. Namun, komputer tetap berhasil menang melawan manusia. Loh, kok begitu?

Dengan menggunakan ilmu probabilitas dan statistik, pemodelan matematis, dan mekanisme reward and punishment, seluruh state yang ada itu ternyata tidak segitu perlunya untuk diketahui. Keterbatasan manusia ini diperkenalkan kepada komputer sehingga ia bisa belajar seperti manusia (termasuk kasus error-nya). Kemampuan komputasi yang tinggi secara paralel dan daya tampung memorinya yang besar membuat komputer bisa mengalahkan manusia di permainan catur — ia belajar dari yang terbaik.

Konsep reward and punishment dalam reinforcement learning menggeser cara belajar komputer dari yang harus mengetahui output-nya menjadi umpan balik apa yang didapatkan ketika mengambil suatu aksi. Jadi, untuk setiap langkah yang saya mainkan, apakah ada bidak yang saya bisa makan? Atau apakah bidak saya kemudian akan dimakan? Lalu, dengan keterbatasan pengetahuan akan universe dari state tadi, kapan kita harus mengeksploitasi suatu aksi dan kapan kita harus mengeksplorasi jenis aksi yang baru untuk memaksimalkan keuntungan kita?

Untuk setiap aksi yang kita lakukan dalam dunia nyata, ternyata ini tidak sekadar masalah memaksimalkan keuntungan saja. Ada keterbatasan sumber daya yang harus kita pertimbangkan. Tragedy of the commons menceritakan bahwa eksploitasi yang berlebihan untuk dapat memaksimalkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan keterbatasan sumber daya itu ternyata bisa berakibat pada kerugian untuk semua orang.

Ambil contoh kasus order fiktif Go-Jek. Asumsi saya ceritanya seperti ini,

“Seorang pengendara mencoba mencurangi Go-Jek dengan membuat order fiktif. Hey, ternyata sistemnya bisa dicurangi. Saya tidak ketahuan. Dari satu orang itu kemudian mencoba mengabari kepada beberapa orang teman terdekatnya bahwa sistemnya ternyata punya celah. Maka, mulailah ada beberapa orang yang mencurangi sistemnya. Ketika sistem itu sudah terlalu banyak dicurangi, maka perusahaan pun merugi. Akibatnya, banyak pengemudi yang di-PHK dan sisanya dikurangi kompensasinya.”

Semua jadi rugi kan?

“Hal yang sama juga terjadi pada kasus kemacetan, pencemaran sungai, dan — yang paling mahal harganya — kepercayaan. Coba perhatikan, betapa kita tidak percaya pada partai politik sekarang, atau betapa tidak percayanya kita pada klaim harga-murah-tapi-bersyarat-dan-terbatas dari provider telekomunikasi. Tentu saja — seharusnya — ada orang-orang baik yang berkiprah di bidang politik dan tidak semua iklan provider telekomunikasi berbohong. Masalahnya, karena ada yang berbohong, kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak tersebut menjadi terkikis, bahkan habis.”

Jadi, apa yang seharusnya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan kita dalam hidup?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Iklan

How Time Has Transformed Technology

Seperti Moore’s Law, “The number of transistors per square inch on integrated circuits had doubled every year since the integrated circuit was invented.” Kita bisa lihat di sekeliling bahwa sekarang komputer saja sudah bisa mengalahkan Go — permainan dengan state papan yang konon kabarnya melebihi state permainan catur. Komputer sudah semakin pintar, ia bisa mendeteksi apakah ada kucing di suatu gambar. Hell, bahkan komputer bisa memberi tahu kita itu kucing jenis apa.

Itu juga menjelaskan bahwa komputer sudah semakin pintar berinteraksi dengan gambar. Komputer sudah punya “mata”. Enggak usah jauh-jauh, ponsel yang kalian gunakan sekarang itu komputasinya lebih canggih dari komputer yang digunakan di misi Apollo 11, dan ponsel kalian punya kamera yang tak kalah canggihnya!

Tidak berhenti di situ, komputer juga punya “telinga” dan “mulut”. Kalian tahu Siri, Cortana, atau Google Now kan? Meski belum bisa banyak bahasa, tapi “mesin-mesin” itu telah mampu berkomunikasi dengan manusia. Paling tidak mereka bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti “mau makan di mana?” atau “apakah hari ini akan hujan?” Misi Google semakin ke sini adalah sebagai asisten, bukan lagi sebagai mesin yang mengolah query dan menyodorkan jawaban — mereka mencoba membantu “memilihkan” jawaban.

Mungkin kalian tidak heran sekarang dengan komputer yang punya tangan dan kaki, atau yang kalian lebih kenal dengan nama robot. So, let’s skip that part.

Lalu, apakah komputer punya indra perasa dan pembau seperti kerjanya lidah dan hidung? Kalian pernah dengar mesin namanya mass spectrometer? Mesin canggih itu bisa menguraikan bahan-bahan yang terkandung dalam suatu produk. But, you’ve spotted the point.

Meski bisa mengurainya, mesin tidak punya persepsi rasa “enak” dan “tidak enak”. Walau bisa menentukan jenis kucing dalam gambar, mesin masih belum bisa menentukan apakah kucing itu “lucu” atau “tidak”. Biarpun sudah bisa ngobrol dengan manusia, komputer (mungkin) belum tahu apakah yang diajak ngobrol itu sakit hati atau tidak, maka jangan heran ketika Tay yang dibuat Microsoft berubah menjadi “monster”.

Jadi, apakah mesin akan bisa menyamai manusia? Apakah mesin bisa berpikir seperti manusia? Meminjam kata-kata yang terpampang di Manchester Art Gallery,

“In order to build a machine that can compare to a human, do we first need to see, know and understand ourselves better? If so, what does it mean to be human?”

Kalau memang Tay sudah menjawab bahwa mesin mampu berpikir seperti manusia, apakah ternyata manusia zaman sekarang itu sudah seperti “monster” yang mereka ciptakan?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Follow Back

Anda pernah bertemu dengan orang terkenal di tempat umum? Pesohor layar kaca, misalnya, atau pun mereka yang popular di media sosial, yang biasanya lebih dikenal dengan nama selebtwit atau selebgram. Pernah merasa aneh tidak?

Maksudnya, kan kita sering memperhatikan mereka ya. Ditambah lagi, tak jarang dari mereka yang gampang dijangkau juga dari akun media sosialnya sehingga kita tahu mereka habis pelesir ke mana, bertemu dengan siapa, bahkan baru makan apa siang itu. Menariknya, mereka tidak tahu siapa kita sema sekali. Bahkan sekadar nama pun tidak.

Kesannya, kita seperti bertemu teman lama yang mengalami amnesia. Kita seolah sudah tahu luar-dalam, baik-buruk, hingga kelebihan-kekurangannya, tapi dia sama sekali tidak bisa ingat kita. Komentar kita di media sosial mereka saja belum tentu dibaca, boro-boro mau ingat siapa kita.

Ini yang membuat saya makin heran lagi dengan konsep follow back. Buat apa sih sebenarnya? Memangnya hidup kita sepenting itu ya sampai dia harus follow? Berbeda dengan Facebook yang sifatnya two-way handshake, Twitter dan Instagram memang didesain untuk membebaskan kita mengikuti siapa yang memang menarik, apa pun itu alasannya. Mana mau lah selebritas itu mendengarkan keluhan kita akan teman kita yang ternyata senang menggosipkan kita di belakang.

Apa yang menjadi alasan Anda meminta seseorang untuk follow back?

P.S. Saya baru tahu kalau selebriti yang merupakan bentuk baku dalam KBBI IV ternyata menjadi tidak baku lagi di KBBI V. Bentuk bakunya berubah menjadi selebritas.

Konsumsi Nasi

Anda pernah terpikir untuk menghindari atau mengurangi makan nasi? Kok kelihatannya banyak tulisan berseliweran di internet bahwa mengurangi nasi bisa membuat badan “lebih ringan” dan lebih berenergi untuk beraktivitas ya? Sebagai disclaimer, pengurangan karbohidrat dalam bentuk nasi itu biasanya selalu dibarengi dengan olahraga sih oleh para penulisnya. Jadi, apakah memang ada dampak yang signifikan dari mengurangi konsumsi nasi?

Yang jelas, rasanya saya memang jadi makan lebih banyak semenjak pulang dari studi master. Selama di luar negeri, saya bisa saja tuh makan hanya normal tiga kali sehari. Menu standarnya: sarapan dengan roti atau sereal dan teh tawar, makan siang dengan pasta, makan malam dengan pasta — dengan saus yang berbeda terkadang. Di luar itu, saya jarang sekali jajan. Hanya tiap Jumat siang yang saya alokasikan untuk makan nasi dan kari di kafe dekat masjid. Makanan ringan pun hanya saya beli satu bungkus untuk seminggu.

Bandingkan dengan di Indonesia. Meski sudah makan nasi, tak jarang beberapa jam kemudian saya sudah lapar kembali dan mencoba mencari makanan di kulkas. Belum lagi dengan murahnya alternatif jajanan di sini. Junk food dapat dengan mudahnya dilahap. Sementara setahun yang lalu saya akan lebih memilih untuk meminum jus atau memakan buah.

Menurut yang sempat saya diskusikan dengan seorang teman yang berkutat di jurusan kimia, mungkin ini ada hubungannya dengan indeks glikemik. Jenis karbohidrat yang dikonsumsi akan menentukan jangka waktu untuk merasa kenyang. Selain itu, junk food memang didesain untuk membuat Anda mencari lebih banyak lagi. Jadi, menumpuk dosa di atas dosa. Silakan baca buku The Dorito Effect untuk mencari tahu tentang ini lebih banyak.

Jadi, bagaimana dengan diet Anda selama ini?

Terbit

Beberapa minggu terakhir ini ada banyak tulisan yang saya mesti hasilkan. Kebanyakan dari tulisan tersebut butuh fokus ekstra dan pengetahuan akan domain itu sendiri. Menguras pikiran sekali sehingga rasanya malas betul mengisi blog ini lagi. Padahal, sudah dicanangkan untuk membuat tulisan tiap minggu selama setahun ini. Payah ya?

Baru-baru ini juga saya dapat tawaran dari seorang teman untuk menulis modul pelatihan dasar pemrograman. Idenya sih nanti bisa dijadikan buku serial yang dipasarkan dengan penerbit. Nah, bisa jadi makin sedikit frekuensi menulis di blog ini kalau begitu.

Apakah ini alasan yang bisa diterima? Entahlah. Yang jelas, sebetulnya saya tidak benar-benar kehabisan ide untuk menulis yang agak serius di blog ini. Ada saja tiba-tiba ide yang tercetus saat sedang berjalan kaki dan mengobservasi dunia di sekeliling saya. Hanya saja, menulis hal-hal yang seperti itu tentu perlu riset lebih lanjut. Minimal, perlu ada proses kondensasi ide supaya tulisannya bisa padat dan tidak mengawang-awang.

Oleh karena itu, saya selalu salut dengan orang-orang di dunia broadcasting maupun media cetak. Tuntutan pekerjaan mereka tinggi sekali. Yang disajikan kepada konsumen tentu saja harus melalui riset terlebih dahulu sebelum masuk dapur produksi. Untuk membuat program mingguan saja sulitnya bukan main, bagaimana lah mereka yang harus naik tayang/cetak harian bisa hidup selama ini?

Apakah Anda tertarik dengan dunia jurnalistik?

Abstraksi Sosial

Sekitar 4 bulan yang lalu, saya menemukan video ini di YouTube.

Video tersebut bercerita tentang eksperimen yang dilakukan oleh Adam Carroll, seorang penasihat finansial dan pembicara profesional. Dalam video tersebut, Adam bercerita tentang eksperimen yang dilakukan dengan anak-anaknya ketika bermain Monopoli. Idenya sederhana: apa yang terjadi ketika uang Monopoli diganti dengan uang yang sebenarnya? Seperti judulnya, permainan ini dibuat dengan peraturan satu peraturan utama: winner takes all.

Hasilnya, dua dari tiga anak Adam mengubah strateginya. Hanya anak perempuannya yang tetap bermain mengandalkan “kesempatan” dan “dana umum” — yang tentunya jadi pemain pertama yang bangkrut. Lalu, apa kesimpulannya?

Adam menyatakan bahwa konsep abstraksi finansial — dalam kasus di atas adalah penggunaan uang mainan dalam Monopoli — membuat kita menjadi tidak berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Faktanya, transaksi di masyarakat jadi lebih besar hingga 12-18% ketika menggunakan kartu kredit dibandingkan kas. Masalahnya, dengan psikologi seperti ini, masa depan generasi baru bisa sangat mengkhawatirkan jika tidak pernah dibiasakan mengatur keuangan kasnya sejak dini.

Mereka bisa menjadi sangat boros.

Abstrak

Dalam dunia yang serba digital seperti sekarang, tidak hanya abstraksi finansial saja yang menjadi ancaman. Mereka yang terlalu lama “hidup” dalam dunia maya boleh jadi telah terjebak dalam — meminjam istilah Adam — abstraksi sosial. Tak pelak, kebiasaan untuk mengumpat orang lain, menyebarkan berita yang tidak jelas juntrungannya, hingga penipuan dengan social engineering menjadi marak di masyarakat kita.

Berapa banyak di antara kita yang lebih sering sibuk dengan ponsel masing-masing bahkan ketika ada teman-teman atau keluarga di sekitar kita? Saat saya menulis ini, minimal satu orang di tiap meja kafe memegang ponselnya, yang besar kemungkinannya sedang digunakan untuk bersosialisasi di dunia maya. Apakah ketidakmampuan kebanyakan dari kita untuk berdiskusi dan berdebat secara sehat memang berpangkal pada minimnya dialog tatap muka yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?

Mungkinkah media sosial telah menjadi tabir yang mengaburkan konsekuensi sosial dan moral?

Saya Berpikir dan Bertanya

Semakin ke sini, kebiasaan kita yang selama ini terlalu sering mengasosiasikan sesuatu dengan simbol terlihat makin menjadi. Maksudnya begini, kita itu, sadar atau tidak, sering terpaku pada hal-hal yang kasatmata saja. Orang yang naik haji langsung dianggap saleh; teman-teman yang berkacamata kita anggap kutu buku; dan mereka yang bertato mesti orang jahat.

Yang paling gawat dari itu semua sebetulnya adalah betapa mudahnya kita kemudian dipengaruhi oleh sajian media. Dengan derasnya arus informasi saat ini, tidak hanya media massa, tetapi juga media sosial telah membuat banyak dari kita yang terlalu cepat melabeli seseorang. Si A begini lah, si B begitu lah. Kita seolah jadi yang paling jago dalam mengklasifikasikan orang-orang tersebut. Eh, apa jangan-jangan tulisan ini juga jadi seperti itu ya? Hahaha…

Anyway, pola pikir yang simplistik dengan asosiasi simbol tersebut akhir-akhir ini jadi sesuatu yang membuat saya agak gerah. Lucu saja melihatnya ada beberapa orang yang dengan mudahnya mengkultuskan seseorang, demikian sebaliknya. Kok ya tidak mau dicoba ditelisik dulu begitu?

Sebagai bagian dari umat Islam, saya sering sedih karena makin ke sini makin banyak orang yang terpaku pada saleh ritual saja dan mengesampingkan saleh sosial. Menurut hemat saya, pelabelan dan asosiasi simbol tadi adalah contoh-contoh kemunduran kesalehan sosial di masyarakat kita. Padahal, bukankah junjungan kita selalu menunjukkan kesalehan sosial dalam kehidupannya sehari-hari? Tak hanya ibadahnya yang tak tertandingi, tapi sejak muda pun beliau sudah dijuluki sebagai Al-Amin — orang yang dapat dipercaya. Lantas, mengapa kita sekarang senangnya berkubang dalam arus informasi yang kadang tak jelas sumbernya?

Terkait arus informasi ini, kita memang tak bisa lepas dari bahasan siapa sumbernya. Nah, seperti halnya saleh ritual dan saleh sosial tadi, sumber informasi ini juga punya dua dimensi yang prinsipil: jujur dan cerdas. Mungkin saja informasi yang disampaikan tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi, tapi bukan tidak mungkin kan bahwa informasinya sudah salah dari hulunya? Jadi, si penyampai/penerus pesan sebetulnya memang orang baik, tapi dia mungkin tidak cukup cerdas untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah. Hoax, istilahnya yang lebih populer sekarang.

Demikian juga sebaliknya. Bisa jadi informasi awalnya mengandung kebenaran, tapi si penyampai/penerus pesan malah melebih-lebihkannya. Seolah-olah dia punya informasi yang orang lain belum punya. Biar terlihat beda gitu.

Bulan yang penuh berkah ini sudah seharusnya jadi masa bagi kita untuk introspeksi. Sudahkah kita bisa lebih menyaring informasi dengan lebih baik? Apakah apa yang kita sampaikan ke orang lain itu sebetulnya akan berujung pada kebaikan atau malah hanya akan jadi sumber perpecahan?

Mari belajar untuk lebih berpikir dan bertanya.