Konsumsi Nasi

Anda pernah terpikir untuk menghindari atau mengurangi makan nasi? Kok kelihatannya banyak tulisan berseliweran di internet bahwa mengurangi nasi bisa membuat badan “lebih ringan” dan lebih berenergi untuk beraktivitas ya? Sebagai disclaimer, pengurangan karbohidrat dalam bentuk nasi itu biasanya selalu dibarengi dengan olahraga sih oleh para penulisnya. Jadi, apakah memang ada dampak yang signifikan dari mengurangi konsumsi nasi?

Yang jelas, rasanya saya memang jadi makan lebih banyak semenjak pulang dari studi master. Selama di luar negeri, saya bisa saja tuh makan hanya normal tiga kali sehari. Menu standarnya: sarapan dengan roti atau sereal dan teh tawar, makan siang dengan pasta, makan malam dengan pasta — dengan saus yang berbeda terkadang. Di luar itu, saya jarang sekali jajan. Hanya tiap Jumat siang yang saya alokasikan untuk makan nasi dan kari di kafe dekat masjid. Makanan ringan pun hanya saya beli satu bungkus untuk seminggu.

Bandingkan dengan di Indonesia. Meski sudah makan nasi, tak jarang beberapa jam kemudian saya sudah lapar kembali dan mencoba mencari makanan di kulkas. Belum lagi dengan murahnya alternatif jajanan di sini. Junk food dapat dengan mudahnya dilahap. Sementara setahun yang lalu saya akan lebih memilih untuk meminum jus atau memakan buah.

Menurut yang sempat saya diskusikan dengan seorang teman yang berkutat di jurusan kimia, mungkin ini ada hubungannya dengan indeks glikemik. Jenis karbohidrat yang dikonsumsi akan menentukan jangka waktu untuk merasa kenyang. Selain itu, junk food memang didesain untuk membuat Anda mencari lebih banyak lagi. Jadi, menumpuk dosa di atas dosa. Silakan baca buku The Dorito Effect untuk mencari tahu tentang ini lebih banyak.

Jadi, bagaimana dengan diet Anda selama ini?

Iklan

Terbit

Beberapa minggu terakhir ini ada banyak tulisan yang saya mesti hasilkan. Kebanyakan dari tulisan tersebut butuh fokus ekstra dan pengetahuan akan domain itu sendiri. Menguras pikiran sekali sehingga rasanya malas betul mengisi blog ini lagi. Padahal, sudah dicanangkan untuk membuat tulisan tiap minggu selama setahun ini. Payah ya?

Baru-baru ini juga saya dapat tawaran dari seorang teman untuk menulis modul pelatihan dasar pemrograman. Idenya sih nanti bisa dijadikan buku serial yang dipasarkan dengan penerbit. Nah, bisa jadi makin sedikit frekuensi menulis di blog ini kalau begitu.

Apakah ini alasan yang bisa diterima? Entahlah. Yang jelas, sebetulnya saya tidak benar-benar kehabisan ide untuk menulis yang agak serius di blog ini. Ada saja tiba-tiba ide yang tercetus saat sedang berjalan kaki dan mengobservasi dunia di sekeliling saya. Hanya saja, menulis hal-hal yang seperti itu tentu perlu riset lebih lanjut. Minimal, perlu ada proses kondensasi ide supaya tulisannya bisa padat dan tidak mengawang-awang.

Oleh karena itu, saya selalu salut dengan orang-orang di dunia broadcasting maupun media cetak. Tuntutan pekerjaan mereka tinggi sekali. Yang disajikan kepada konsumen tentu saja harus melalui riset terlebih dahulu sebelum masuk dapur produksi. Untuk membuat program mingguan saja sulitnya bukan main, bagaimana lah mereka yang harus naik tayang/cetak harian bisa hidup selama ini?

Apakah Anda tertarik dengan dunia jurnalistik?

Abstraksi Sosial

Sekitar 4 bulan yang lalu, saya menemukan video ini di YouTube.

Video tersebut bercerita tentang eksperimen yang dilakukan oleh Adam Carroll, seorang penasihat finansial dan pembicara profesional. Dalam video tersebut, Adam bercerita tentang eksperimen yang dilakukan dengan anak-anaknya ketika bermain Monopoli. Idenya sederhana: apa yang terjadi ketika uang Monopoli diganti dengan uang yang sebenarnya? Seperti judulnya, permainan ini dibuat dengan peraturan satu peraturan utama: winner takes all.

Hasilnya, dua dari tiga anak Adam mengubah strateginya. Hanya anak perempuannya yang tetap bermain mengandalkan “kesempatan” dan “dana umum” — yang tentunya jadi pemain pertama yang bangkrut. Lalu, apa kesimpulannya?

Adam menyatakan bahwa konsep abstraksi finansial — dalam kasus di atas adalah penggunaan uang mainan dalam Monopoli — membuat kita menjadi tidak berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Faktanya, transaksi di masyarakat jadi lebih besar hingga 12-18% ketika menggunakan kartu kredit dibandingkan kas. Masalahnya, dengan psikologi seperti ini, masa depan generasi baru bisa sangat mengkhawatirkan jika tidak pernah dibiasakan mengatur keuangan kasnya sejak dini.

Mereka bisa menjadi sangat boros.

Abstrak

Dalam dunia yang serba digital seperti sekarang, tidak hanya abstraksi finansial saja yang menjadi ancaman. Mereka yang terlalu lama “hidup” dalam dunia maya boleh jadi telah terjebak dalam — meminjam istilah Adam — abstraksi sosial. Tak pelak, kebiasaan untuk mengumpat orang lain, menyebarkan berita yang tidak jelas juntrungannya, hingga penipuan dengan social engineering menjadi marak di masyarakat kita.

Berapa banyak di antara kita yang lebih sering sibuk dengan ponsel masing-masing bahkan ketika ada teman-teman atau keluarga di sekitar kita? Saat saya menulis ini, minimal satu orang di tiap meja kafe memegang ponselnya, yang besar kemungkinannya sedang digunakan untuk bersosialisasi di dunia maya. Apakah ketidakmampuan kebanyakan dari kita untuk berdiskusi dan berdebat secara sehat memang berpangkal pada minimnya dialog tatap muka yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari?

Mungkinkah media sosial telah menjadi tabir yang mengaburkan konsekuensi sosial dan moral?

Saya Berpikir dan Bertanya

Semakin ke sini, kebiasaan kita yang selama ini terlalu sering mengasosiasikan sesuatu dengan simbol terlihat makin menjadi. Maksudnya begini, kita itu, sadar atau tidak, sering terpaku pada hal-hal yang kasatmata saja. Orang yang naik haji langsung dianggap saleh; teman-teman yang berkacamata kita anggap kutu buku; dan mereka yang bertato mesti orang jahat.

Yang paling gawat dari itu semua sebetulnya adalah betapa mudahnya kita kemudian dipengaruhi oleh sajian media. Dengan derasnya arus informasi saat ini, tidak hanya media massa, tetapi juga media sosial telah membuat banyak dari kita yang terlalu cepat melabeli seseorang. Si A begini lah, si B begitu lah. Kita seolah jadi yang paling jago dalam mengklasifikasikan orang-orang tersebut. Eh, apa jangan-jangan tulisan ini juga jadi seperti itu ya? Hahaha…

Anyway, pola pikir yang simplistik dengan asosiasi simbol tersebut akhir-akhir ini jadi sesuatu yang membuat saya agak gerah. Lucu saja melihatnya ada beberapa orang yang dengan mudahnya mengkultuskan seseorang, demikian sebaliknya. Kok ya tidak mau dicoba ditelisik dulu begitu?

Sebagai bagian dari umat Islam, saya sering sedih karena makin ke sini makin banyak orang yang terpaku pada saleh ritual saja dan mengesampingkan saleh sosial. Menurut hemat saya, pelabelan dan asosiasi simbol tadi adalah contoh-contoh kemunduran kesalehan sosial di masyarakat kita. Padahal, bukankah junjungan kita selalu menunjukkan kesalehan sosial dalam kehidupannya sehari-hari? Tak hanya ibadahnya yang tak tertandingi, tapi sejak muda pun beliau sudah dijuluki sebagai Al-Amin — orang yang dapat dipercaya. Lantas, mengapa kita sekarang senangnya berkubang dalam arus informasi yang kadang tak jelas sumbernya?

Terkait arus informasi ini, kita memang tak bisa lepas dari bahasan siapa sumbernya. Nah, seperti halnya saleh ritual dan saleh sosial tadi, sumber informasi ini juga punya dua dimensi yang prinsipil: jujur dan cerdas. Mungkin saja informasi yang disampaikan tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi, tapi bukan tidak mungkin kan bahwa informasinya sudah salah dari hulunya? Jadi, si penyampai/penerus pesan sebetulnya memang orang baik, tapi dia mungkin tidak cukup cerdas untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah. Hoax, istilahnya yang lebih populer sekarang.

Demikian juga sebaliknya. Bisa jadi informasi awalnya mengandung kebenaran, tapi si penyampai/penerus pesan malah melebih-lebihkannya. Seolah-olah dia punya informasi yang orang lain belum punya. Biar terlihat beda gitu.

Bulan yang penuh berkah ini sudah seharusnya jadi masa bagi kita untuk introspeksi. Sudahkah kita bisa lebih menyaring informasi dengan lebih baik? Apakah apa yang kita sampaikan ke orang lain itu sebetulnya akan berujung pada kebaikan atau malah hanya akan jadi sumber perpecahan?

Mari belajar untuk lebih berpikir dan bertanya.

Bulan Itu Lagi

Sudah bulan itu lagi. Terakhir bertemu itu ketika saya sedang tidak berada di tanah air. Meski jadi minoritas, rasanya damai sekali. Menahan lapar dan dahaga selama hampir 20 jam pun tidak terasa begitu memberatkan.

Tahun ini, ada kegelisahan saat menuju bulan yang penuh berkah ini. Beredarnya kabar-kabar tidak mengenakkan di berbagai penjuru dunia membuat saya benar-benar berharap bulan ini bisa membantu meredam itu semua. Semoga bulan ini bukan sekadar menundanya, tetapi juga menyadarkan kita dan menjauhkan kita dari permusuhan yang tidak seharusnya terjadi.

And when they hear ill speech, they turn away from it and say, “For us are our deeds, and for you are your deeds. Peace will be upon you; we seek not the ignorant.”

— QS. 28:55

Beberapa minggu terakhir memang banyak hal yang memenuhi pikiran saya. Ingin sekali dituangkan, tetapi rasanya yang ada hanya akan jadi emosi sesaat saja. Pedih, tapi sungguh tak ingin menularkannya pada sesama.

Mungkin bukan waktunya. Mungkin bukan tempatnya.

And the servants of the Most Merciful are those who walk upon the earth easily, and when the ignorant address them [harshly], they say [words of] peace,

— QS. 25:63

 

Fresh Install

Akhirnya, setelah hampir setahun, saya menginstal ulang Ubuntu di laptop. Ada perasaan menyenangkan setiap kali melakukan instal ulang ini. Fresh. Banyak hal-hal yang selama ini terasa sayang dibuang jadi mau-tidak-mau ikut terbuang. Dengan begitu jadi lebih banyak ruang kosong yang tersisa di harddisk yang tak seberapa besar ini. 😀

Karena saya terbiasa menggunakan Ubuntu versi LTS (Long-Term Support), jadi biasanya ini saya lakukan setiap dua tahun sekali. Meski begitu, terkadang saya menginstal ulang kurang dari kurun waktu tersebut — tergantung apakah laptopnya sedang berulah atau tidak. Karena, toh, dukungan untuk pembaruan Ubuntu LTS diberikan sampai lima tahun sejak rilisnya versi tersebut.

Faktanya, kita mungkin sudah menjadi digital hoarders sekarang. Banyak foto-foto, dokumen-dokumen, dan berbagai macam berkas lainnya yang kita tumpuk di dalam komputer. Padahal, mungkin berkas-berkas tersebut sudah tidak relevan lagi — sudah usang.

Makanya, setelah proses backup dilakukan, biasanya tidak semuanya saya restore kembali setelah proses instal ulang OS selesai. Ada berkas-berkas yang sengaja saya simpan di media eksternal dan ditinggalkan di sana. Jadi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tetap bisa diambil. By the way, Back In Time adalah kakas yang cocok sekali untuk kebutuhan ini. Recommended!

Seberapa sering Anda menginstal ulang OS Anda?

Menyunting

Ya, “menyunting”, bukan “mempersunting”. 😛

Dalam menulis blog ini, sebetulnya jarang sekali saya melakukan penyuntingan kembali. Apa yang terpikir, segera saja dituangkan dalam tulisan untuk kemudian langsung dipublikasi. Tak jarang, setelah melihat kembali tulisan-tulisan saya setelah beberapa waktu berlalu, saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang padu atau mungkin beberapa kesalahan ketik.

Bagi saya, ini hal yang sangat wajar untuk terjadi. Meski begitu, saya selalu berusaha untuk membuat tulisan-tulisan saya enak untuk dibaca sehingga lebih mudah tersampaikan pesannya kepada para pembaca. Masalahnya, kalau pola pikir seperti ini juga dibawa-bawa ke penulisan di media massa, repot jadinya.

Salah satu peran media massa adalah membentuk kebiasaan berbahasa dari para pemirsanya. Jika yang dijadikan panutan saja ternyata abai dalam berbahasa yang baik dan benar, bagaimana bahasa yang katanya pemersatu bangsa itu bisa dipelihara? Dengan mudahnya setiap orang bertindak laiknya media massa, tidak mengherankan jika kemampuan berbahasa banyak orang pun menjadi semakin membuat miris.

Ini baru urusan redaksi ya, belum lagi kalau kita bicara soal konten. Semakin ke sini, kelihatannya beberapa awak media makin tak peduli dengan akurasi dari konten yang diterbitkan. “Yang penting rilis dulu,” begitu katanya. Tentu tidak sedikit kasus-kasus di lapangan yang kita lihat sebagai akibat dari ketidakakuratan konten-konten di media tersebut.

Apakah hal seperti ini harus dibiarkan terus?