“Saya Suka Kemewahan”

Sudah cukup lama juga tidak mengisi blog ini lagi. Saya sedang sangat sibuk akhir-akhir ini. Kalau ditotal, mungkin saya menghabiskan lebih dari 40 jam dalam seminggu untuk bekerja. Melelahkan memang hingga beberapa kali saya jadi kurang fit, tapi ya alhamdulillah masih bisa dijalani meski kualitasnya memang tampaknya jadi sedikit menurun. Jadi, saya memang perlu belajar mendelegasikan pekerjaan tampaknya.

Anyway, saya jadi baru menyadari bahwa mungkin di satu titik harga yang mahal itu memang jadi pantas untuk dibayar karena jaminan yang tidak bisa diberikan oleh yang lebih murah. Sebagai contoh, saya beberapa kali mulai memilih untuk naik taksi karena meski lebih mahal, tapi saya bisa sambil beristirahat dan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk sampai tujuan. Sebagian dari Anda juga mungkin sudah tidak sungkan lagi untuk membayar lebih mahal demi mendapatkan kenyamanan lebih, misalnya saat memesan makanan menggunakan ojek online. Artinya, Anda sudah menganggap bahwa duduk-duduk santai di rumah atau sambil meneruskan pekerjaan di kantor lebih mahal atau minimal sepadan harganya dengan ongkos pengiriman makanan dengan ojek tersebut.

Intinya, yang orang-orang bayar mahal itu terkadang bentuknya tidak kasat mata. Anda membayar kepastian, i.e. mengurangi risiko, dan kepastian itu bentuknya tak selalu sama. Orang-orang yang bayar kuris kelas bisnis di pesawat itu boleh jadi tujuannya adalah agar punya ruang kaki yang lebih lega dan meja yang nyaman untuk menyicil pekerjaan selama penerbangan. Mereka yang beli sepatu yang lebih mahal itu tentu saja berharap bahwa sepatu tersebut tahan beberapa tahun lebih lama dibandingkan sepatu yang biasa mereka beli selama ini.

Hal ini adalah proses kok. Tidak apa-apa untuk berawal dari barang atau layanan yang lebih murah dulu. Namun, Anda mungkin perlu menyadari kelak bahwa ada hal-hal yang di kemudian hari tidak bisa ditawar lagi dan itu berimplikasi pada harga yang lebih mahal.

Saat saya membuat tulisan ini, saya sedang tidak bisa tidur dalam perjalanan kereta eksekutif menuju ke Bandung untuk menjajaki suatu kerja sama penelitian. Kalau lah saya beli yang ekonomi, mungkin saya tidak akan bisa duduk senyaman ini. Lantas, besok saya badan saya bisa jadi pegal-pegal dan tidak fit saat bertemu dengan calon rekan kerja tersebut. Malah tujuan utamanya tidak tercapai kan? Padahal, beberapa waktu yang lalu mungkin saya akan lebih memilih kereta ekonomi saja selama masih ada di waktu yang saya butuhkan. Saya juga mungkin masih rela-rela saja mengejar pesawat paling pagi dengan alasan harganya lebih murah. Jadi, ini tidak selalu tentang bermewah-mewahan.

Apakah Anda suka kemewahan?

 

Iklan

Tick-Tock

Entah mengapa manusia selalu terobsesi untuk bisa mengukur semua hal. Semua menjadi relatif. Kita mungkin hanya satu-satunya spesies yang sibuk menghitung satu hari sebagai dua-puluh-empat jam. Pertanyaannya kemudian, mengapa harus 24 jam?

Kalau lah Anda bisa menjawab mengapa harus 24 jam, maka pertanyaan saya berikutnya adalah apa itu satu jam?

“Satu jam itu 60 menit.” Maka, apa itu satu menit? Lalu, apa itu satu detik?

A second is defined as: “9,192,631,770 periods of the radiation corresponding to the transition between the two hyperfine levels of the ground state of the caesium-133 atom.”

Aih, betapa memusingkannya definisi yang katanya standar itu. Berapa lah dari kita yang tahu atom caesium itu sifatnya seperti apa? Siapa pula yang paham angka 9 milyar itu harus ditafsirkan bagaimana? Bukankah kita tinggal melihat bergeraknya jarum jam untuk mengetahui pergerakan detik dan menit?

Konsep waktu pada dasarnya adalah tanda-tanda alam yang diterjemahkan sebagai angka-angka. Ukuran relatif yang zahir bagi manusia pada akhirnya hanyalah waktu yang diperlukan dari satu purnama hingga purnama berikutnya — yang kita sebut sebagai satu bulan, dan pergantian malam dan siang yang kita jadikan sebagai satu hari. Lantas, apa yang membuat kita ripuh dengan pengukuran waktu itu? Apa sebenarnya hakikat waktu bagi kita?

Ingin tahu makna waktu satu tahun? Tanyalah kepada siswa yang gagal dalam ujian kenaikkan kelas.

Ingin tahu makna waktu satu bulan? Tanyalah kepada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Ingin tahu makna waktu satu minggu? Tanyalah kepada editor majalah.

Ingin tahu makna waktu satu hari? Tanyalah kepada pekerja dengan upah harian.

Ingin tahu makna waktu satu jam? Tanyalah kepada seorang gadis yang menunggu kekasihnya.

Ingin tahu makna waktu satu menit? Tanyalah kepada seseorang yang ketinggalan kereta.

Ingin tahu makna waktu satu detik? Tanyalah kepada seseorang yang selamat dari kecelakaan.

Ingin tahu makna waktu satu milidetik ? Tanyalah kepada seorang pelari peraih medali olimpiade.

Namun, sesibuk-sibuknya kita mencoba memberikan makna terhadap waktu, toh bunga-bunga itu tak pernah luput dari waktunya untuk mekar. Mereka seakan paham bahwa musim semi sudah tiba dan sudah waktunya bagi mereka untuk memunculkan warna-warna indahnya. Kelak, ketika musim dingin kembali, mereka pun kembali “bersembunyi” — bersabar menunggu siklus hidup berikutnya.

Herannya, kita malah menjadi paranoid, memanfaatkan berbagai teknologi untuk dapat “membekukan” waktu. Foto-foto dan video yang tersimpan dengan rapi di media sosial, jurnal yang kita rangkai di blog setiap harinya, hingga ribuan cuitan yang diketik dari layar ponsel adalah sebagian dari usaha kita untuk memampatkan fenomena hidup. Tak jarang kita jadi sedemikian gelisah untuk merekam semua kejadian tersebut sampai-sampai kita jadi lupa untuk hidup di masa itu. Living the moment.

Kita ingin semuanya tersimpan rapi, berurut berdasarkan waktu, untuk kemudian dibuka kembali pada masa yang akan datang sebagai kapsul waktu. Akan tetapi, tidakkah kemudian kita jadi terlalu sibuk menggulung layar, hidup dalam masa lalu, dan — meminjam syair dari penyanyi terkenal itu — terjebak di ruang nostalgia? Apa iya waktu kita baru jadi bernilai saat diterjemahkan sebagai jumlah “love” yang muncul di pos-pos Path kita atau jempol-jempol maya di Facebook? Bukankah kebanyakan yang kita lihat di dunia maya adalah sesuatu yang terjadi beberapa detik yang lalu?

Jangan-jangan hidup kita justru lebih bermakna ketika tidak memusingkan waktu?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Privacy vs Convenience

Pernah tidak di ponsel Anda tiba-tiba muncul pesan “ETA 30 minutes to home”? Atau bagi yang penggemar sepak bola, Anda mungkin pernah dapat notifikasi saat tim kesayangan Anda akan bertanding? Itu adalah bentuk assistance yang diberikan oleh Google untuk Anda.

Masalahnya, supaya Google dapat melakukan itu, mereka perlu tahu Anda sedang berada di mana, dan apa yang menjadi tim favorit Anda, yang artinya Google mencoba mempelajari Anda. Apakah ini salah? Di Indonesia, privasi mungkin belum menjadi perhatian utama banyak orang. Di UK, misalnya, setiap situs yang Anda kunjungi memunculkan sebuah peringatan bahwa Anda sadar perilaku Anda sedang direkam oleh situs tersebut dan Anda setuju terhadap hal itu.

Apa gunanya merekam semua hal itu?

Di dunia yang semakin canggih ini, dengan arus informasi yang semakin menggila, para produsen butuh untuk menemukan pasar yang tepat bagi produk mereka. Targeted ads, istilah kerennya. Anda mungkin sempat bertanya-tanya mengapa setelah Anda melihat-lihat ponsel di toko online, Facebook kemudian memunculkan produk yang serupa dalam iklannya? Itulah dampak dari metode marketing mutakhir ini. Gerak-gerik Anda di internet selalu ada yang mengawasi.

Dengan terkoneksinya ponsel Anda ke internet, maka setiap perilaku Anda pun sebenarnya bisa diamati. Ke mana Anda pada jam 10 pagi di hari Rabu yang lalu bisa saja terekam dengan baik oleh perusahaan di belahan dunia lain. Sepotong pesan yang Anda tulis untuk sang kekasih di malam Minggu dua pekan yang lalu terekam dengan baik di data centre berkapasitas ratusan, bahkan ribuan, terabyte.

Anda tentu pernah mencari informasi tentang teman atau gebetan Anda melalui akun media sosialnya kan? Proses pencarian informasi yang lazim dikenal dengan nama stalking ini tidak sulit untuk Anda lakukan bukan? Cari nama orang tersebut di Google, atau bahkan langsung ke Facebook, lihat beberapa pos dan fotonya, sejurus kemudian Anda sudah mendapatkan gambaran umum orang seperti apa yang ingin Anda kenal lebih jauh ini.

Sekarang, bayangkan kalau semua itu dilakukan oleh mesin. Dari 200 cuitan Anda terakhir di Twitter, mesin tersebut mencoba mengekstraksi topik-topik apa saja yang senang Anda bahas, siapa saja akun yang Anda follow, dan kapan waktu-waktu Anda paling sering “berkicau”. Bukankah mudah kemudian untuk menerapkan targeted ads ini kepada diri Anda?

Meski ada kesan mengerikan dari itu semua, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sistem yang seperti itu yang bisa membantu Anda dalam hidup. Contohnya, Anda baru membeli kamera DSLR dan ingin belajar lebih serius tentang fotografi. Tidakkah jadi menyenangkan ketika kemudian Anda disodori iklan tentang lensa tele menarik yang bisa melengkapi kamera Anda?

Jadi, apakah kenyamanan tersebut harus selalu ditukar dengan privasi Anda?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Persiapan Kuliah

Besok semester baru sudah dimulai di Universitas Al Azhar Indonesia tempat saya mengajar sekarang. Kebetulan, di semester ini saya akan dapat dua mata kuliah: Artificial Intelligence dan Data Mining. Dua-duanya merupakan kelas paling pagi — mulai dari jam 7 — dan akan berupa team teaching.

Yang lebih menarik, semester ini untuk kedua kuliah tersebut akan ada asisten untuk membantu mengerjakan banyak hal dan mengembangkan kuliahnya dengan lebih baik lagi. Berbekal feedback dari semester kemarin yang mengatakan bahwa kurang contoh-contoh dan praktikum, maka adanya asisten di semester ini diharapkan bisa mengisi kekosongan tersebut. Di samping itu, asisten bisa menjadi tolok ukur awal untuk tugas atau ujian yang akan diberikan supaya bisa menyesuaikan dengan kemampuan mahasiswanya.

Mengajar itu memang tidak pernah urusan yang mudah. Mereka yang jadi pengajar terbaik di bidangnya selalu berkembang dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, bidang yang saya geluti berubah sangat cepat, maka memastikan bahwa materi yang disampaikan itu termutakhir merupakan suatu keharusan.

Ada beberapa target yang saya tetapkan di semester ini. Salah satu yang ingin dicapai adalah meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk menulis akademis. Oleh karena itu, kuliah Artificial Intelligence nanti akan ada tugas khusus untuk menulis makalah yang diharapkan bisa dipublikasi, minimal tingkat nasional. Saya juga ingin mencoba membuat sesi poster seperti halnya kelas CS229: Machine Learning dari Stanford University. Should be exciting!

Untuk sekarang, saya perlu belajar lagi untuk beberapa materi baru di semester ini.

Self-Interest, Rationale, Decision Making

Apakah manusia itu pada dasarnya egois?

Apa yang menjadi dasar kita sebagai manusia dalam mengambil sebuah keputusan? Keuntungan pribadi? Keuntungan kelompok? Apakah semua keputusan dalam hidup hanya diambil berdasarkan asas untung-rugi?

Game theory merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi antaragen dalam suatu situasi atau permainan. Dengan asumsi mendasar bahwa setiap agen itu hanya ingin memaksimalkan self-interest, kita justru berujung pada kasus seperti Prisoner’s Dilemma. Sama-sama ingin untung sendiri malah mengakibatkan kita menjadi rugi. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Dalam game theory juga dijelaskan bahwa banyak sekali permainan yang bisa dijabarkan dalam bentuk extensive form — membuka seluruh state yang ada untuk mengetahui ujung dari permainan. Teorinya, ketika sudah tahu ujung dari permainan, harusnya kita bisa tahu bagaimana mencapai ke ujung permainan tersebut dan bagaimana mencari strategi supaya ujung permainan tersebut menguntungkan bagi kita. Jadi, teorinya kita bisa memenangkan setiap permainan catur melawan orang lain jika kita menggunakan bantuan komputer.

Faktanya, komputer sampai detik ini belum sanggup menjabarkan seluruh state yang ada. Namun, komputer tetap berhasil menang melawan manusia. Loh, kok begitu?

Dengan menggunakan ilmu probabilitas dan statistik, pemodelan matematis, dan mekanisme reward and punishment, seluruh state yang ada itu ternyata tidak segitu perlunya untuk diketahui. Keterbatasan manusia ini diperkenalkan kepada komputer sehingga ia bisa belajar seperti manusia (termasuk kasus error-nya). Kemampuan komputasi yang tinggi secara paralel dan daya tampung memorinya yang besar membuat komputer bisa mengalahkan manusia di permainan catur — ia belajar dari yang terbaik.

Konsep reward and punishment dalam reinforcement learning menggeser cara belajar komputer dari yang harus mengetahui output-nya menjadi umpan balik apa yang didapatkan ketika mengambil suatu aksi. Jadi, untuk setiap langkah yang saya mainkan, apakah ada bidak yang saya bisa makan? Atau apakah bidak saya kemudian akan dimakan? Lalu, dengan keterbatasan pengetahuan akan universe dari state tadi, kapan kita harus mengeksploitasi suatu aksi dan kapan kita harus mengeksplorasi jenis aksi yang baru untuk memaksimalkan keuntungan kita?

Untuk setiap aksi yang kita lakukan dalam dunia nyata, ternyata ini tidak sekadar masalah memaksimalkan keuntungan saja. Ada keterbatasan sumber daya yang harus kita pertimbangkan. Tragedy of the commons menceritakan bahwa eksploitasi yang berlebihan untuk dapat memaksimalkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan keterbatasan sumber daya itu ternyata bisa berakibat pada kerugian untuk semua orang.

Ambil contoh kasus order fiktif Go-Jek. Asumsi saya ceritanya seperti ini,

“Seorang pengendara mencoba mencurangi Go-Jek dengan membuat order fiktif. Hey, ternyata sistemnya bisa dicurangi. Saya tidak ketahuan. Dari satu orang itu kemudian mencoba mengabari kepada beberapa orang teman terdekatnya bahwa sistemnya ternyata punya celah. Maka, mulailah ada beberapa orang yang mencurangi sistemnya. Ketika sistem itu sudah terlalu banyak dicurangi, maka perusahaan pun merugi. Akibatnya, banyak pengemudi yang di-PHK dan sisanya dikurangi kompensasinya.”

Semua jadi rugi kan?

“Hal yang sama juga terjadi pada kasus kemacetan, pencemaran sungai, dan — yang paling mahal harganya — kepercayaan. Coba perhatikan, betapa kita tidak percaya pada partai politik sekarang, atau betapa tidak percayanya kita pada klaim harga-murah-tapi-bersyarat-dan-terbatas dari provider telekomunikasi. Tentu saja — seharusnya — ada orang-orang baik yang berkiprah di bidang politik dan tidak semua iklan provider telekomunikasi berbohong. Masalahnya, karena ada yang berbohong, kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak tersebut menjadi terkikis, bahkan habis.”

Jadi, apa yang seharusnya menjadi dasar dalam pengambilan keputusan kita dalam hidup?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

How Time Has Transformed Technology

Seperti Moore’s Law, “The number of transistors per square inch on integrated circuits had doubled every year since the integrated circuit was invented.” Kita bisa lihat di sekeliling bahwa sekarang komputer saja sudah bisa mengalahkan Go — permainan dengan state papan yang konon kabarnya melebihi state permainan catur. Komputer sudah semakin pintar, ia bisa mendeteksi apakah ada kucing di suatu gambar. Hell, bahkan komputer bisa memberi tahu kita itu kucing jenis apa.

Itu juga menjelaskan bahwa komputer sudah semakin pintar berinteraksi dengan gambar. Komputer sudah punya “mata”. Enggak usah jauh-jauh, ponsel yang kalian gunakan sekarang itu komputasinya lebih canggih dari komputer yang digunakan di misi Apollo 11, dan ponsel kalian punya kamera yang tak kalah canggihnya!

Tidak berhenti di situ, komputer juga punya “telinga” dan “mulut”. Kalian tahu Siri, Cortana, atau Google Now kan? Meski belum bisa banyak bahasa, tapi “mesin-mesin” itu telah mampu berkomunikasi dengan manusia. Paling tidak mereka bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti “mau makan di mana?” atau “apakah hari ini akan hujan?” Misi Google semakin ke sini adalah sebagai asisten, bukan lagi sebagai mesin yang mengolah query dan menyodorkan jawaban — mereka mencoba membantu “memilihkan” jawaban.

Mungkin kalian tidak heran sekarang dengan komputer yang punya tangan dan kaki, atau yang kalian lebih kenal dengan nama robot. So, let’s skip that part.

Lalu, apakah komputer punya indra perasa dan pembau seperti kerjanya lidah dan hidung? Kalian pernah dengar mesin namanya mass spectrometer? Mesin canggih itu bisa menguraikan bahan-bahan yang terkandung dalam suatu produk. But, you’ve spotted the point.

Meski bisa mengurainya, mesin tidak punya persepsi rasa “enak” dan “tidak enak”. Walau bisa menentukan jenis kucing dalam gambar, mesin masih belum bisa menentukan apakah kucing itu “lucu” atau “tidak”. Biarpun sudah bisa ngobrol dengan manusia, komputer (mungkin) belum tahu apakah yang diajak ngobrol itu sakit hati atau tidak, maka jangan heran ketika Tay yang dibuat Microsoft berubah menjadi “monster”.

Jadi, apakah mesin akan bisa menyamai manusia? Apakah mesin bisa berpikir seperti manusia? Meminjam kata-kata yang terpampang di Manchester Art Gallery,

“In order to build a machine that can compare to a human, do we first need to see, know and understand ourselves better? If so, what does it mean to be human?”

Kalau memang Tay sudah menjawab bahwa mesin mampu berpikir seperti manusia, apakah ternyata manusia zaman sekarang itu sudah seperti “monster” yang mereka ciptakan?

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu premis untuk proyek pameran seni digital yang sempat dirumuskan beberapa waktu yang lalu. Sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk membuat ide ini menjadi nyata.

Follow Back

Anda pernah bertemu dengan orang terkenal di tempat umum? Pesohor layar kaca, misalnya, atau pun mereka yang popular di media sosial, yang biasanya lebih dikenal dengan nama selebtwit atau selebgram. Pernah merasa aneh tidak?

Maksudnya, kan kita sering memperhatikan mereka ya. Ditambah lagi, tak jarang dari mereka yang gampang dijangkau juga dari akun media sosialnya sehingga kita tahu mereka habis pelesir ke mana, bertemu dengan siapa, bahkan baru makan apa siang itu. Menariknya, mereka tidak tahu siapa kita sema sekali. Bahkan sekadar nama pun tidak.

Kesannya, kita seperti bertemu teman lama yang mengalami amnesia. Kita seolah sudah tahu luar-dalam, baik-buruk, hingga kelebihan-kekurangannya, tapi dia sama sekali tidak bisa ingat kita. Komentar kita di media sosial mereka saja belum tentu dibaca, boro-boro mau ingat siapa kita.

Ini yang membuat saya makin heran lagi dengan konsep follow back. Buat apa sih sebenarnya? Memangnya hidup kita sepenting itu ya sampai dia harus follow? Berbeda dengan Facebook yang sifatnya two-way handshake, Twitter dan Instagram memang didesain untuk membebaskan kita mengikuti siapa yang memang menarik, apa pun itu alasannya. Mana mau lah selebritas itu mendengarkan keluhan kita akan teman kita yang ternyata senang menggosipkan kita di belakang.

Apa yang menjadi alasan Anda meminta seseorang untuk follow back?

P.S. Saya baru tahu kalau selebriti yang merupakan bentuk baku dalam KBBI IV ternyata menjadi tidak baku lagi di KBBI V. Bentuk bakunya berubah menjadi selebritas.