Saya Berpikir dan Bertanya

Semakin ke sini, kebiasaan kita yang selama ini terlalu sering mengasosiasikan sesuatu dengan simbol terlihat makin menjadi. Maksudnya begini, kita itu, sadar atau tidak, sering terpaku pada hal-hal yang kasatmata saja. Orang yang naik haji langsung dianggap saleh; teman-teman yang berkacamata kita anggap kutu buku; dan mereka yang bertato mesti orang jahat.

Yang paling gawat dari itu semua sebetulnya adalah betapa mudahnya kita kemudian dipengaruhi oleh sajian media. Dengan derasnya arus informasi saat ini, tidak hanya media massa, tetapi juga media sosial telah membuat banyak dari kita yang terlalu cepat melabeli seseorang. Si A begini lah, si B begitu lah. Kita seolah jadi yang paling jago dalam mengklasifikasikan orang-orang tersebut. Eh, apa jangan-jangan tulisan ini juga jadi seperti itu ya? Hahaha…

Anyway, pola pikir yang simplistik dengan asosiasi simbol tersebut akhir-akhir ini jadi sesuatu yang membuat saya agak gerah. Lucu saja melihatnya ada beberapa orang yang dengan mudahnya mengkultuskan seseorang, demikian sebaliknya. Kok ya tidak mau dicoba ditelisik dulu begitu?

Sebagai bagian dari umat Islam, saya sering sedih karena makin ke sini makin banyak orang yang terpaku pada saleh ritual saja dan mengesampingkan saleh sosial. Menurut hemat saya, pelabelan dan asosiasi simbol tadi adalah contoh-contoh kemunduran kesalehan sosial di masyarakat kita. Padahal, bukankah junjungan kita selalu menunjukkan kesalehan sosial dalam kehidupannya sehari-hari? Tak hanya ibadahnya yang tak tertandingi, tapi sejak muda pun beliau sudah dijuluki sebagai Al-Amin — orang yang dapat dipercaya. Lantas, mengapa kita sekarang senangnya berkubang dalam arus informasi yang kadang tak jelas sumbernya?

Terkait arus informasi ini, kita memang tak bisa lepas dari bahasan siapa sumbernya. Nah, seperti halnya saleh ritual dan saleh sosial tadi, sumber informasi ini juga punya dua dimensi yang prinsipil: jujur dan cerdas. Mungkin saja informasi yang disampaikan tidak dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi, tapi bukan tidak mungkin kan bahwa informasinya sudah salah dari hulunya? Jadi, si penyampai/penerus pesan sebetulnya memang orang baik, tapi dia mungkin tidak cukup cerdas untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah. Hoax, istilahnya yang lebih populer sekarang.

Demikian juga sebaliknya. Bisa jadi informasi awalnya mengandung kebenaran, tapi si penyampai/penerus pesan malah melebih-lebihkannya. Seolah-olah dia punya informasi yang orang lain belum punya. Biar terlihat beda gitu.

Bulan yang penuh berkah ini sudah seharusnya jadi masa bagi kita untuk introspeksi. Sudahkah kita bisa lebih menyaring informasi dengan lebih baik? Apakah apa yang kita sampaikan ke orang lain itu sebetulnya akan berujung pada kebaikan atau malah hanya akan jadi sumber perpecahan?

Mari belajar untuk lebih berpikir dan bertanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s