Menyunting

Ya, “menyunting”, bukan “mempersunting”. šŸ˜›

Dalam menulis blog ini, sebetulnya jarang sekali saya melakukan penyuntingan kembali. Apa yang terpikir, segera saja dituangkan dalam tulisan untuk kemudian langsung dipublikasi. Tak jarang, setelah melihat kembali tulisan-tulisan saya setelah beberapa waktu berlalu, saya menemukan beberapa kalimat yang terasa kurang padu atau mungkin beberapa kesalahan ketik.

Bagi saya, ini hal yang sangat wajar untuk terjadi. Meski begitu, saya selalu berusaha untuk membuat tulisan-tulisan saya enak untuk dibaca sehingga lebih mudah tersampaikan pesannya kepada para pembaca. Masalahnya, kalau pola pikir seperti ini juga dibawa-bawa ke penulisan di media massa, repot jadinya.

Salah satu peran media massa adalah membentuk kebiasaan berbahasa dari para pemirsanya. Jika yang dijadikan panutan saja ternyata abai dalam berbahasa yang baik dan benar, bagaimana bahasa yang katanya pemersatu bangsa itu bisa dipelihara? Dengan mudahnya setiap orang bertindak laiknya media massa, tidak mengherankan jika kemampuan berbahasa banyak orang pun menjadi semakin membuat miris.

Ini baru urusan redaksi ya, belum lagi kalau kita bicara soal konten. Semakin ke sini, kelihatannya beberapa awak media makin tak peduli dengan akurasi dari konten yang diterbitkan. “Yang penting rilis dulu,” begitu katanya. Tentu tidak sedikit kasus-kasus di lapangan yang kita lihat sebagai akibat dari ketidakakuratan konten-konten di media tersebut.

Apakah hal seperti ini harus dibiarkan terus?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s