Go-Hackathon

Akhir minggu kemarin, saya ikut hackathon yang diadakan oleh Go-Jek. Awalnya, saya diajak oleh teman-teman satu almamater saat S2 dulu. Karena memang kebetulan lagi agak senggang mengingat akan libur kuliah juga, jadi saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan tersebut. Sekalian, karena mereka dari bidang Design Informatics, saya berharap bisa menghasilkan sesuatu yang menarik – yang lebih tangible.

Hackathon kali ini berlangsung di kantor Go-Jek yang baru di bilangan Blok M. Karena tidak terlalu jauh dari rumah, jadi saya tidak perlu repot-repot mencari transportasi menuju tempat tersebut. Saya sendiri tiba di lokasi sekitar pukul 10 lewat, saat kebanyakan peserta ternyata sudah di dalam ruang auditorium untuk briefing awal. Jadi, saya pun langsung menuju lantai 7 bersama rekan setim yang sudah menunggu.

Kesan Awal

Kantornya menarik! Terlihat sekali bahwa hackathon ini dipersiapkan dengan sangat baik. Dekorasi yang dipersiapkan untuk kompetisi, papan nama tim di tiap area kerja, suplai makanan dan minuman enak, hingga ruang game membuat hackathon ini terasa cukup menyenangkan. Ini mengingatkan saya akan hackathon saat di J.P. Morgan tahun 2015 yang lalu dengan semua fasilitas yang disediakan. Bahkan, pihak Go-Jek menyediakan layanan Go-Massage secara cuma-cuma untuk para peserta di jam-jam tertentu. Well done!

Sayangnya, Go-Jek tidak menyediakan data maupun alat untuk digunakan. Artinya, semua kebutuhan ngoprek harus dipersiapkan oleh peserta sendiri. Meski begitu, ini juga berarti kebebasan bagi peserta untuk menentukan “mainan” mereka masing-masing, dan tidak harus terkait dengan Go-Jek.

Ngoprek!

Sehari sebelum acara berlangsung, berdasarkan rekomendasi seorang teman, saya memutuskan untuk membeli alat untuk EEG (electroencephalogram). Ide awal kami memang sudah ingin mempromosikan berkendara dengan aman, tapi saat itu data yang diambil baru didasarkan pada detak jantung dari gawai seperti Fitbit atau Mi Band saja. Nah, EEG ini tentu akan membuatnya jadi lebih canggih, karena kita bisa mengambil kondisi dari orang tersebut, misalnya dari sisi fokus atau ketenangannya.

Untungnya, tidak perlu waktu yang terlalu lama bagi saya untuk bermain dengan SDK yang disediakan oleh NeuroSky, produsen dari alat EEG yang kami pakai. Dengan dokumentasi yang baik dan contoh kode yang cukup jelas, saya yang sejak awal ditugaskan untuk mengerjakan aplikasi mobile, berhasil mendapatkan data yang dibutuhkan untuk melakukan inferensi tersebut. Namun, karena kami tidak punya data latih, akhirnya saya membuat versi sederhana dari fuzzy logic untuk proses pengambilan kesimpulannya. Untuk yang ingin melihat teknisnya, silakan buka tautan ini.

Aplikasi mobile ini sendiri saya namakan Cerebro, karena alat EEG yang digunakan mengingatkan saya pada Cerebro yang diciptakan oleh Professor X dan Magneto di komik X-Men. Memang, fungsi jauh dari Cerebro yang sebenarnya. Namun, karena sama-sama menggunakan gelombang otak, boleh lah ya? 😀

NeuroSky
Sudah mirip James McAvoy belum? :mrgreen:

Para Juara

Alhamdulillah, ide tim kami masuk enam besar. Saya sangat berharap sekali untuk memenangkan kompetisi ini. Supaya balik modal ceritanya. 😀 Sayangnya, ternyata lawan-lawan kami cukup tangguh. Ide-idenya brilian dan aplikatif. Saya salut sekali!

Juara ketiga membawa ide klasifikasi gambar makanan menggunakan Convolutional Neural Networks. Canggih. Dengan membungkus algoritma klasifikasi gambar yang sedang populer tersebut sebagai web service, mereka berhasil mengklasifikasikan gambar ayam bakar, nasi goreng, gado-gado, dan sekitar sepuluh jenis makanan lainnya dengan akurasi hingga 80%. Tim yang hanya terdiri dari dua orang ini jelas memancing rasa penasaran para juri dengan penggunaan elemen state-of-the-art. Bravo!

Juara kedua ini sebetulnya punya ide head-to-head dengan tim kami. Bedanya, mereka benar-benar ngoprek dari awal. Menggunakan mikrokontroler Arduino, mereka membuat helm cerdas yang bisa mendeteksi jika terjadi kecelakaan atau jika pengendara melaju terlalu kencang. Tak ayal, hasil kerja mereka pun diganjar Macbook Pro bagi masing-masing anggota tim.

Nah, juara pertama ini sebenarnya sudah saya takutkan sejak awal. Tim yang terdiri dari adik-adik kelas saya di Informatika ITB ini namanya memang sudah langganan dalam memenangkan kompetisi semacam ini. Terbukti, ide mereka untuk menggabungkan keberadaan sopir Go-Jek yang berada di mana-mana dan penggunaan beacon berbasis bluetooth untuk mencari barang hilang berhasil membawa mereka mendapatkan posisi puncak. Mereka pun pulang Rp 120 juta lebih kaya.

Overall, pengalaman yang menyenangkan. Meski lelah karena hanya tidur sekitar 1-2 jam, tapi saya jadi punya kesempatan untuk bermain-main lagi, bertemu dengan teman lama dan teman baru, dan belajar lebih banyak lagi. Semoga saja kompetisi seperti ini benar-benar bisa menghasilkan banyak ide gila nan bermanfaat lainnya.

Tidak sabar untuk menunggu kesempatan hackathon berikutnya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s