Makan!

Kebiasaan makan saya berubah. Saya merasa jadi makan lebih banyak akhir-akhir ini. Semenjak selesai studi, kok rasanya saya tidak bisa makan normal lagi. Mungkin karena kandungan nutrisi juga ya, tapi rasanya piring nasi itu harus dipenuhi supaya memenuhi porsi makanan saya. Repotnya, nafsu makannya jadi makin tidak terkendali kalau sudah bertemu makanan enak.

Tidak hanya pola makan, tapi kebiasaan saya untuk minum juga jadi berubah. Sebelumnya, saya lebih memilih mengonsumsi minuman kemasan yang “berasa”, bersoda maupun tidak. Namun, sekarang rasanya minuman seperti itu, terutama yang dari golongan teh kemasan, jadi meninggalkan rasa asam yang berlebih di mulut setelah dikonsumsi. Saya jadi lebih terbiasa meminum teh tanpa gula. Ini masih ditambah juga dengan konsumsi air putih yang lebih banyak karena saya jadi sering merasa haus.

Mungkin ini ada hubungannya dengan pola makan saya selama di UK. Kesulitan untuk menemukan waralaba fast food yang halal dan faktor ekonomi membuat saya lebih sering memasak sendiri. Praktis, konsumsi junk food saya dapat dihitung jari selama tinggal di sana selama setahun. Memasak sendiri juga membuat saya lebih mengendalikan nutrisi. Saya jadi lebih terbiasa makan sayur dan sering menggilir proteinnya, antara ikan, ayam, dan daging. Kudapan saya pun diganti dengan buah-buahan seperti pisang dan jeruk.

Sekarang, saya jadi merasa agak aneh setiap kali makan fast food. Ada yang kurang rasanya cuma makan nasi dan sepotong ayam goreng berbumbu itu – sudah tidak senikmat dulu lagi. Walhasil, saya jadi lebih senang datang ke restoran yang menyajikan masakan Indonesia. Makanya mungkin saya sering dianggap aneh sekarang ketika lebih memilih untuk memesan gado-gado di food court yang harganya tentu lebih mahal dibandingkan penjual gado-gado di pinggir jalan.

Entah karena sudah terbiasa makan pasta atau mungkin memang jenis bahannya yang berbeda, saya juga tidak terlalu sering memesan pasta di sini. Setiap kali saya mencoba pesan pasta, entah mengapa saya tidak terlalu puas. Ekspektasi saya tidak terpenuhi. Entah karena kehilangan sayur-sayuran yang kadang saya masukkan, asin dan lembutnya beberapa jenis ikan, atau rasa umami yang bisa diberikan keju yang bagus.

Faktor lainnya yang juga mungkin menyebabkan ini adalah harga yang terlalu mahal jika dibandingkan dengan di UK untuk menu yang sama. Dengan harga sekitar 6 pon (~Rp120.000), saya bisa membuat enam porsi spaghetti carbonara yang enak bermodalkan salami, telur, minyak zaitun, dan pasta. Itu juga masih bisa menyisakan sebagian bahannya. Di sini, carbonara bisa jadi salah satu pilihan termahal dari daftar menu pasta!

Sayang, murahnya mendapatkan makanan di luar, dengan asumsi kita juga menghitung ongkos waktu yang diperlukan, jika dibandingkan dengan memasak sendiri membuat memasak sendiri bukan pilihan yang cukup menarik di sini. Belum lagi ditunjang dengan makanan-makanan ringan yang sangat murah dan menggoda. Enak, tapi meninggalkan rasa bersalah. Hahaha…

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masih senang masakan rumahan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s