Darurat Bahasa Indonesia!

Salah satu tugas saya sebagai dosen adalah membuat deskripsi tugas untuk dikerjakan mahasiswa. Karena mengajar di Indonesia, maka sudah sepatutnya deskripsi tugas tersebut diberikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Well, tidak semuanya jadi dalam bahasa Indonesia sih, karena ada beberap istilah yang masih asing bagi banyak orang – daring (online), misalnya.

Beberapa istilah lain sengaja dibiarkan dalam bahasa aslinya supaya bisa dibedakan dengan istilah yang terlalu umum, sepertiframework yang sebetulnya bisa saja diganti dengan kerangka kerja. Karena artinya bisa jadi terlalu umum, membiarkan kata tersebut dalam bahasa asing membuat perbedaannya dengan padanan bahasa Indonesia-nya sedikit lebih jelas. Hal seperti ini tentu tidak asing bagi cabang ilmu pengetahuan yang berkembang dengan pesat seperti informatika.

Format dan Spesifikasi

Yang jadi poin perhatian saya adalah kesulitan beberapa mahasiswa saya dalam memahami spesifikasi yang telah diberikan. Maksudnya, spesifikasi yang diberikan dalam deskripsi itu saya pikir sudah cukup jelas. Bahkan, tugas-tugas yang saya rilis tersebut telah saya berikan kepada beberapa orang teman untuk diulas terlebih dahulu sebelum dirilis. Kenyataannya, masih banyak yang tidak bisa mengikuti spesifikasi yang sebenarnya cukup umum tersebut.

Penamaan dan pembagian berkas adalah dua contoh yang paling sering dilanggar. Meski sudah saya jelaskan, tetap saja ada orang-orang yang tidak mengikuti format yang telah saya sampaikan. Begini loh, format itu kan dibuat supaya memudahkan saya dalam memeriksa tugasnya nanti. Kalau lebih mudah untuk diperiksa, tentu mereka juga akan mendapatkan umpan balik dari tugas tersebut dengan lebih cepat. Kenapa akhirnya malah jadi banyak yang ngawur begitu?

Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Saya pikir, kemampuan anak-anak muda ini dalam berbahasa ketika berikirim surat (e-mail) merupakan hal yang mau tidak mau harus ditoleransi. Mereka mungkin terlanjur terbiasa berkomunikasi melalui media yang lebih tidak formal, seperti pesan instan melalui WhatsApp atau Line. Namun, kebiasaan ini juga terbawa ke cara berbahasa mereka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan teoritis yang diberikan dalam tugas tersebut. Bukankah ini jadi satu hal yang cukup memprihatinkan?

Keluhan dosen-dosen saya terdahulu tentang hal semacam ini ternyata sampai juga kepada saya. Masih banyak orang Indonesia yang ternyata tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar – benar dalam mengekspresikan ide dan baik dalam menentukan ragam bahasa. Tentu saja tidak ada masalah untuk menggunakan ragam non-formal dalam percakapan atau melalui pesan instan. Namun, selalu ada dokumen yang membutuhkan ragam bahasa yang baku dan formal. Apakah semakin banyak yang kehilangan kemampuan untuk membedakan itu?

Wabah Iliterasi

Sedihnya, ini semakin terlihat di kalangan anak-anak yang lebih muda. Ketika melatih anak-anak KIR di SMA saya dulu, ternyata masih banyak yang mengalami kesulitan bahkan untuk membuat sebuah kalimat yang utuh. Sudah bukan barang baru untuk menemukan beberapa kalimat yang tiba-tiba sudah bertemu tanda titik tanpa ada kejelasan SPOK ketika memeriksa makalah mereka. Miris.

Fenomena ini mungkin juga bisa dilihat di negara-negara lain. Negara-negara berbahasa Inggris yang bahkan tidak bisa membedakan “you’re” dan “your”, atau “there” dan “their” sudah bukan barang baru yang berseliweran di media sosial kita. Tidakkah mereka sadar bahwa bahasa dalam bentuk tertulis itu sedemikian pentingnya untuk dapat menyampaikan pesan dengan benar?

Atau jangan-jangan malah cara berbahasa saya yang terlalu aneh?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s