Are You Happy?

Apakah Anda bahagia dengan hidup Anda?

Pertanyaan seperti itu mungkin bukan sekali atau dua muncul sepanjang hidup sampai saat ini. Entah muncul berupa pertanyaan dari teman, atau mungkin dari pikiran sendiri yang sepertinya tak lelah menanyakan hal aneh seperti itu. Aneh, karena pertanyaan itu hanya butuh jawaban “ya” atau “tidak”, tapi ditujukan untuk suatu hal yang sangat abstrak. Yang ada, pertanyaan itu dibalas lagi dengan pertanyaan, “Apa itu kebahagiaan?”

Dari bermacam studi yang dirangkum dalam buku Thinking, Fast and Slow, respon seseorang terhadap pertanyaan tersebut menjadi suatu topik yang ternyata punya cerita yang menarik di baliknya. Faktanya, kita sering mengasosiasikan kebahagiaan dengan hal-hal yang mendahului pertanyaan itu. Sebutlah pertanyaan pendahulu seperti “Berapa penghasilan Anda sekarang?” Maka, kita akan mengasosiasikan kebahagiaan dengan penghasilan atau uang yang kita punya. Demikian pula yang terjadi jika pertanyaan tentang kebahagiaan didahului oleh hubungan dengan pasangan.

Saya jadi terpikir tentang pertanyaan ini saat dalam perjalanan kereta menuju ke Bandung. Melihat rumah-rumah di daerah yang kelihatannya jauh dari kota membuat saya bertanya-tanya tentang peluang mereka mendapatkan kemewahan yang saya dapat. “Bagaimana mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup? Apakah anak-anak mereka punya akses pendidikan yang baik? Sudahkah mereka dapat memenuhi semua kebutuhan hidup mereka?”

Pertanyaan tersebut membuat saya berpikir kembali tentang konsep kebahagiaan. Saya yang mengejar pendidikan tinggi-tinggi ini apakah jadinya lebih bahagia dibandingkan mereka yang mungkin bahkan tak sempat mengecap pendidikan tinggi. Apakah justru mereka yang hidup jauh dari bioskop, mal, dan tempat hiburan lainnya bisa lebih bahagia dibanding saya yang tinggal hanya berjarak 15 menit naik motor dari salah satu mal di selatan ibukota?

Pada akhirnya, bahagia mungkin cuma masalah rasa syukur. Lah, apa kurang nikmat Anda bisa baca tulisan saya ini dari layar ponsel atau laptop Anda? Mungkin sembari duduk atau bahkan berbaring di ruangan berpendingin? Namun, mereka yang bahkan tak tahu adanya tulisan ini juga tak kalah senangnya ketika mengetahui selesainya pekerjaan mereka hari ini – tak perlu pusing-pusing membawa pulang pekerjaan dari kantor?

Selalu saja ada hal yang bisa disyukuri dari segala situasi. Masalahnya, fokus kita mau ke kesulitannya atau kepada apa yang sejatinya selama ini kita abaikan – things we took for granted? Bahagia itu mungkin hanya masalah berhenti membandingkan apa yang kita dan orang lain dapatkan.

Ah, tahu apa saya?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s