Main ke Kantor Staf Presiden

Saat Welcoming Alumni LPDP 2017 yang lalu (6/2), saya bertemu dengan seorang teman satu almamater dari Edinburgh dulu. Nah, beliau ini sekarang sedang magang di Tim Satu Data Indonesia sebagai Public Policy Specialist. Tim yang dikomandoi oleh Robertus Theodore, seorang teman lainnya saat di Informatika ITB dulu, kemudian mengundang saya untuk membagikan cerita tentang pengalaman pemanfaatan data di lapangan. Walhasil, hari ini (9/2) saya pun berkunjung ke Kantor Staf Presiden (KSP).

Jalanan agak macet hari ini, saya yang berangkat sekitar jam 11.15 pun baru sampai di lokasi sekitar pukul 12.40. Padahal, saya biasanya hanya perlu sekitar 1 jam saja untuk jarak sejauh ini. Hujan tampaknya membuat sebagian orang memacu kendaraannya sedikit lebih lambat.

Salindia yang saya gunakan sudah dipersiapkan di malam sebelumnya. Saya akan bercerita tentang dua topik yang sangat dekat dengan kehidupan saya sejauh ini: kesehatan dan transportasi. Beruntung, ada bekal ketika saya berkunjung ke pameran di National Science Museum di London bulan Agustus lalu. Jadi lah, judul presentasi saya – meminjam judul pameran tersebut: Our Lives in Data.

Saya mengawali cerita dari alasan awal pengumpulan data: bagaimana data membantu kita dalam mengambil keputusan dengan lebih baik di berbagai bidang. Masalahnya, di Indonesia terkadang data tersebut tidak selalu tersedia – dengan berbagai alasannya. Ketika negara lain sudah menimbang-nimbang regulasi tentang masalah privasi data, kita bahkan masih sibuk untuk mengumpulkan data yang sudah seharusnya tersedia dengan baik.

Dalam kasus transportasi publik yang saya angkat, saya mengulas bagaimana Transport for London (TfL) sudah punya pola pikir untuk mengolah data bahkan sebelum era digital! Artinya, memang sudah ada orang-orang yang mengumpulkan karcis kereta bawah tanah London untuk kemudian diturus dan dilihat polanya. Bayangkan berapa jam yang harus dihabiskan pada zaman itu.

Kembali ke masalah kesehatan, saat negara lain sudah menggunakan data genetik untuk mengembangkan obat-obatan, kita masih pusing untuk menyimpan rekam medis dengan baik. Masalah sesederhana pemberian nomor identifikasi saja masih jadi kendala, bahkan di ibukota. Saya jadi tidak terbayang bagaimana sistemnya bisa berjalan di daerah-daerah. Ini saja masih diperparah dengan banyaknya sistem yang beredar di berbagai fasyankes: karena beda tingkatan pemerintahan, beda masa kepengurusan, hingga beda jenis penyakit. Pusing!

Bulan Oktober lalu, seorang teman mengagihkan sebuah podcast ke saya. Isinya tentang estimasi korban jiwa dari kasus kebakaran hutan di tahun 2015 yang lalu oleh Harvard dan Columbia University. Angkanya cukup mengejutkan: sekitar 91.600 korban jiwa. Yang bikin garuk-garuk kepala, sebuah instansi pemerintah malah mengatakan hanya tercatat 19 korban jiwa beradasarkan laporan dari fasyankes setempat. Fantastis ya perbedaannya?

Maka, saya senang sekali mendengar cerita dari Robert bahwa sudah ada Peraturan Presiden yang disiapkan untuk mengatur masalah pengagihan data ini. Karena toh pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Keterlibatan masyarakat yang juga mempunyai keahlian dalam pengolahan data sudah barang tentu akan sangat membantu untuk pengembangan negeri ini ke depannya.

 

Bersama Tim Satu Data | Foto: Agie Nugroho

Semoga masa depan negeri ini bisa lebih baik dengan keterbukaan data!

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Main ke Kantor Staf Presiden

  1. Terima kasih atas sharingnya, Bro Ali! 😁 sangat bermanfaat.
    Semoga bisa kembali ya, utk berbagi ilmu dan pengalamannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s