Terutangkan

Sejak zaman kuliah, saya jadi merasa punya banyak utang. Kebebasan yang mulai dirasakan sejak hidup “sendiri” berakibat pada pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, tentang apa yang bisa saya lakukan dalam hidup. Mungkin ini juga bawaan dari institusi pendidikan ya, seolah sudah diberikan surat utang di muka, “Kamu habis lulus mau ngapain?”

Ada banyak hal menarik yang ingin saya capai semasa berkuliah dulu, terutama yang terkait kehidupan organisasi kemahasiswaan. Saat di unit, saya coba belajar mengembangkan divisi dan dewan yang belum lama hidupnya. Saya harus mengayomi belasan orang yang punya potensi bagus yang akan sangat sayang untuk disia-siakan.

Programnya?

Mimpi untuk membuat masterclass saat menjadi kepala divisi gitar dulu hingga saat ini ternyata belum terlaksana. Berhubung saya pun sudah tidak menjabat lagi, ya mungkin bukan jalannya saja untuk mengerjakan itu sendiri. Paling tidak, divisinya sendiri masih hidup sampai sekarang deh.

Pun demikian halnya dengan Dewan Perwakilan Anggota. Revisi AD/ART yang sempat ingin dikejar dan usulan penggantian logo ternyata masih berakhir sebagai wacana. Sepengetahuan saya, perjuangannya pada akhirnya sudah tidak dilanjutkan lagi.

Setelah lulus, makin banyak ide berseliweran di pikiran saya. Keinginan untuk mengerjakan berbagai penelitian kecil-kecilan, hingga mengembangkan ide produk ternyata masih jadi hal-hal yang tak lepas dari kendala. Banyak yang berakhir di papan tulis di kamar saya hingga berhari-hari, hingga kemudian saya hapus karena kesal sendiri. Terutangkan.

Keinginan saya untuk membuat kamus alay yang dapat digunakan untuk pemodelan bahasa Indonesia nyatanya sudah terutangkan selama setahun. Inisiasi yang dulu dilakukan ternyata belum begitu sukses, karena memang tidak dikelola secara serius. Belum lagi kalau membicarakan pameran interaktif yang ternyata lebih banyak lagi kendalanya.

Saya menyadari bahwa sebagian dari ide-ide tersebut mungkin memang belum perlu diwujudkan saat ini. Perlu jalan sedikit berputar untuk bisa sampai ke tujuan tersebut. Kalau kata Pandji di buku Juru Bicara, jadi orang Indonesia memang perlu street smart, bukan sekadar book smart. Hidup tidak semudah itu di negeri ini, jadi ide-ide gila itu mungkin hanya perlu disimpan dulu, untuk dibuka kembali suatu hari nanti.

Mungkin hanya perlu menunggu waktu untuk mendapatkan jawabannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s