Kecepatan Membaca

Dalam sebulan ini, ada dua buku yang sudah saya habiskan. Keduanya adalah buku dari Maman Suherman yang juga sempat saya bahas di pos ini. Yang saya heran, buku-buku semacam ini bisa cepat sekali saya habiskan, hitungan hari saja! Padahal, beberapa buku yang lain membutuhkan hitungan minggu bahkan bulan untuk dikhatamkan. Kenapa ya?

Dugaan #1: Bahasa

Kasus seperti ini sebenarnya bukan yang pertama, karena saat membaca buku-buku lain yang berbahasa Indonesia, rasanya memang kecepatan membaca saya agak meningkat. Mungkin ini wajar saja, karena toh bahasa ibu saya memang bahasa Indonesia. Berhubung novel juga biasanya dibuat menggunakan bahasa yang tidak terlalu sulit, jadi kelihatannya dugaan ini masuk akal.

Asumsi ini juga menjelaskan kesulitan menghabiskan buku ini dengan cepat. Bisa jadi karena buku tersebut merupakan buku terjemahan, jadi perlu waktu untuk mencerna beberapa kalimatnya. Tentu ada istilah atau frasa yang sulit sekali untuk diterjemahkan tanpa menghilangkan makna aslinya sehingga terpaksa diterjemahkan lebih panjang.

Dugaan #2: Tata Letak dan Ukuran

Setuju tidak kalau saya katakan bahwa buku-buku berbahasa Indonesia didesain lebih besar secara ukuran huruf dan dimensi buku itu sendiri? Ini juga menyebabkan beberapa buku jadi terlihat lebih tebal, tetapi sebenarnya cukup tipis jika menggunakan standar mass market paperback. Banyaknya “hiasan” dan tata letak di tiap pemisah bab juga membuat beberapa buku jadi terlihat lebih tebal.

Secara jumlah halaman, memang buku-buku yang saya baca di bulan ini cenderung lebih tipis, hanya sekitar 100-an halaman. Nah, sekarang saya sedang mencoba membandingkan dengan roman yang tebalnya sekitar 400-an halaman. Apakah waktu yang dibutuhkan akan sebanding?

Dugaan #3: Konten

Jika ditilik dari isinya, buku-buku yang cenderung cepat saya habiskan biasanya memang yang sifatnya bacaan ringan saja. Tidak perlu fokus yang tinggi untuk membaca buku seperti ini. Ini juga membuat pikiran saya pun tidak perlu melayang ke mana-mana – yang menyebabkan saya harus mengulang lagi beberapa paragraf yang telah lalu.

Beda halnya dengan buku yang “berat”. Kecuali dia benar-benar menarik karena mengusik pikiran, biasanya buku-buku tersebut membutuhkan waktu yang dikhususkan untuk mencicilnya. Waktu commuting biasanya jadi kesempatan prima untuk menghabiskan buku semacam ini. Terkadang, ketika sudah kesulitan menghubungkan kasus yang terjadi di sekitar saya dengan isi dari buku, saya bisa kehilangan keinginan untuk menghabiskannya, contohnya buku The Hard Thing About Hard Things.

Simpulan

Mungkin juga sebenarnya masalahnya hanyalah saya yang kurang terbiasa membaca buku. Kecenderungan untuk memilih artikel-artikel membuat saya kurang bisa berfokus dan tahan dalam membaca buku yang agak “berat” dan panjang. Padahal, ada juga teman-teman yang bisa menghabiskan buku-buku berat hanya dalam waktu sehari(!)

Ada juga yang saking sukanya membaca, sampai buku yang ada dalam video games pun dibaca! Jadi, tentu dia tidak masalah ketika harus menghadapi buku yang “serius”, maupun yang “tidak serius”. Alah bisa karena biasa.

Bagaimana kebiasaan Anda dalam membaca buku?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s