Menjadi yang di Pertengahan

Berada di tengah itu sejatinya bisa jadi paling susah. Karena sangat mudah untuk menjadi ekstrem ke salah satu sisi. Simpel: pikiran cukup difokuskan ke salah satu, yang bertentangan tinggal ditolak. Enak kan?

Keseimbangan itu pada hakikatnya adalah sesuatu yang dinamis. Ya, seimbang bukan berarti statis, diam, dan menolak semua. Seimbang itu berarti mencoba mendengarkan kedua sisi, mencoba menimbang baik dan buruknya. Ini yang membuat keseimbangan itu terlihat kompleks.

Maka, emosi bisa menghambat solusi. Kalau sudah terlanjur bias, kita jadi sulit objektif. Mana sih yang sebenarnya salah? Mana yang memang hanya tidak sesuai dengan kita? Sekali lagi, tidak sesuai dengan kita itu tidak selalu berarti salah.

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

– QS. Al Baqarah: 216

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s