Ketoprak

Di tengah keributan yang mungkin tidak kunjung usai di media sosial Anda, mari kita bicarakan sesuatu yang lebih sederhana: ketoprak. Anyway, ketoprak yang saya maksud ini adalah yang jenisnya makanan, bukan yang seni pertunjukan itu. Ternyata, dari sepiring ketoprak yang sederhana itu bisa memunculkan pertanyaan yang cukup menarik untuk saya.

Bagaimana cara terbaik memakan ketoprak?

Kita mungkin tidak menemukan kesulitan berarti dalam memakan nasi goreng. Demikian juga mafhumnya kita terhadap perbedaan dalam memakan bubur ayam: diaduk maupun tidak. Namun, satu hal yang masih jadi pertanyaan besar untuk saya adalah, “Bagaimana cara terbaik menghabiskan sepiring ketoprak yang dibeli dari gerobak abang-abang di pinggir jalan?”

Ketoprak
Sepiring ketoprak yang kerupuknya telah dimakan sebagian

Perhatikan gambar di atas, sebagian kerupuk sudah saya makan saat foto tersebut diambil. Nah, sekarang bayangkan sepiring penuh ketoprak yang hampir tertutupi seluruhnya oleh kerupuk, apa yang harus dilakukan? Saya menemukan beberapa kesalahan yang mungkin terjadi di sini.

Aduk atau Tidak Diaduk

Memang kelihatannya memakan sebagian kerupuk tersebut terlebih dahulu adalah jalan yang diambil banyak orang [citation needed]. Masalahnya, meski kerupuk sudah tersisa seperti yang terlihat di gambar di atas, mengaduk ketoprak tetap sulit untuk dilakukan. Masalahnya, tentu saja akan banyak tahu, ketupat, atau bihun yang akhirnya tidak terkena saus kacang atau pun kecapnya. Tidakkah ini akan menghilangkan kenikmatan tiap suapan?

Dilemanya menjadi muncul karena menghabiskan semua kerupuk terlebih dahulu menghilangkan esensi dari keberadaan kerupuk itu sendiri: tekstur. Di luar kerupuk, tekstur dari komponen penyusun sepiring ketoprak biasanya tidak keras. Jadi, saat kerupuk dihabiskan terlebih dahulu, yang tersisa hanya (terurut berdasarkan tingkat kelembutan) saus kacang, bihun, tahu, ketupat. Letupan kelima yang esensial itu praktis menghilang.

Perhatikan bahwa kasusnya akan berbeda jika dibandingkan dengan gado-gado. Secara umum bumbu kacang telah terlebih dahulu dicampurkan di awal dengan komponen lainnya oleh abang-abang penjualnya. Oleh karena itu, kerupuk yang banyak itu bisa dinikmati sedikit demi sedikit sembari menikmati campuran sayur, lontong, yang dilumuri bumbu kacang tersebut.

Pedas atau Sedang

Apa yang menjadi dasar bagi para tukang ketoprak (ini juga termasuk pedagang makanan lain yang menggunakan cabai atau sambal sebagai komponen masakannya) menentukan tingkat kepedasan dagangannya? Setahu saya, tingkatan utamanya hanya ada tiga: pedas, sedang, dan tidak pedas. Apakah ini dapat diartikan sebagai jumlah cabai yang digunakan (2, 1, 0)? Ataukah mungkin abang-abangnya menggunakan variabel lain dalam menentukan tingkat kepedasannya? Karena jelas ketoprak yang saya makan itu pedas sekali meski saya sudah bilang tingkat kepedasannya “sedang” saja.

Dari dulu sampai sekarang, saya bukan orang yang terlalu tahan pedas, boro-boro suka. Menurut saya, orang-orang yang suka makanan yang terlalu pedas itu aneh, karena semua rasa yang lain menjadi tertutupi oleh rasa pedas yang mengganggu itu. Sedikit rasa pedas mungkin bisa meningkatkan kenikmatan makan, tapi terlalu banyak cabai/sambal hanya membuat mulut panas, lantas perut menjadi kembung karena terlalu banyak minum. Belum lagi faktor malu yang harus ditanggung karena saya akan menjadi bercucuran air mata.

Kesimpulan

Pada akhirnya, topik ini merupakan kajian yang masih perlu diuji kembali kebenarannya. Preferensi orang-orang dalam menikmati sepiring ketoprak bisa berbeda-beda. Seperti halnya kajian saya dan teman-teman tentang bubur ayam terdahulu, akan sangat menarik untuk mencoba menggali perilaku orang-orang dalam menikmati hidangan vegetarian yang populer di ibukota ini.

Iklan

2 tanggapan untuk “Ketoprak

  1. Li, gara-gara kamu saya jadi beli ketoprak pagi ini. Kayaknya saya kepikiran solusinya. Saya termasuk golongan sayap kiri, yang mengaduk ketoprak maupun bubur supaya bumbunya merata.

    Untuk kemudahan mengaduk, kamu pesan ketoprak dulu, bilang jangan pake kerupuk. Terus aduk dulu. Baru minta kerupuk. 😀

    1. Berarti tujuan utamanya supaya orang beli ketoprak juga tercapai. :))

      Idenya bagus! Pertanyaannya mungkin jadi, “Kenapa abangnya enggak sekalian ngaduk kalo ketoprak ya?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s