Dunia yang Lebih Baik

I don’t know about you people, but I don’t want to live in a world where someone else makes the world a better place better than we do.

— Gavin Belson

Kutipan di atas boleh jadi hanya berasal dari karakter fiktif. Namun, saya cukup yakin bahwa perasaan tersebut dapat ditemukan pada beberapa orang di sekitar kita. Well, paling tidak saya sendiri punya sedikit perasaan seperti itu.

Kalau diperhatikan lagi, sebetulnya kutipan itu agak lucu. Buat orang-orang yang mungkin masih berjuang mendaki tangga kebutuhan lainnya di hierarki kebutuhan Maslow, pandangan tersebut mungkin terdengar absurd. “Ngapain repot-repot ngurusin orang lain? Hidup gua aja belum bener.”

Bagi yang hidupnya udah bener pun, tetap menggelitik untuk melihat bahwa menjadi bagian dari fitrah manusia untuk mempunyai eksistensi — diakui oleh orang lain atas karya-karyanya. Kalau lah dunia jadi lebih baik karena apa yang orang lain lakukan saja — tanpa andil kita di dalamnya — tidakkah itu tetap perlu disyukuri? Lantas, apakah kita akan berhenti berbuat baik hanya karena perbuatan baik itu tidak mengubah dunia?

Saya teringat dengan tulisan seorang teman. Kutipannya seperti ini,

Dulu saya sempat punya pemikiran naïf: saya ingin jadi guru matematika terbaik se-Indonesia. UNJ itu prodi pendidikan matematikanya salah satu yang terbaiklah, jadi kalau bisa jadi yang terbaik di sana, jadilah saya salah satu guru matematika terbaik. Rasanya penting benar recognition dari orang-orang. Dibilang terbaik. Keren, gitu.

Namun semakin lama ya saya akhirnya mulai sadar juga. Jadi guru itu bukan soal menjadi yang terbaik, bukan soal penghargaan-penghargaan. Lah, kalau semua guru mikir begitu, guru-guru saya itu ga akan ada yang ngajar sampai puluhan tahun itu tanpa dapat penghargaan apapun. Sadarlah saya bahwa selama ini saya memilih sudut pandang yang salah.

Kalau lah semua orang ingin “menguasai” dunia, maka siapa lah yang akan “dikuasai”?

Setiap kita pada akhirnya akan punya peran masing-masing di dunia ini. Intinya, jangan jadikan keinginan untuk menguasai dunia yang besar itu mengubah haluan kita dari berbuat baik itu sendiri. Toh, teman yang kau beri bantuan kemarin lusa itu tak kurang rasa syukurnya meski bukan presiden yang membantunya.

Jangan salah paham. Boleh-boleh saja memberi penghargaan macam guru teladan itu. Mengenang jasa-jasa dan pengorbanan guru yang luar biasa; yang saya perdebatkan di sini adalah jangan jadikan itu tujuan utama. Toh biasanya juga guru-guru yang menang itu juga memang guru yang tidak mengincarnya, kok. Ngajarlah yang baik, lakukan hal yang pokok, dapat penghargaan itu bonus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s