Medium

Saya dulu berpikiran sempat berpikiran bahwa blog ya intinya begitu-begitu saja. Kan intinya tentang apa yang ditulis, bukan bagaimana ditampilkannya. Namun, ternyata tempat menulisnya juga menjadi salah satu yang diperhatikan bagi banyak orang. Maka, tidak heran ketika Tumblr sempat ramai digunakan karena menyediakan variasi jenis pos, seperti format yang dikhususkan untuk gambar atau kutipan.

Meski begitu, sebenarnya saya masih merasa baik-baik saja dengan WordPress ini sebagai blog utama. Itu pun karena Multiply — yang dulu lebih sering saya gunakan — sekarang ditutup. Saya memang punya blog di tempat lain, tapi ya dibuat hanya untuk hal-hal yang lebih spesifik, entah itu berupa cerita yang lebih personal atau lebih teknis.

Setelah aktivitas teman-teman saya mulai berkurang di Tumblr, kemudian saya memperhatikan kemunculan Medium di tahun 2012 yang cukup menggelitik. Idenya sederhana, tampilannya dibuat seragam untuk semua sehingga orang-orang bisa lebih berfokus pada apa yang dituliskannya. Konsepnya memang lebih mengarah ke social journalism dibandingkan blog biasa. Namun, banyak fitur-fitur menarik yang mereka sediakan sehingga bisa menggait basis pengguna yang cukup banyak.

medium
Logo baru Medium

Di Medium, komentar terhadap suatu tulisan bisa diberikan langsung di bagian yang ingin dikomentari supaya diskusinya bisa lebih terarah. Tulisan bisa diberi penanda jika Anda tertarik untuk membacanya di lain waktu. Ditambah lagi, para insinyur dan ilmuwan di belakang Medium yang terus mengembangkan mesin rekomendasi tulisannya agar para pembaca lebih mudah menemukan artikel-artikel menarik tiap harinya.

Fitur dari Medium yang paling saya suka sebenarnya adalah estimasi waktu yang dibutuhkan untuk membaca suatu artikel. Dengan adanya estimasi tersebut, saya jadi tahu kira-kira artikel mana yang bisa saya konsumsi di sela-sela kesibukan saya. Yang membuatnya lebih keren, selain menampilkan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan suatu artikel, para analis di Medium juga memperhatikan waktu yang nyatanya dibutuhkan orang-orang dalam mengonsumsi berbagai macam panjang artikel. Faktanya, mereka berhasil menemukan bahwa artikel yang optimal dalam artian besar kemungkinannya dibaca sampai habis adalah artikel dengan durasi 7 menit.

Dengan pengetahuan yang didapat dengan mengolah data yang begitu banyak, Medium seharusnya bisa meningkatkan kinerja sistem rekomendasinya. Di era ketika arus informasi sudah tidak lagi terbendung, maka sistem rekomendasi seperti ini menjadi suatu keharusan demi kelangsungan mayoritas bisnis digital. Karena zaman sekarang untuk mendapatkan basis massa itu mungkin jadi lebih mudah, tapi bagaimana mempertahankannya itulah yang jadi persoalan.

Nah, pemirsa lebih cenderung menggunakan platform apa untuk ngeblog?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s