Bergilir

Kalau sedang di bis atau kereta, biasanya saya membiarkan pikiran saya berjalan ke mana-mana. Mengutip setiap kejadian yang tersapu mata, lalu membiarkan otak bercabang ke mana-mana. Tak jarang, proses berpikir ini membuat saya menanyakan banyak hal tentang hidup, seperti pergiliran musim yang membuat bunga bermunculan di taman, hingga hakikat hidup sebagai manusia.

Setelah dipikir-pikir, berada di belahan bumi Eropa ternyata cukup membuka mata saya akan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya ketahui. Ada tanda-tanda kebesaran terlihat dari berbagai kejadian dalam hidup. Contoh paling sederhana adalah tentang pergiliran malam dan siang.

Tentang Malam dan Siang

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.

— QS. Al-Qasas: 71-73

Di sini, proporsi malam dan siang bisa berganti sangat jauh. Aneh rasanya ketika saya ingin tidur cepat (karena terbiasa tidur sekitar pukul 9-10 malam) padahal langit masih cukup terang di musim panas seperti ini. Pun demikian ketika musim dingin, pukul 5 sore langit sudah gelap, aktivitas seolah-olah sudah harus berhenti lebih cepat. Lalu, apa rasanya di negara-negara belahan bumi utara yang mataharinya tidak pernah terbenam? Karena, ini tak hanya soal jam tidur, tapi juga termasuk jam makan dan berbagai kebutuhan biologis lainnya.

Saya jadi menyadari bahwa banyak hal yang kurang saya syukuri selama hidup di Indonesia. I took it for granted. Di sini, saat ini, umat muslim di UK harus berpuasa sekitar 19 jam. Namun, beberapa tahun lagi saat bulan Ramadan bertepatan dengan musim dingin, maka puasa jadi sebentar sekali. Sementara di Indonesia, waktu berpuasa ya panjangnya kurang lebih 13 jam saja mau di tahun apapun.

Tentang Tumbuhan

Pergantian musim juga membuat saya menyadari bahwa bunga-bunga dan pepohonan itu selalu tahu kapan mereka harus tumbuh dan mereka mati. Mereka tak pernah terlambat dari apa yang sudah digariskan. Mereka tahu bahwa musim semi sudah tiba, maka indah sekali warna-warni bermunculan di mana-mana. Kelak, ketika musim dingin kembali, maka mereka “bersembunyi” — bersabar menunggu siklus hidup berikutnya.

IMG_20160316_144306795
Kuncup bunga di musim semi

Manusia pun menyadari adanya mekanisme ajaib ini dan mencoba meneliti apa yang menyebabkan ini bisa terjadi. Mereka mencoba bermain-main dengan jam biologis pada tumbuh-tumbuhan. Mungkin mereka berharap suatu saat bisa memanipulasinya untuk keuntungan orang banyak.

Namun, siapalah yang punya kuasa sebegitu hebatnya untuk mengatur semua ini dengan semua keseimbangannya? Tentu ini semua ada karena dibentuk oleh Dzat Yang Mahaperkasa. Ada yang menjamin rezeki dari tiap makhluk yang ada di dunia ini.

Apakah kamu tiada melihat, bahwasanya Allah menurunkan air dari langit, lalu jadilah bumi itu hijau? Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

— QS. Al-Haj: 63

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s