Ilmu Sosial

Pada dasarnya saya itu senang memperhatikan tingkah polah manusia. Bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain, apa yang menjadi dasar suatu keputusan, atau berbagai rasionalisasi tindakan manusia lainnya. Makanya, saya senang sekali ketika tahu di program master saya ada kuliah Social and Technological Network — dan belakangan Game Theory. Di kuliah-kuliah itu, perilaku manusia dimodelkan secara matematis sehingga (harapannya) dapat diprediksi.

Sayangnya, ilmu sosial yang saya tahu di Indonesia itu kebanyakan masih berkutat di penjelasan secara deskriptif saja — belum banyak melibatkan statistik yang mendalam. Kalau lah katanya budaya ketimuran itu berbeda dengan budaya barat, maka seharusnya dapat dilakukan berbagai replikasi penelitian dari luar negeri yang melibatkan subyek di Indonesia. Begini deh contohnya, mengapa kira-kira di Indonesia orang-orang lebih senang berbasa-basi dibandingkan orang luar?

Hipotesis dan Studi Terkendali

Contoh lain: Saya punya hipotesis bahwa sifat gotong royong orang Indonesia bisa menjelaskan masih banyaknya kasus main hakim sendiri. Teori deindividuation menjelaskan bahwa ada kecenderungan tindak kekerasan akan muncul dari sekumpulan massa. Tindakan kekerasan tersebut muncul akibat faktor anonimitas, pembagian tanggung jawab, dan besarnya kelompok. Does that ring a bell?

Contoh yang saya berikan di atas saya dapatkan dari Quora. Yang menarik, penelitian seperti ini selalu dilengkapi dengan studi dalam lingkungan terkendali. Ada statistik yang membantu menjelaskan mengonfirmasi perilaku tersebut.

Pembelajaran Mesin dan Ilmu Sosial

Tulisan ini muncul sebagai bentuk keprihatinan saya terhadap ilmu sosial yang acap kali menjadi pilihan kedua. Bagi saya, ilmu sosial itu cuma masalah domain, tapi pendekatannya selalu bisa menggunakan ilmu-ilmu termutakhir seperti machine learning atau semacamnya. Tidakkah jadi keren kalau opinion leader di Indonesia bisa terdeteksi dengan mudah sehingga bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan*? Hal yang sama juga bisa diterapkan untuk perilaku yang lebih dekat ke kehidupan sehari-hari — dalam kebiasaan berbahasa, misalnya.

Setelah program master saya selesai, saya berniat melanjutkan penelitian saya ke bidang social network. Ada seorang profesor di Cornell University yang menjadi tujuan saya. Bukunya yang berjudul “Networks, Crowds, and Markets: Reasoning About a Highly Connected World” menjadi salah satu acuan di kelas Social and Technological Network saya sekarang. Beliau juga aktif membantu penelitian-penelitian yang dilakukan di Facebook. Nah, semoga saja niatan saya itu bisa tercapai.

Mohon doanya ya!


* Ini yang saya coba lakukan di tugas akhir sarjana saya.

Iklan