Satire

Mengapa orang menggunakan gaya bahasa sinisme — yang oleh orang bule disebut sebagai “sarcasm” atau “satire“? Apa yang ingin dicapai dengan bergaya bahasa seperti itu? Apakah gaya bahasa yang sederhana tidak cukup?

satire [1]
[sat-ahyuh r]
1. the use of irony, sarcasm, ridicule, or the like, in exposing, denouncing, or deriding vice, folly, etc.
2. a literary composition, in verse or prose, in which human folly and vice are held up to scorn, derision, or ridicule.
3. a literary genre comprising such compositions.

Akhir-akhir ini tulisan bermajas seperti itu sudah merupakan hal yang lumrah, apalagi kalau Anda jalan-jalan ke tulisan yang berbau politis. Yang jadi masalah adalah tulisan-tulisan tersebut tidak selalu mudah untuk ditangkap dengan nalar. Ini bukan suatu hal serta-merta dimengerti oleh orang awam.

Satu hal yang mungkin jadi alasannya adalah usaha untuk pembuktian dengan kontradiksi — reductio ad absurdum. Mencoba menjabarkan pola pikir pihak lawan dengan sedikit melebih-lebihkannya untuk kemudian membuatnya terjatuh ke dalam lubang kontradiksi pola pikirnya sendiri. Dengan begitu, energi yang dikeluarkan bisa jadi tidak terlalu banyak — wong tinggal tunggu jatuhnya saja kok!

Ini jawaban dari salah seorang teman saya,

Why not?

Bagi saya itu cara terbaik, atau setidaknya, paling berkelas untuk mengingatkan. Kalau gayanya ditiru (dengan sarkastik) kan biasanya kita lebih mikir jadinya? Meskipun pada akhirnya tidak akan mengubah semuanya, tapi setidaknya yang masih bimbang, yang masih belum menentukan pilihan, bisa terkena dampaknya. Harapannya, sih.

Entahlah. Data saya masih sedikit. Saya belum pernah mengamati secara serius fenomena ini. Mungkin ada yang tertarik untuk memberi saya penjelasan yang lebih baik?

Yang jelas, gaya bahasa seperti ini masih sulit untuk dideteksi oleh mesin. Seorang teman pernah mencoba meneliti penggunaan gaya bahasa seperti ini di Twitter [2]. Nah, kalau lah penelitian seperti ini bisa berhasil dengan baik, mungkin saat itu mesin sudah bisa sepintar manusia ya?

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: mengapa Anda menggunakan sinisme? (Masih) kata teman yang tadi,

Plus itu menyenangkan.

Hell, yeah! :mrgreen:


Referensi:

[1] Dictionary.com. http://www.dictionary.com/browse/satire?s=t

[2] Lunando, Edwin, and Ayu Purwarianti. “Indonesian social media sentiment analysis with sarcasm detection.” Advanced Computer Science and Information Systems (ICACSIS), 2013 International Conference on. IEEE, 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s