Penyimpanan Daring

Siapa dari Anda yang belum pernah memakai layanan penyimpanaan daring? Nama-nama seperti Dropbox, Google Drive, atau Microsoft OneDrive mungkin beberapa contoh populer dari layanan sejenis ini. Intinya, layanan tersebut memberikan media penyimpanan dalam jaringan yang membuat berkas yang Anda simpan bisa diakses dari mana saja selama Anda terhubung dengan internet.

Layanan seperti ini yang paling awal saya kenal adalah Dropbox. Sekitar zaman kuliah dulu, ketika berkas yang mau disimpan pun tidak sebesar sekarang, 2 GB yang disediakan untuk pengguna biasa Dropbox itu sudah cukup. Apalagi, ketika zaman kuliah masih ada Campus Cup yang bisa menambahkan kapasitas penyimpanannya hingga beberapa GB lagi.

Penuh!

Masalah muncul ketika penambahan kapasitas tersebut habis masa berlakunya dan kapasitas penyimpanan turun kembali ke 2 GB. Banyak yang kemudian “panik” dan mencoba mencari alternatifnya. Sebetulnya, setelah Dropbox semakin marak, banyak juga yang membuat layanan seperti ini. Selain Google Drive dan Microsoft OneDrive (dulu namanya SkyDrive), ada Box.net (sekarang jadi Box), Ubuntu One, dan Copy.

Untuk jaga-jaga, saya coba lah untuk membuka akun di beberapa layanan tersebut. Dengan isu privasi Google Drive yang sempat merebak beberapa waktu silam, dan terbatasnya akses Ubuntu One (client app-nya agak ekslusif), maka saya pun memilih Copy yang memberikan kapasitas yang cukup besar dan punya client app yang cukup oke. Memang Copy tidak punya client app di banyak platform seperti Dropbox, tapi cukup lah saya kira mengingat mereka memberikan kapasitas hingga 20 GB bagi pengguna awal.

Tutup!

Lalu semuanya berubah saat negara api menyerang.

Canonical yang mengurus Ubuntu One akhirnya kewalahan dengan persaingan yang ada dan tidak punya modal investasi yang cukup untuk meneruskan layanan ini. Maka, mereka pun terpaksa menutup layanan ini pada tanggal 1 Juni 2014. Berkurang sudah satu tempat penyimpanan saya.

Hampir dua tahun berselang semenjak Ubuntu One ditutup, sekarang saya harus menghadapi kenyataan bahwa Copy pun akan menutup layanannya per 1 Mei 2016. Haduh, kacau dunia persilatan. Ini artinya dokumen-dokumen saya harus saya pindahkan lagi ke tempat lain.

Screen Shot 2016-03-29 at 18.06.13
Ditutup juga!

Iya, proses pindahan itu yang paling repot sebenarnya. Harus menunggu lama lagi untuk memindahkan berkas-berkasnya, belum lagi kalau ternyata nanti ada berkas yang sama tapi dengan versi yang berbeda. Sulit melacak konfliknya terjadi di mana. Bisa-bisa mesti disortir dulu satu-satu.

Solusi (Sementara?)

Untung sekarang saya sedang dapat tambahan kapasitas Dropbox lagi dari Campus Cup 2015. Jadi, mungkin untuk sementara waktu saya masih bisa mengembalikan berkas-berkas saya ke Dropbox lagi. Lumayan, ada sekitar 25 GB lagi yang bisa saya pakai.

Namun, berhubung sekarang sudah punya uang sendiri, sebetulnya saya bisa saja melakukan upgrade dari layanan dasar yang biasa diberikan. Dropbox bisa memberikan kapasitas penyimpanan 1TB dengan membayar £79.00 per tahun. Microsoft malah menawarkan kapasitas penyimpanan OneDrive 1TB plus Office 365 dengan hanya Rp 879.000 per tahun. Masalahnya, OneDrive itu tidak punya client app yang resmi untuk Ubuntu, tidak seperti Drobox.

Yah, mungkin kembali ke external harddisk saja dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s