Social Experiment

Manusia itu objek penelitian yang paling menarik — paling tidak bagi saya. Mengapa kita melakukan ini, mengapa kita berpikir seperti itu, selalu jadi pertanyaan yang tidak pernah berhenti muncul dari setiap kejadian yang ada di sekeliling saya. Pertanyaan besarnya terkadang, “Kalau kita diciptakan sedemikian berbeda satu sama lain, apa sih sebenarnya yang membuat hakikat kita sama sebagai manusia?”

Manusia selalu berusaha membentuk suatu kerangka yang cukup umum, generalisasi dari berbagai macam hal sebagai sebuah mental model yang menjadi “jalan pintas” untuk mencapai kesimpulan. Nah, program yang saya sematkan di atas justru mencoba menggali setiap kemungkinan penjelasan yang ada, berusaha melihat secara spesifik dari berbagai aspek. Menariknya, semua itu hanya berasal dari keresahan-keresahan yang kerap kita abaikan.

Gue bukan aktivis atau peneliti. Gue cuma anak urban yang punya hobi komplain nomor satu! – Adriano Qalbi

Jakarta dan Masalahnya

Program Social Experiment ini banyak mengambil latar di Jakarta. Kalau bicara tentang Jakarta, apa sih yang terpikirkan sama orang-orang? Saya cukup yakin yang banyak muncul duluan itu adalah masalahnya, entah itu macet, sampah, atau banjir. Lucunya, sesering apapun orang komplain, nyatanya kita masih bisa hidup juga dengan kondisi yang sedemikian semrawutnya. Bahkan, setiap tahunnya orang-orang selalu menuju ibukota untuk mencari harapan hidup yang lebih baik. Menarik kan?

Makanya, saya pikir pemilihan latar tersebut tidak mengherankan. Walaupun, memang ada juga topik-topik yang cenderung lebih general seperti pernikahan atau kesehatan. Yang jelas, bahasannya cukup mengena ke kehidupan sehari-hari, karena beberapa kali juga saya senyum-senyum sendiri mendengar ceritanya. Bahasa kekiniannya, “relatable banget”.

Sudahkah Dicari Solusinya?

Bagian menarik dari program ini adalah fokusnya yang tidak hanya pada masalahnya, tetapi juga pada pencarian solusinya. Ada tantangan-tantangan yang dilakukan semata-mata untuk memberikan bukti kecil dari potensi solusi yang ada. Contohnya, balapan dari Mahakam sampai Monas antara tiga moda transportasi yang berbeda untuk solusi masalah kemacetan, tantangan tiga hari hidup tanpa gawai, hingga bermain di pasar malam sebagai salah satu cara menghilangkan penat.

Nah, karena ada berbagai alternatif solusi yang ditawarkan, Anda bebas memilih mana yang paling cocok dengan diri Anda. Kalau pun tidak ada yang cocok tidak apa-apa, tapi paling tidak kan sudah tahu apa yang mesti diselesaikan. Skala perubahannya pun mungkin kecil, tapi bukankah segala sesuatu yang besar itu selalu dimulai dari hal yang kecil?

Sayang acara yang seperti ini nampaknya sulit dapat rating bagus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s