“Tidak Ada Jalan Pintas”

Saya akhir-akhir ini menemukan buku-buku menarik. Biasanya buku-buku itu berkaitan dengan bisnis, tapi bukan yang judulnya Cara Cepat Menggandakan Duit atau 30 Hari Menjadi Kaya Raya, melainkan yang menceritakan sejarah dari sebuah perusahaan. Setengah buku saya sudah lalui dari The Hard Thing about Hard Things-nya Ben Horowitz dan seperlima dari Creativity Inc. karya Ed Catmull sedang saya konsumsi. Dua-duanya punya cerita yang menarik.

“Gagal Lagi, Gagal Lagi”

The Hard Thing about Hard Things bercerita tentang Ben yang berpindah-pindah perusahaan, menghadapi sulitnya mencari investor, jatuh berkali-kali saat mengembangkan sebuah produk, kehabisan uang sehingga harus mem-PHK banyak pegawai, dan berbagai kegagalan lainnya. Kalau pernah dengan pepatah “Sudah jatuh, tertimpa tangga”, nah ini ditambah “kesiram cat, digigit anjing, …” dan berbagai kesialan lainnya. Berkali-kali saya menebak-nebak, “Wah, ini sukses nih setelah bab ini,” dan berkali-kali pula saya kecele.

Sebagian cerita di Creativity Inc. pun begitu. Salah satu pendiri Pixar ini bercerita bagaimana mimpinya untuk kerja di studio animasi Walt Disney termentahkan begitu saja ketika tawaran yang data untuknya hanya sekadar penjaga salah satu wahana di Disneyland. Padahal, mimpinya sangat besar untuk bisa menghasilkan film animasi yang sepenuhnya dibuat dengan menggunakan komputer. Memang, grafis komputer merupakan hal yang tidak lazim saat itu, jadi benar-benar sulit untuk meyakinkan industri perfilman bahwa teknologi itu memudahkan. Toy Story yang menjadi batu loncatan awal kesuksesan Pixar pun tidak datang dalam semalam. Butuh waktu lima tahun untuk merampungkan itu semua dengan segala kendalanya.

Menarik untuk melihat bahwa perusahaan atau orang-orang besar seperti mereka selalu menghadapi kegagalan bertubi-tubi sebelum akhirnya mencapai kesuksesan. Kerja keras dan kesabaran menjadi kata kuncinya di sini. Kalau lah mereka memutuskan berhenti di tengah-tengah dan memutuskan menjadi karyawan saja, mungkin hidup mereka akan “baik-baik” saja, tapi kita tidak akan melihat Netscape yang menjadi cikal-bakal browser modern seperti sekarang, atau kita tidak akan menunggu-nunggu film Pixar berikutnya yang tak bosan kita nikmati meski kita sudah bukan anak-anak lagi.

“Saya Ada di Mana?”

Ketika membaca buku-buku ini, yang sering terlintas dalam pikiran saya adalah, “Saya sedang di titik apa saat ini?” Saya bertanya-tanya apakah suatu saat saya bisa mencapai titik kesuksesan itu, menjadi bagian dari dunia yang bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. To come up with the next disruptive thing…

Hidup saya sejauh ini terasa lancar-lancar saja, sehingga batin saya kadang terusik, “Apa saya terlalu bermain aman?” Kalau ada satu kesamaan yang saya lihat dari orang-orang sukses, biasanya adalah pandangan merendahkan dari orang-orang di sekitar mereka. Pasang-pasang mata yang seolah bertanya, “Lu mau ngapain sih sebenernya?”

Waktu-waktu ini mungkin memang menjadi salah satu titik yang menjadikan orang banyak berkontemplasi. Bagi saya, ini menjadi momen untuk menanyakan apa yang bisa saya berikan dengan segala nikmat yang telah diberikan untuk saya. Sudahkah saya mewujudkan rasa syukur saya dengan memanfaatkan nikmat tersebut dengan sebaik-baiknya? Titik apa yang ingin saya capai berikutnya? Sudah cukup konkret kah langkah saya menuju titik itu?

“If your dreams do not scare you, they are not big enough.” — Ellen Johnson Sirleaf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s