London (Part 2: At Night)

Code for Good selesai di waktu kurang lebih seperti yang dijanjikan — sekitar pukul 16.00. Setelah selesai berfoto-foto ria, kami pun berpisah. Teman-teman sekelompok saya memutuskan untuk pulang langsung ke tempatnya masing-masing, sementara saya memutuskan untuk menikmati London lebih lama.

Satu kesalahan kecil yang saya buat adalah saya terlanjur memesan tiket pulang pada esok harinya pukul 14.00. Setelah mengetahui bahwa banyak sekali tempat di London ini yang bisa saya kunjungi, agak-agak menyesal memutuskan hanya memundurkan kepulangan sehari saja. Karena kondisinya juga saya sudah libur. Nah, supaya tidak terlalu menyesal, maka saya memutuskan untuk langsung jalan-jalan malam itu juga.

A Very Busy City

Beruntung, ada cukup banyak teman-teman saya dari Indonesia yang bersekolah di London. Salah satunya adalah Wesley yang baru saja menyelesaikan sekolahnya tahun ini di Imperial College London. Sudah sekitar setahun saya tidak bertemu flautist yang menjadi rekan duet saya di konser ITB Student Orchestra dulu, dan malam itu dia bersedia menemani saya berjalan-jalan di London.

Lelah karena kurang tidur dan barang bawaan yang berat membuat saya harus sedikit berusaha lebih di jalan-jalan malam itu. Ditambah lagi, Wesley tampaknya sudah benar-benar beradaptasi dengan London yang serba sibuk. Berbeda dengan Jakarta yang meski sibuk orangnya bisa berjalan dengan santai, di sini semua seolah-olah serba terburu-buru.

Jika Anda menggunakan tube di London, apalagi di jam-jam rush hour, Anda akan melihat orang-orang berjalan dengan setengah berlari menuju keretanya masing-masing. Anda juga hanya boleh menggunakan sisi kanan dari eskalator jika Anda hanya diam saja — sisi kiri digunakan untuk orang-orang yang ingin mendahului. Setiap menit itu sedemikian berharganya di sini.

Jackpot buat saya, karena hari itu adalah malam Minggu, ketika banyak sekali orang berhamburan di jalan. Sudahlah begitu, saya diajak ke pecinan pula. Bayangkan betapa ramainya jalanan saat itu. Suasananya jauh sekali berbeda dengan Edinburgh yang biasanya tenang dan menyenangkan.

Hi, Wesley!
Hi, Wesley!

Banyak juga turis yang terlihat di mana-mana. Dari mana saya tahu? Tak ubahnya saya, mereka juga banyak berhenti dan berfoto-foto ketika melihat pemandangan yang menarik. Yah, London di malam hari memang menarik sih dengan gemerlap lampu kotanya.

Makan, Akhirnya

Di pecinan ini, ada beberapa tempat makan halal yang bisa ditemui, salah satunya adalah masakan Indonesia di restoran Nusa Dua. Namun, kali ini saya diajak ke sebuah restoran Singaporean-Malaysian oleh Wesley: Rasa Sayang. Dia agaknya memang senang dengan segala hal yang berbau negeri singa itu, coba saja sekali-sekali ajak dia ngomong Singlish. :mrgreen:

So, ada banyak pilihan makanan yang tersedia. Semuanya tampak menggugah selera… kecuali harganya. Saya yang biasa habis hanya sekitar £5 untuk makan di luar ketika di Edinburgh, jadi mikir-mikir lagi mau makan apa setelah melihat harganya. Paling minimal itu bisa sekitar £8, dan rata-rata sekitar £10 — dua kali makan di Edinburgh! Ada sih yang cuma £3.90, tapi ya cuma dapat acar atau tahu bakar.

Beruntung, Wesley berbaik hati untuk mentraktir saya. Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dari hanya melihat yang paling murah, saya langsung melihat menu dengan harga paling mahal. Singapore Chilli Crab tiba-tiba terlihat begitu bersinar!

Well… enggak juga sih.

Saya masih tahu diri, jadi saya memesan nasi lemak dan chinese tea saja, sementara Wesley memesan mie yang saya lupa apa namanya.

Makanannya sendiri cukup enak. Yah, berasa nasi lemak lah. Ada acarnya juga, jadi cukup memberikan rasa segar. Yang jadi masalah itu porsinya. Satu porsi nasi lemak itu cukup banyak, bisa sekitar satu setengah porsi makan saya biasanya, ditambah lagi potongan ayamnya juga cukup besar. Dengan kondisi perut yang agak masuk angin karena habis melewati jembatan di atas sungai Thames yang sangat berangin itu, saya mencoba menghabiskan makanan di meja itu dengan lambat sekali. Padahal, Wesley tadinya mau memberikan sebagian porsi makanannya ke saya. Ampun, Wes! 😀

Westminster

Ketika ditanya mau diajak ke mana, saya sudah bilang ke Wesley kalau mau ke daerah Westminster. Di sana, ada banyak tempat yang bisa dilihat dalam jarak yang tidak berjauhan, misalnya Big Ben, Palace of Westminster, Westminster Abbey, dan London Eye. Sebetulnya sih, London Eye dan Big Ben sudah sempat terlihat dari kejauhan ketika kami sedang berjalan menuju pecinan, tapi ya kurang afdal nampaknya kalau tidak melihatnya dari jarak dekat. Maka, dibawalah saya menuju Big Ben dan London Eye.

London Eye dan Big Ben dari kejauhan
London Eye dan Big Ben dari kejauhan

Sebelum sampai ke Big Ben, saya dibawa ke tempat turis yang lebih dekat dari tempat kami makan: Trafalgar Square. Ada cukup banyak yang bisa dilihat dan dijadikan objek foto di sini, termasuk jika Anda masuk ke The National Gallery. Sayangnya, karena sudah malam saya tidak bisa masuk ke galeri tersebut. Kondisi penerangan yang kurang memadai juga membuat saya tidak bisa banyak mengambil foto di sini. Jadi, kebanyakan direkam dengan mata kepala saja. 🙂

Perjalanan ke Big Ben pun dilanjutkan setelah hanya sekitar 15 menit dihabiskan di Trafalgar Square. Sepanjang jalan, Anda bisa menemukan pasukan berkuda — atau paling tidak patung Field Marshal. Makanya, jangan heran kalau Anda menemukan kotoran kuda di jalan. Tak ubahnya beberapa kota di Indonesia. :mrgreen:

Akhirnya, sampai juga di jembatan Westminster. Seperti yang sudah diduga, di sini ramai sekali dengan pengunjung. Tentu saja, dari sini Big Ben bisa terlihat dengan jelas sekali.

…and it was mesmerizing.

Big Ben
Big Ben

Saya tidak tahu kenapa, tapi mata saya seolah-olah tidak mau dialihkan dari Big Ben. Sebenarnya sih ya “cuma” menara jam begitu saja. Namun, ia terlihat sangat gagah sekali berdiri di tengah kota London pada malam hari. Sayangnya kamera saya kurang begitu memadai, jadi nikmati saja gambar yang ada ini ya.

Supaya lebih berasa lagi jalan-jalannya, dibawalah saya ke dekat London Eye. Sama saja seperti di sekitar Big Ben, banyak turis berkeliaran di sekitar London Eye karena memang sedang akhir pekan. Terlebih lagi sedang ada semacam pasar malam tak jauh dari London Eye tersebut, makin terlihat hidup lah kota ini.

Pulang dan Beristirahat(?)

Lelah berjalan dan berhubung saya menginap di tempat teman, tidak enak rasanya kalau pulang terlalu larut. Maka, saya pun berpisah dengan Wesley di stasiun Waterloo untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Tottenham. Nah, semakin ke utara ini baru jalanan mulai terasa sepi — sudah mulai masuk ke daerah perumahan.

Saya sampai sekitar pukul 9 malam. Tuan rumah masih terbangun untungnya — belakangan saya baru tahu kalau orang di rumah ini baru tidur setelah tengah malam biasanya. Akhirnya, bisa melepas lelah dan beristirahat…

…ternyata tidak juga.

Tuan rumah ini punya “mainan” menarik yang akan dikerjakan ternyata. Berhubung “mainan” itu berdekatan dengan keilmuan saya, maka diajaklah saya untuk berdiskusi sedikit masalah ini. Saya anaknya gampang tertarik kalau diajak bikin “mainan” semacam ini. Well, tidurnya terpaksa ditunda dulu sebentar deh. 😀

Akhirnya, sekitar tengah malam, diskusi disudahi. Nampaknya mereka kasihan melihat tampang saya yang sudah semakin kepayahan. :mrgreen: Alhamdulillah, hari itu bisa ditutup dengan istirahat yang tenang setelah banyak hal menyenangkan yang dilalui.

Tenang saja, masih ada tulisan selanjutnya tentang jalan-jalan ini. 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s