London (Part 1: Code for Good)

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan luar biasa untuk bisa mengunjungi London di beberapa hari menjelang penghujung tahun ini. Sebuah pengalaman luar biasa yang sangat saya syukuri. Saat menulis ini, saya sedang dalam kereta perjalanan pulang ke Edinburgh setelah beberapa hari yang menyenangkan di ibukota Inggris itu^. Tulisan ini juga akan dibagi jadi beberapa bagian, jadi selamat menikmati. πŸ™‚

Semua berawal dari sebuah e-mail yang masuk ke milis kampus. Akan ada hackathon di Glasgow dan London dalam waktu dekat, begitu kurang lebih isinya. Saya yang waktu itu masih sibuk dengan kuliah dan belum punya ide apa-apa tidak begitu tertarik dengan e-mail tersebut. Jadi, e-mail itu pun terabaikan selama beberapa waktu.

Di pertengahan bulan November, saya dapat kabar dari WhatsApp bahwa salah satu teman saya berhasil memenangkan acara yang diselenggarakan oleh JP Morgan itu di Glasgow. Juara 1! Saya mulai tertarik dengan lomba ini. Seorang teman kemudian meyakinkan saya untuk ikut saja karena dia juga akan mendaftar. Yang bikin menarik lagi, biaya transport ke kota tujuan lombanya juga akan diganti, jadi bisa dihitung sebagai jalan-jalan gratis*. Siapa yang tidak pengin?

Maka, saya pun mendaftar untuk ikut acara yang di London. Setelah mengecek jadwal lagi, seharusnya di awal bulan Desember itu jadwal kuliah saya sudah tidak akan terlalu padat, mungkin akan banyak di tugas-tugas saja. Ujian saya juga baru akan diadakan di exam diet bulan Maret, jadi harusnya saya bisa lebih tenang saat mengikuti hackathon itu.

Pengumuman Lolos Seleksi dan Perlombaan

Di minggu terakhir bulan November, saya dapat e-mail pemberitahuan bahwa saya diundang untuk mengikuti acara di London itu! Dalam lomba bertajuk Code for Good itu, para peserta akan diminta untuk menyelesaikan masalah yang akan disampaikan oleh NGO yang bergerak di berbagai bidang dan diberikan waktu kurang dari 24 jam untuk membuat prototpype-nya. Kurang lebih seperti hackathon kebanyakan, tetapi sedikit berbeda karena topiknya baru diketahui di hari-H.

E-mail yang saya dapat berisi bahwa saya harus memesan tiket perjalanan dari kota asal ke London untuk tanggal 4-5 Desember 2015. Seperti yang dijanjikan, biaya perjalanan ditanggung. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menambah sehari waktu tinggal saya di London — jadi saya akan pulang ke Edinburgh pada tanggal 6 Desember 2015. Belakangan, saya baru sadar kalau rentang waktu ini ternyata terlalu sempit. We’ll get to that part later.

King’s Cross dan The Tube

Sesaat setelah menginjakkan kaki di stasiun King’s Cross** yang termasyhur itu, saya segera mencari tempat shalat Jumat. Dari hasil googling beberapa hari sebelumnya, saya menemukan bahwa ada masjid di dekat stasiun yang bisa didatangi untuk ikut shalat Jumat.

Dalam perjalanan menuju masjid, kesibukan London belum begitu kentara. Kalau pun terlihat, saya pikir rasanya cukup wajar karena ini adalah stasiun — tempat bertemu dan berpisahnya banyak orang. Sepanjang jalan terlihat bahwa kota ini cukup cerah dibandingkan Edinburgh dan sangat mudah untuk melihat gedung-gedung tinggi, khas kota metropolitan.

Tak berapa lama setelah selesai shalat Jumat, saya pun memutuskan untuk segera menuju lokasi acara di daerah Canary Wharf. Saya harus menggunakan tube untuk mencapai lokasi dan harus transit pindah jalur sekali. Kereta-kereta bawah tanah seperti ini tentu tidak asing untuk ada di kota-kota besar. Hanya saja, saya cukup kaget ketika masuk tube pertama kali dan menyadari bahwa tube itu sempit sekali!

IMG_20151204_132021079
Tube yang sangat sempit

Salah satu moda transportasi yang membentang sepanjang London ini punya langit-langit yang rendah dan gangnya kurang lebih hanya muat untuk lalu-lalang satu setengah orang! Terasa jauh lebih sempit dibandingkan MRT yang ada di Singapura. Tidak heran kalau rush hour bisa membuat sangat gerah di musim panas.

Code for Good

Keluar dari stasiun Canary Wharf, saya langsung terpapar dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang mengingatkan saya akan Jakarta. Di Bank Street ini, Anda dapat melihat gedung-gedung pencakar langit milik beberapa perusahaan perbankan dunia. Di samping itu, Anda juga bisa menemukan kantor berita Reuters yang memajang papan digital yang memberikan berita-berita singkat dari seluruh dunia.

Tidak sulit ternyata menemukan gedung JP Morgan dari stasiun. Tidak sampai 1 menit setelah keluar dari pintu stasiun gedung Anda sudah dapat menemukan bangunan yang terletak di 25 Bank Street ini. Di gedung inilah saya akan semalaman menguras otak, menghasilkan sebuah solusi untuk permasalahan yang dihadapi NGO-NGO itu.

Setelah proses registrasi, peserta diberikan banyak benda-benda menarik seperti kaos, sweatshirt, dan name tag yang harus dipakai sepanjang acara, serta sebuah tas berisi botol minum, buku catatan, pulpen, hingga sikat gigi dan ear plug. Hal yang biasa nampaknya untuk perusahaan sebesar JP Morgan. Tiket kereta bolak-balik Edinburgh-London saja sudah habis sekitar Β£140 sendiri, ya gampang lah ya untuk mengadakan itu semua.

The Cases

Setelah acara pembukaan dan penyampaian beberapa informasi penting selama lomba, akhirnya empat perwakilan NGO pun maju satu per satu untuk menjelaskan topik yang bisa para peserta pilih untuk selesaikan. Keempat kasus itu terdiri dari: peningkatan kesadaran untuk kesejahteraan anak di seluruh dunia (Save the Children), membantu orang-orang yang memiliki diasbilitas (ADD), pencarian lapangan pekerjaan, dan pendampingan bagi para lansia (AgeUK). Yang paling menarik dari awal tentu saja Save The Children, karena sejak pengenalan pun sudah dikatakan bahwa kami bisa bermain-main dengan Fitbit. Saya yang (sok) antimainstream, mencoba mencari ide untuk AgeUK.

Saya pikir AgeUK ini punya kasus yang menarik, yang sebenarnya agak jarang ditemukan di Indonesia. Orang tua di Indonesia biasanya akan tinggal bersama anaknya atau paling tidak tinggal di “kampung” dan hidup bersama para tetangga. Di sini, retirement house itu merupakan hal yang lumrah. Hidup di sini memang lebih individualis, khas negara maju. Maka, saya pikir bagaimana kita bisa meningkatkan interaksi orang-orang dengan para lansia bisa menjadi menarik.

Apa mau dikata, hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa tim kami memilih topik dari Save the Children. Hasil pengalokasian topik dari panitia pun mendukung hal itu. Walhasil, kami mesti berkutat selama kurang lebih 18 jam dengan salah satu wearable device yang sedang nge-hits itu.

Coding Time

Belum langsung ngoding sih tentunya. Kami mesti beradu pikiran dulu, menentukan apa yang mau dibuat. Ribut-ribut pun langsung terjadi sejak awal. Teman-teman dari Design Informatics bersikeras bahwa produk yang dibuat harus ada tujuannya, sementara teman-teman programmer cenderung pragmatis dan membuat apa yang bisa diselesaikan segera.

Idenya adalah sebuah aplikasi berbasis web yang dapat menunjukkan statistik seseorang, bukan hanya saat mengikuti marathon, tapi sejak latihan-latihan menuju marathon itu dilakukan. Lebih dari itu, kita bisa memberikan dukungan atau pun tantangan kepada si pelari, semacam “taruhan”. Jika tantangan tersebut terpenuhi, maka si penantang harus mendonasikan sejumlah uang. Nah, si Fitbit itu pun akhirnya hanya akan dipakai sebagai gawai untuk pengumpul data saja.

Teman-teman desainer masih kurang sreg dengan ide ini. Apa iya orang-orang mau pakai aplikasi ini? Apa yang membuat orang tertarik? Teman-teman programmer ini nampaknya kesulitan menjelaskan. Akhirnya, saya coba jembatani dengan memperlihatkan Phiruntrophy, sebuah produk yang digagas oleh teman-teman di CharityLights. So, disepakati lah apa yang akan kami buat.

Masalah muncul ketika ternyata API dari Fitbit ini sulit sekali dipahami. Beruntung, saya ditugaskan untuk mengerjakan front-end. Jadi, tidak begitu pusing-pusing mengoprek API itu. Toh, cuma perlu mengambil data saja dari Fitbit, yang penting bagaimana menunjukkan hasilnya dan menyusun interaksi pengguna dengan aplikasinya bakal jadi bagian yang lebih bisa ditunjukkan.

Meski sibuk ngoding, alhamdulillah tidak lupa makan dan shalat. Oh iya, ada makanan halal juga loh yang disediakan! Sebelum berangkat ke acara ini memang sempat ditanyakan mengenai penyesuaian menu dengan diet peserta. Asyik yak?

Sekitar dua jam sebelum deadline, saya memutuskan untuk menyudahi ngoding dan mengistirahatkan otak dan badan ini. Oh ya, saya bukan orang yang biasa minum kopi dan sehari sebelumnya saya tidak bisa tidur dengan nyenyak — takut ketinggalan kereta. Jadi, bisa terbayang lah ya betapa ngantuknya saya? πŸ˜€

IMG_20151205_101227804
Mempersiapkan presentasi

The Result

Saya sejak awal agak pesimis, karena di tim kami cuma ada dua programmer dan secara fungsionalitas hitungannya ini baru semacam mock-up saja. Bisa dibilang, baru bagian R dari CRUD saja yang sudah selesai. Apalah yang bisa ditunjukkan kalau begitu? Lagipula, ada penjurian secara teknis, jadi teknologi yang dipakai tentu akan ditanya-tanya.

Keyakinan saya baru bertambah ketika sesi penjurian per topik. Banyak tim lain yang ternyata juga tidak berhasil mengimplementasikan aplikasinya secara baik. Bahkan, sebagian dari future works yang mereka sampaikan sebetulnya sudah berhasil kami kerjakan — dalam versi paling sederhana. Contohnya, mereka ingin mengintegrasikan aplikasi dengan media sosial, sedangkan kami sudah mengimplementasikan satu baris sederhana yang memungkinkan pengguna nge-tweet tentang capaiannya.

Alhamdulillah, ternyata kami sampai ke final four. Baru di sini kelihatan bahwa ternyata dari masing-masing topik itu pemenangnya memang jagoan. Banyak teknologi baru-baru yang digunakan dan secara fungsionalitas mungkin sudah lebih advanced dari yang kami kerjakan. Namun, saya tetap yakin kalau para pendiri CharityLights — Alfian Ramadhan dan Samuel Cahyawijaya — yang terkenal sebagai spesialis hackathon itu bisa menjadi juara di kompetisi ini.

Kami tidak juara satu, tapi sampai ke final saja sudah suatu pencapaian besar menurut saya. Alhamdulillah, akhirnya bisa juga berprestasi di kompetisi semacam ini. Pulang ke Edinburgh dan ke Indonesia nanti ada sesuatu yang bisa dibawa lah. πŸ™‚


Berikutnya, saya akan cerita tentang jalan-jalan di London meski belum benar-benar pulih dari Code for Good yang melelahkan itu.

Cheers!


* Biaya transporasi ditanggung penuh selama di atas 10 GBP, tetapi tidak ada penggantian biaya akomodasi
** Saya sempat melihat platform 9 3/4, tapi ramai betul, jadi cuma foto dari jauh dan kemudian saya tinggalkan

IMG_20151204_114922806
Platform 9 3/4 dan antreannya yang panjang

^ Ternyata tulisannya jadi panjang sekali sehingga baru bisa diselesaikan sekian hari setelah saya tiba di Edinburgh lagi

Iklan

5 tanggapan untuk “London (Part 1: Code for Good)

  1. keren kak. kayaknya seru ya kak kalau ada penjurian teknis nya. soalnya salah satu pengalaman ikut hackaton , yang dinilai cuman ide dan jago-jagoan bikin mockup, jadi coding time justru sebenernya buang buang waktu.

    share video demonya dong kak hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s