Mengapa Menulis?

Pada akhirnya, kita memang makhluk sosial. Perlu tempat untuk berbagi, bercerita. Ada yang punya teman banyak, ada juga yang temannya sedikit tapi sangat intens. Namun, di luar teman, ada hal-hal yang terkadang cuma ingin disampaikan saja, entah siapa yang mempedulikannya.

Itu sebabnya hadir buku diary, blog, dan Twitter. Konon kabarnya, Jack Dorsey dulu hanya ingin punya media yang dapat dipakai tempat bercerita sehingga semua teman-temannya bisa tahu dia sedang di mana dan sedang melakukan apa. Media-media tersebut, mungkin pada akhirnya merupakan seorang teman imajinasi. Tidak pernah tahu — atau tidak pernah peduli — siapa yang sebenarnya berada di baliknya.

Saya pernah menemukan perasaan yang aneh seperti itu. Maksudnya begini, blog ini saya tulis juga karena ingin membagikan isi pikiran saja. Terkadang ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul atau ide-ide gila yang entah harus dibagikan kepada siapa. Daripada menjadi pembicaraan yang canggung, si pendengar bingung harus merespon seperti apa, maka hadirlah blog ini. Blog ini menjadi sarana untuk menumpahkan semua itu, yang terkadang tidak saya sadari dampaknya.

Dengan mengagihkan pos ini ke media sosial, semakin banyak orang di lingkaran saya yang bisa membaca, membuat saya layaknya sebuah buku yang terbuka, sangat terprediksi. Namun, ternyata saya suka lupa dengan hal itu. Ada saja tiba-tiba teman yang tahu isi pikiran saya, padahal saya merasa tidak pernah bercerita apa-apa atau berinteraksi secara intens dengannya.

Kealpaan seperti itu disebabkan oleh abainya kita karena ada satu lapisan tambahan dalam interaksi sosial tersebut. Seolah ada tabir tipis yang membuat samar siapa yang ada di baliknya, padahal toh kita tahu juga siapa orang-orang itu. Aneh memang, tapi begitulah adanya.

Jadi, mungkin kita perlu lebih sadar bahwa dunia maya ini ya hanya perpanjangan dunia nyata saja. Apa yang terjadi di sini, tidak terlepas dari apa yang terjadi di dunia nyata. Bahkan, di sini semua terekam dengan lebih baik, sulit terhapuskan. Once it is on the internet, it stays forever there.

Tulisanmu, harimaumu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s