Mimpi dan Nasionalisme

Ada yang masih teringat dengan kasus mahasiswa bodong? Saya tertegun sejenak setelah membaca posting di Facebook dari salah seorang senior saya yang menceritakan tentang kampus ilegal yang ada di media massa beberapa bulan yang lalu. Di saat banyak orang yang mencemooh dan menjadikan kampus dan mahasiswanya sebagai bahan olok-olokan di media sosial, terlayangkan sebuah surat terbuka ke sebuah majalah nasional. Isinya kurang lebih bisa dilihat di tautan ini.

Sedih rasanya melihat kenyataan bahwa ternyata ada hal-hal seperti ini yang sering luput dari pandangan kita. Begitu nyamannya hidup membuat kita kadang abai terhadap sekitar. Maka, izinkan saya untuk mengajak kita bersama-sama merenungkan hal ini sejenak.

Bahwa Indonesia Bukan Sekadar Jakarta

Sempat dibesarkan di daerah, saya sejujurnya cukup kaget ketika pindah ke Jakarta saat tahun terakhir di SMP dulu. Saya pikir siswa di Jakarta akan jauh lebih rajin dan lebih cerdas. Entah mengapa saya tidak terlalu merasakan hal itu.

Semoga Anda tidak salah menangkap cerita ini, tapi ketika saya dulu baru pindah ke Jakarta, tidak sulit bagi saya untuk mendapatkan peringkat yang cukup tinggi di kelas, mencapai tiga besar. Sementara, ketika saya masih tinggal di Lombok dulu, saya “cuma” bisa dapat di sepuluh besar. Bagi saya agak aneh, ketika orang baru yang masih harus mengalami akulturasi seperti saya bisa mendapatkan pencapaian seperti itu dalam waktu singkat.

Hipotesis saya — dan saya cukup yakin banyak fakta yang menunjukkan hal serupa — adalah bahwa banyak sekali putra daerah yang sebetulnya tidak kalah hebat dari para siswa di ibukota. Masalahnya, mereka tidak terjangkau. Fasilitas yang ada di sekolah mereka tidak memadai dan terkadang guru yang tersedia pun kurang — bahkan ini belum membahas masalah kompetensi.

Jadi, mengapa media hanya sering ribut soal Jakarta?

Keinginan untuk Berbagi

Mungkin benar adanya bahwa keterbatasanlah yang memunculkan kreativitas. Tak jarang kita lihat di media bahwa pemenang lomba-lomba yang melibatkan teknologi dan inovasi justru berasal dari daerah. Inovasi tersebut muncul sebagai jawaban atas permasalahan yang muncul dari sekitar mereka. Mereka berusaha peduli, berusaha berbagi dengan segala keterbatasan yang ada. Sementara kita yang hidup di ibukota mungkin terlalu lelah dengan rutinitas sehingga tidak sempat memikirkan orang-orang di sekeliling kita.

Saya selalu salut dengan orang-orang yang memutuskan untuk pulang lagi ke kampung halamannya setelah menyelesaikan studi dengan baik di rantauan. Mereka mau mengorbankan keinginan pribadinya untuk membantu orang lain. Mereka percaya bahwa dengan niatan dan usaha yang baik, tentu Tuhan tidak akan segan-segan campur tangan untuk membaikkan kehidupannya juga.

Mereka-mereka ini yang sering menyentil saya juga sebagai salah seorang yang diberikan kesempatan yang luar biasa ini oleh Tuhan. Saat saya telah selesai menuntut ilmu di luar negeri kelak, apakah saya akan kembali ke tanah air? Apakah saya akan berbakti kepada tanah air?

Nasionalisme

Banyak orang yang bilang bahwa nasionalisme itu semu. Mengapa kita harus bangga dengan sesuatu yang tidak kita perjuangkan? Kewarganegaraan itu sesuatu yang kita dapat ketika lahir, dan kita tidak bisa “memilih” itu. Lalu, buat apa berbangga?

Betul, tidak ada yang bisa kita banggakan dengan menjadi warga suatu negara. Karena semua ini bukan tentang apa yang sudah kita dapatkan dari negara. Berusaha terus-menerus menanyakan hal tersebut dan hanya mementingkan kebutuhan sendiri tidak akan pernah ada habisnya. Renungkanlah sejenak, kapan sih kita sudah merasa puas dengan hidup ini? Akan selalu ada yang “lebih baik” di sekitar kita.

Yang menjadi esensial pada akhirnya adalah kemampuan kita untuk mensyukuri apa yang telah kita punya. Pasalnya, langsung maupun tidak langsung, selalu ada kontribusi orang lain dalam setiap kesuksesan kita. Ini yang disebut sebagai hidden things oleh Ed Catmull di buku Creativity, Inc. Maka, cara terbaik untuk mensyukuri semua nikmat yang kita punya adalah dengan kembali memberikan sesuatu kepada orang lain.

Bagi saya, itu makna nasionalisme yang sebenarnya.

Masalah pada akhirnya kita harus berada di daerah tersebut untuk membantu atau tidak, mungkin itu nanti harus menjadi ulasan tersendiri di blog ini. Entah kapan mungkin itu akan saya tuliskan. Namun, intinya, selalu bisa kita mulai dari yang terdekat kan?

…ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.
— John F. Kennedy
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s