Cooking Time!

Hidup di negeri orang tentu perlu adaptasi. Banyak hal yang berubah dari kehidupan sehari-hari kita, termasuk dari hal sesederhana makanan. Semua tentu akan terasa asing pada awalnya. Itu juga yang saya alami di perantauan kali ini.

Pencarian Makanan Halal

Alhamdulillah, tidak begitu sulit mencari makanan halal di Edinburgh. Banyak pilihan tempat makan di luar yang bisa didatangi, meski kelihatannya tidak ada makanan Indonesia di sini. Selain itu, banyak juga tempat yang menjual bahan makanan halal bagi yang ingin memasak.

Awalnya, saya masih agak waswas juga ketika membeli bahan makanan, terutama yang bentuknya olahan. Berhubung sering ada rumor bahan makanan yang mengandung babi di dalamnya — sebagai pengemulsi atau campuran dalam sausnya misalnya, saya jadi selalu meneliti bahan-bahan yang tertulis di kemasannya. Namun, ternyata di banyak kemasan bahan makanan tersebut terdapat tulisan “Suited for vegetarian“, jadi insya Allah aman.

Belajar Memasak

Urusan masak-memasak sendiri, saya sebetulnya bukan orang yang terbiasa masak ketika di tanah air dulu. Meski dulu sempat ngekos di Bandung, tapi saya hampir tidak pernah memasak karena mudah dan murah sekali untuk makan di luar. Di Bandung, Rp 20.000 sudah makan enak. Di sini, £1 baru dapat satu bahan makanan atau satu jenis bumbu saja.

Walhasil, demi penghematan memang harus belajar memasak. Untungnya, meski tidak begitu jago, tapi saya bisa lah masak sedikit-sedikit. Minimal masak telur sudah tidak gosong. Hahaha…

Serunya, saya jadi bisa mencoba berbagai macam resep baru. Bermodalkan video di YouTube atau resep yang berseliweran di internet, tinggal bereksperimen saja dengan bahan-bahan yang tersedia. Alhamdulillah sih sejauh ini makanan yang dimasak masih bisa dimakan. Ada lah rasanya walaupun terkadang takarannya masih kurang pas. 😛

Jam Biologis

Dengan membiasakan diri memasak, jam biologisnya juga mau tidak mau cukup berubah. Sehabis subuh, saya biasanya sudah mulai memasak. Jadi, makan paginya bisa sekitar jam 7. Oh, anyway, saya baru menyadari kalau memasak itu bisa membutuhkan waktu sampai satu jam. 😐

Masak-masakan pagi hari ini juga dilakukan untuk menyiapkan bekal makan siang. Nah, makan siangnya sendiri waktunya masih belum tentu dalam beberapa hari terakhir ini. Tergantung kosongnya jam berapa.

Makan malam lebih ajaib lagi. Hari pertama saya di sini, saya mesti menggunakan bis dulu untuk mendapatkan makan malam sekitar pukul 9. Pernah juga tidak makan malam karena masih kenyang dari makan siangnya. Sedangkan, kemarin saya makan bersama sekitar jam 7 dengan Islamic Society of Edinburgh University.*

Ini baru satu musim. Saya tidak tahu bagaimana urusan makanan ini di musim-musim berikutnya. Kalau dilihat di TV sih, biasanya ganti musim ganti jenis makanannya. Well, kita lihat saja nanti.

Yang penting, apa yang ada disyukuri toh?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s