RM. Linggarjati, Bandung

Berawal dari kekurangkerjaan, saya berniat di hari Jumat yang lalu untuk shalat Jumat di Masjid Raya Bandung. Sejak sebelum ada alun-alun yang bagus seperti sekarang, saya sebetulnya sudah berkali-kali berniat shalat tarawih di tiap Ramadhan yang saya habiskan di Bandung. Akhirnya, baru kesampaian sekarang ini.

Nah, setelah selesai shalat Jumat, seperti halnya kebanyakan orang, saya pun pergi mencari makan siang. Seharusnya, di sekitar masjid sebesar ini ada banyak pilihan makanan menarik. Berhubung tidak banyak yang ingin saya kerjakan di hari Jumat itu, maka saya tidak terlalu terburu-buru mencari tempat makannya.

Setelah sibuk mencari-cari rekomendasi tempat makan melalui ponsel yang tak kunjung mendapatkan sinyal, akhirnya teman perjalanan saya menemukan satu tempat yang konon kabarnya direkomendasikan oleh kenalannya yang doyan makan enak: RM. Linggarjati. Promosi dari teman saya ini tidak tanggung-tanggun: jus alpokat (atau dalam bentuk bakunya avokad) yang terenak sedunia. Siang yang terik begini ditawarkan minuman segar semaca itu, siapa pula yang bisa menolak?

Walhasil, berjalanlah kami mencari tempat yang dimaksud. Namun, teman saya ini nampaknya bukan penunjuk jalan yang baik. Kami sempat salah jalan — seharusnya saya melihat kemungkinan kesalahn ini dari keputusannya untuk naik ojek ke alun-alun yang harusnya sudah sering dia lewati. 😐

Yah, akhirnya kami sampai di tempat yang dimaksud — tidak sampai 100 meter dari salah satu ujung trotoar yang mengelilingi alun-alun.

Kesan pertama melihat tempat makannya adalah, “Wih, ramai. Mestinya ini memang benar-benar enak.” Tempat makannya sendiri khas tempat makan enak(?) yang sederhana, cukup tua, terlihat agak pengap, tetapi tidak pernah sepi pengunjung. Namun, beruntung kami langsung mendapatkan tempat duduk karena ada yang baru saja selesai makan.

Kami disodori menu yang menunjukkan beberapa pilihan makanan dan minuman — tetapi tidak disertai harganya. Pilihan makanannya hanya mie ayam dan bihun dengan berbagai macam variasi pelengkap: bakso, pangsit, siomay, hingga babat. Berhubung beberapa hari terakhir saya makan mie ayam, jadi saya memilih untuk memesan bihun saja, dan tentunya segelas jus avokad.

Minumannya datang jauh lebih cepat daripada makanannya. Dalam sekali seruput, saya langsung mengerti mengapa orang-orang merekomendasikan membeli minuman ini. Rasa manisnya itu berbeda dari jus avokad kebanyakan. Sepengelihatan saya, ada campuran gula merah yang digunakan sebagai pemanis jus ini. Mantap lah pokoknya.

Di sini bagian tidak mengenakkannya. Berhubung tidak tahu harganya, maka mata saya mencoba menyelisik sekitar, telinga pun saya tajamkan untuk mendengarkan pembicaraan di kasir yang berada tak jauh dari tempat kami duduk. Mata saya tertuju pada selembar kertas yang ditempel di dinding di sebelah kasir yang menunjukkan daftar harga.

Mie Bakso Pangsit | 1 | 48.000
Jus Avokad | 1 | 25.000

Saya terdiam sejenak.

Saya langsung menanyakan teman makan saya berapa uang yang dia sedang bawa, karena di dompet saya saat itu hanya ada satu lembar Rp 50.000 dan beberapa lembar uang Rp 2.000. “Tidak akan cukup ini,” pikir saya. Teman saya menjawab bahwa uangnya pun hanya Rp 50.000, tapi dia benar-benar merasa santai saja — yakin bahwa uangnya akan cukup. Tak lama setelah menemukan harga itu, saya semakin teryakinkan dengan harga yang mahal tersebut karena baru saja mendengar seorang wanita yang membayar sekitar Rp 150.000 untuk dua porsi makanan dan minuman yang dibelinya.

“Tenang aja, Li. Buat apa ada dua tangan ini?” kelakar teman saya, memberikan gestur seakan dia siap mencuci piring kalau tidak bisa bayar.

Rumah makan ini juga tidak terlihat seperti rumah makan yang menyediakan pembayaran menggunakan metode lain selain cash. Daripada saya makan tidak tenang dan jadi tidak enak rasanya, lebih baik saya cari ATM terdekat untuk mengambil uang kan? Nah, untungnya tidak terlalu jauh dari sana ada ATM dari sebuah bank yang entah mengapa bisa punya kantor cabang yang hanya dipisahkan dengan alun-alun saja dengan kantor cabang lainnya dari bank tersebut. Pengalaman makan kali ini benar-benar membuat saya gagal paham, kalau menurut istilah anak zaman sekarang.

Oh iya, bihunnya menurut saya biasa saja. Kuahnya sih cukup ringan, tapi saya harus menambahkan sambal dan kecap untuk melengkapi rasanya. Baksonya sih cukup empuk, tapi pangsit rebusnya yang menurut saya paling juara rasanya.

Overall, seperti yang akhirnya disampaikan temannya teman saya kepada teman saya yang akhirnya disampaikan ke saya, intinya: kalau ke sini, pesan jus avokadnya saja, jangan pesan makanan. Dengan harga segitu, saya tidak menyarankan untuk membeli makanannya, kurang sepadan saja rasanya. Untuk ukuran mie ayam, ada beberapa tempat lain di Bandung yang rasanya lebih mantap menurut saya.

Apa santap siang Anda hari ini?

Iklan

2 tanggapan untuk “RM. Linggarjati, Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s