Alphabet, Google, dan Mainan Baru

Google memang bukan perusahaan kemarin sore. Setiap langkah selalu menarik untuk dibahas baik dari sisi bisnis maupun teknologi. Semua bisa terjadi karena sedemikian lekatnya produk Google dengan kehidupan kita sehari-hari. Siapalah sekarang yang bisa jauh dari Google search, Google Maps, atau Android?

Produk Google

Ketika Larry Page memberitakan bahwa Google “berubah” menjadi Alphabet, maka gegerlah dunia. Semua sibuk membuat analisis: theverge, Mashable, techradar, BusinessInsider, BloombergView, dan lain-lain. Belum lagi media lokal yang ikut sibuk mengutip dari sana-sini supaya tak ketinggalan berita heboh ini.

Dari sekian banyak ulasan itu, izinkan saya untuk memberikan sebuah pandangan sederhana atas semua kebijakan ini. Di luar sisi manajemen atau bisnis, ada satu hal yang saya rasa benar-benar bisa menggerakkan Larry Page dan Sergey Brin untuk mengambil keputusan besar ini. Apa itu? Sesuatu hal sesederhana keinginan akan mainan baru.

Mainan Baru

“We did a lot of things that seemed crazy at the time. Many of those crazy things now have over a billion users, like Google Maps, YouTube, Chrome, and Android. And we haven’t stopped there. We are still trying to do things other people think are crazy but we are super excited about.” – Larry Page

Tatkala capaiannya sudah sejauh ini, saya pikir mereka bukan lagi mencari materi. Mereka hanya ingin punya mainan baru — sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lebih banyak orang lagi. Ini yang saya rasa membedakan Google dengan perusahaan lainnya: keinginan untuk terus berinovasi.

Kalau kita perhatikan, sementara taipan-taipan perusahaan teknologi lain sibuk diberitakan sebagai orang-orang yang drop-out dari universitas, Larry Page dan Sergey Brin berbeda. Well, mereka juga drop-out — tapi dari program PhD. Keduanya sudah mendapatkan gelar master dari Stanford University saat membangun Google.

Waktu berlalu dan Google pun tumbuh semakin besar. Bila dihitung sebagai umur manusia, maka Google sudah beranjak dewasa sekarang dan sebentar lagi akan masuk kuliah. Bagi kebanyakan orang, terutama dalam budaya barat, ini berarti bahwa Google sudah bisa “memilih jalannya sendiri”.

Belajar Melepaskan

Saat Google sudah sebesar sekarang, tentu ada perasaan berat untuk melepasnya. Ini sesuatu yang mereka sudah bina sejak tujuh belas tahun yang lalu! Maka, penunjukkan Sundar Pichai sebagai CEO yang baru pun tentu memerlukan proses pertimbangan yang panjang.

“This new structure will allow us to keep tremendous focus on the extraordinary opportunities we have inside of Google. A key part of this is Sundar Pichai. Sundar has been saying the things I would have said (and sometimes better!) for quite some time now, and I’ve been tremendously enjoying our work together. He has really stepped up since October of last year, when he took on product and engineering responsibility for our internet businesses. Sergey and I have been super excited about his progress and dedication to the company. And it is clear to us and our board that it is time for Sundar to be CEO of Google.” – Larry Page

Tentu, ini akan jadi sebuah “kehilangan” yang besar bagi Larry Page dan Sergey Brin. Namun, saya selalu teringat akan perkataan ini,

“Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan.” – Tere Liye

Bahwa demi mencapai sesuatu yang lebih, terkadang kita memang perlu melepaskan sesuatu yang selama ini menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk kita. Di titik inilah mungkin satu-satunya alasan kita tidak boleh merasa cukup: berusaha bermanfaat bagi orang lain.

Berkelana

“Mereka lagi berkelana,” tutur seorang teman tentang manuver para pendiri Google ini. Dalam usahanya untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak — mereka mesti merasa tidak nyaman lagi, mereka mesti merasa “bodoh” lagi. Karena hanya dengan cara demikianlah mereka bisa berinovasi lagi.

Satu poin yang perlu digarisbawahi dalam perjalanan ini adalah bahwa semua usaha ini memang tidak pernah sebentar. Butuh waktu tujuh belas tahun sampai pada akhirnya Google dilepaskan, untuk kemudian para pendirinya memilih berkelana lagi. Jadi, pada akhirnya, memang semua butuh waktu.

Saya mencoba untuk percaya pada prinsip itu dalam menjalani hidup. Bahwa hal-hal baik acap kali perlu waktu untuk bisa dipahami orang lain. Jadi, seharusnya kita tidak perlu khawatir dan sibuk membanding-bandingkan pencapaian kita dengan teman sebaya. Selama kita tahu bahwa kita sedang mengerjakan sesuatu yang ditujukan untuk manfaat orang lain, maka teruslah perjuangkan itu. Namun, jangan pernah kaku dan merasa bahwa cara kita melakukannya sudah paling benar. Pertanyaan besarnya sekarang adalah:

Apakah kita sudah berada di perkelanaan yang benar?

Iklan

5 tanggapan untuk “Alphabet, Google, dan Mainan Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s