What is Happiness?

Dalam hidup ini, entah sudah berapa kali saya bertanya kepada diri saya, bahkan kepada orang-orang di sekitar saya: Apa itu kebahagiaan? Apa yang menyebabkan seseorang merasa bahagia? Nyatanya, dari sekian kali pertanyaan itu dilontarkan, tetap saja saya masih merasa perlu mencari hakikat kebahagiaan yang sebenarnya.

Banyak yang secara tidak sadar menaruh materi sebagai ukuran utama dari keberhasilan, kesuksesan, dan — pada akhirnya — kebahagiaan. Hidupnya selalu dipenuhi dengan target-target supaya bisa membeli banyak hal, pergi ke berbagai tempat di segala penjuru dunia, dan menikmati makanan dengan kualitas kelas satu. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan materi. Kalau sudah begini, biasanya selalu saja ada yang berceloteh,

“Yes, money can’t buy happiness, but it’s more comfortable to cry in a BMW than on a bicycle.”

Banyak yang mempertanyakan konsep kebahagiaan tanpa memiliki — atau hanya sedikit sekali — materi. Betul memang, hidup itu tetap perlu materi. Saya tidak menampik itu. Namun, perkataan orang dulu tentang hidup berkecukupan itu bukan berarti rumah cukup dua, villa cukup satu, dan mobil cukup tiga. Karena bahkan ketika kita sudah punya semua itu, selalu saja ada orang lain yang punya lebih bagus atau lebih banyak.

Jadi, berkecukupan itu masalah bersyukur. Dari apa yang kita punya, apakah kita sudah merasa cukup dan bersyukur dengan itu semua. Konsep ini mudah diceritakan, tetapi sangat sulit untuk dipahami, apalagi untuk dipraktikkan.

Saya juga sering merasa terusik dengan fakta bahwa banyak sekali orang mengadu nasib ke ibukota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Terkadang saya tidak habis pikir mengapa banyak orang yang rela bekerja 5 to 9 — berangkat jam 5 pagi dari rumah, lalu sampai di rumah pukul 9 malam. Kalau ditanya dan benar-benar mau dipikirkan lagi, are they really happy?

Hidupnya terpaksa habis di jalan, bung! Saya rasa kita sudah tidak asing dengan cerita berangkat sebelum anak bangun dan pulang setelah anak tidur. Apalah artinya mencari uang yang melimpah itu kalau pada akhirnya tidak bisa dinikmati dengan orang-orang terkasih?

Jadi, apakah kita sudah merasa bahagia dengan hidup kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s