Ga Enakan

Orang Indonesia itu lucu sekali menurut saya. Terkadang saya suka sulit untuk mengerti mengapa banyak sekali basa-basi yang dilakukan oleh orang Indonesia. Rasa toleransi di sebagian besar orang tersebut terlalu tinggi sampai-sampai bisa muncul rasa “ga enakan”. Risih.

Coba kita ingat-ingat, apakah kita termasuk orang yang belum mau makan sampai semua teman mendapatkan makanannya ketika berada di restoran? Atau, siapa yang merasa harus pamitan dengan semua orang yang ada di suatu tempat, padahal belum tentu kenal dengan semua orang itu? Lantas, berapa kali kita hampir tidak jadi pergi hanya karena ada seorang teman yang tidak tahu caranya untuk mencapai tempat tujuan tersebut — karena tidak punya kendaraan, misalnya?

Lucunya, perasaan “ga enakan” itu suka terbawa-bawa ke hal yang sifatnya prinsipil. Kita menggunakan alasan “ga enakan” tersebut untuk melakukan suatu hal, yang terkadang sebetulnya melanggar suatu hal yang fundamental — yang “agak” melanggar prinsip kita. Dalam kasus yang paling sederhana, kita sering terlalu takut untuk mengingatkan ketika orang lain berbuat salah — hanya karena tidak mau menyinggung perasaannya. Mulai merasa ada yang aneh?

Saya jadi teringat tentang suatu artikel yang pernah saya baca perihal kasus ini. Katanya, banyak orang Indonesia itu menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang tidak dapat ditoleransi. Contoh paling sederhananya bisa kita lihat melalui liputan di berbagai media tentang hasil dari suatu pertandingan sepak bola. Kata-kata yang dipakai itu bermacam-macam: menggunduli, meluluhlantakkan, menggilas, mempermalukan, menghancurkan, dan lain sebagainya. Seolah-olah kekalahan itu adalah sesuatu yang memalukan sekali.

Belum lagi kalau sudah masuk ke tatanan pemerintahan. Rasanya pemerintahan itu tidak ada yang benar di mata kebanyakan orang Indonesia. Sebegitu tidak tolerannya kita sehingga selalu yang dilihat itu cuma sisi jeleknya. Jika ada sisi baik, biasanya hanya dianggap sebagai usaha pencitraan.

Pemerintah itu hampir pasti bikin salah. Karena tidak ada yang namanya kebijakan yang dapat menyenangkan semua golongan. Sekarang masalahnya, maukah kita melihat sisi lain dari kebijakan yang pemerintah buat itu. Tentu mereka yang duduk di kursi pemerintahan tidak selamanya seperti yang “terlihat di televisi” saja.

Lucu ya? Kok malah jadi terbalik ceritanya? Kita ingin jadi orang yang begitu toleran, tapi kok ya malah jadi sangat tidak toleran di sisi lainnya? Namanya orang toleran, seharusnya bisa memahami bahwa manusia itu ya tempatnya salah dan lupa. Ingatkanlah, tapi tidak perlu diingat-ingat.

We will make mistakes, eventually.

Masalahnya hanya: maukah kita memperbaiki kesalahan itu?

Iklan

2 tanggapan untuk “Ga Enakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s