Programming Everywhere

Ketika semua orang belajar programming, lalu lulusan ilmu komputer / teknik informatika mau jadi apa?

Pertanyaan atau pernyataan semacam itu rasanya sudah tidak asing kita dengar saat ini. Mereka yang katanya lulusan informatika atau ilmu komputer selalu dipertanyakan kemampuannya, karena toh memang banyak kursus, buku, maupun kuliah daring (dalam jaringan) yang mengajarkan tentang programming. Mau bahasa pemrograman apapun ada. Yang menjanjikan belajar kilat dalam beberapa jam juga mudah ditemukan di rak-rak toko buku.

Jadi, di samping bersaing dengan lulusan informatika lain yang jumlahnya juga tidak sedikit, para “informatikawan” ini juga harus berhadapan dengan mahasiswa atau lulusan jurusan lain seperti elektro, fisika teknik, hingga matematika. Bahkan, topik programming pernah jadi edisi khusus dari Bloomberg Businessweek. Kata orang-orang sih, programming itu tidak lama lagi akan menjadi seperti belajar bahasa Inggris — suatu kebutuhan pendidikan yang esensial.

Nah, kembali ke pertanyaan yang dilemparkan di awal, “Ketika semua orang belajar programming, lalu lulusan ilmu komputer / teknik informatika mau jadi apa?”

Software vs Arsitektur

Kalau berhadapan dengan pertanyaan seperti itu, saya selalu teringat akan perkataan salah seorang dosen sekaligus mentor saya: Pak Budi Rahardjo. Beliau — yang aslinya adalah orang elektro — pernah berkata bahwa programming itu pada hakikatnya mirip dengan arsitektur juga. Kalau beliau diminta merancang rumah satu tingkat, beliau cukup yakin bahwa beliau mampu untuk melakukkannya. Namun, lain halnya ketika beliau diminta merancang gedung dua puluh tingkat, beliau jelas akan angkat tangan.

Begitulah. Kata kunci yang sering keluar memang hanya “programming”. Walakin, di belakang itu banyak sekali hal yang terjadi dan ada banyak peran dalam dunia pembangunan perangkat lunak: system engineer, system architect, system analystdatabase administrator, UX designer, UI designer, Quality Assurance, hingga developer-nya sendiri. Untuk sekadar membuat aplikasi kecil yang dipakai oleh satu orang saja, mungkin hanya perlu satu orang yang memegang semua peranan itu. Namun, ketika kita bicara skalanya satu perusahaan, atau bahkan satu negara, maka tidak mungkin semua itu dibebankan ke satu orang saja. Bisa-bisa “bangunan digital” itu rubuh dalam waktu yang singkat.

Data, Bisnis, dan SQL

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengajarkan divisi Monitoring and Evaluation (M&E) di kantor tentang SQL. Mereka yang notabene adalah lulusan kesehatan masyarakat pada akhirnya juga bisa mengikuti “pelajaran” itu. Sekarang, untuk data jenis baru yang masuk — yang memang belum disediakan semacam dashboard-nya, mereka sudah bisa mengambil sendiri langsung ke database. Ini benar-benar meringankan pekerjaan saya di kantor yang dulu hanya sendirian sebagai tenaga kerja IT.

Tempo hari, saya bahkan baru mendapatkan sebuah kabar menarik dari adik saya. Dia baru saja selesai interview di sebuah perusahaan e-commerce multinasional, dan dia ditanya apakah menguasai SQL atau tidak. Padahal, menurut keterangan yang tertulis di situs lowongan pekerjaannya, persyaratannya hanya menguasai Ms. Excel. Menarik bukan? Padahal, posisi yang dilamar ada di bagian business development yang biasanya diisi oleh anak-anak teknik industri.

Faktanya, memang Anda mungkin sudah sampai tahap risih mendengar jargon seperti big data, data analysis, atau data mining. Bisnis memang pada akhirnya membutuhkan banyak hal untuk bisa terekam untuk kemudian diolah datanya menjadi suatu informasi yang bernilai. Tidak ada yang salah dengan itu, bahkan mungkin memang sudah seharusnya seperti itu.

Terlebih lagi, banyak hal yang sudah bisa diotomasi. Hal-hal yang melelahkan dan berulang-ulang, sudah sangat mungkin diserahkan kepada mesin. Jadi, manusia seharusnya bisa memanfaatkan otaknya untuk mengerjakan yang di luar itu. Nah, bagi orang-orang lulusan informatika seperti saya, tantangannya adalah,

Apakah saya sudah mengerti lebih dari sekadar programming?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s