Menulis Akademis

Sesering-seringnya saya menulis di blog ini, tetap saja bahasa yang digunakan sederhana. Selain itu, bahasannya pun tidak jauh dari kehidupan sehari-hari. Saya pikir, menulis secara akademis seharusnya tidak sesusah itu jika saya sudah sering menulis di tempat seperti ini.

Nyatanya, saya salah. Saat saya menulis makalah untuk kebutuhan lulus dulu (yang juga diikutkan dalam Konferensi Nasional Informatika 2013), perlu waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan makalah sebanyak lima halaman tersebut. Padahal, makalah itu sebenarnya mayoritas terdiri dari rangkuman tugas akhir saya.

Itu baru tulisan dalam bahasa Indonesia, bagaimana kalau dalam bahasa Inggris?

Dari hasil tes IELTS saya, komponen writing mendapatkan nilai terendah — hanya 6.0. Padahal, saya masuk ke kategori kelas writing saat mata kuliah bahasa Inggris dulu. Ini juga seharusnya bukan karena saya bermasalah dalam pemahaman bahasa Inggris, karena nilai reading saya bisa dikategorikan cukup tinggi.

Yang membuat saya agak khawatir sekarang adalah kenyataan bahwa kuliah saya yang tinggal beberapa bulan lagi itu konon kabarnya sangat memperhatikan penulisan akademis. Untuk mendapatkan poin tinggi, tulisannya harus benar-benar bagus, baik dari sisi analisis, struktur, hingga tata bahasa. Ini sudah terlihat dari perbedaan kemampuan menulis antara saya dan seorang teman yang sekarang menjadi rekan dalam menulis blog tentangdata.

Blog tersebut sebetulnya dibuat bersifat ilmiah-populer, jadi harusnya tidak benar-benar butuh analisis mendalam — yang penting deskriptif saja. Namun, itu saja banyak sekali suntingan yang harus saya lakukan setiap kali saya menyelesaikan suatu draft. Kalau sekarang sih, mungkin saya bisa berdalih bahwa saya hanya terbiasa menulis blog, tapi ketika kuliah nanti kan alasan itu tidak bisa dipakai lagi?

Nampaknya saya memang benar-benar harus latihan menulis akademis lagi.

Iklan

2 tanggapan untuk “Menulis Akademis

    1. Benar-benar perlu dipaksa sih, Kak. Kalau menulis akademis, kendala utamanya biasanya adalah: Apa tujuan dari penulisannya? Bisa tercapai atau tidak?

      Kalau isinya kegagalan semua, malah jadi demotivasi. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s