Norma dan Efisiensi

Saya bosan dengan kata-kata pembuka yang sama, tapi mau bagaimana lagi? Hidup kita memang isinya perbandingan saja, dan kita hidup di zaman sekarang. Jadi, biarlah.

Di zaman modern seperti sekarang ini, sifat-sifat yang menyangkut aspek sosial seolah-olah semakin terasing — terlebih lagi dalam kehidupan di ibukota. Korupsi, kolusi, dan nepotisme seharusnya tidak akan pernah kita dengar seandainya kepentingan masyarakat luas lebih dijunjung dibandingkan kepentingan sebagian golongan — seperti halnya yang diajarkan saat Pendidikan Kewarganegaraan dulu. Yang paling anyar, kasusnya adalah teror yang didapatkan oleh driver Gojek dari tukang ojek pangkalan.

Berangkat dari situ, muncul lah banyak cerita tentang pro-kontra Gojek vs ojek pangkalan. Banyak yang mendukung Gojek rasanya, tapi ada juga yang mendukung ojek pangkalan. Salah satunya, bisa dilihat di sini. Saya tidak mau ikut-ikutan ribut atau mendukung salah satu di sini. Saya punya kecenderungan ke salah satu, tentu saja, tapi tidak perlu lah ya saya perpanjang cerita itu — meski Anda mungkin akan menangkapnya pula pada akhir cerita ini.

Yang mau saya soroti di sini adalah kenyataan bahwa kasus seperti ini ternyata terjadi di banyak elemen dalam kehidupan modern. Kasus-kasus ini mengingatkan saya pada salah satu bab di buku Predictably Irrational karya Dan Ariely yang menceritakan tentang norma sosial versus norma pasar. Ini kutipan cerita yang menariknya:

You are at your mother-in-law’s house for Thanksgiving dinner, and what a sumptuous spread she has put on the table for you! The turkey is roasted to a golden brown; the stuffing is homemade and exactly the way you like it. Your kids are delighted: the sweet potatoes are crowned with marshmallows. And your wife is flattered: her favorite recipe for pumpkin pie has been chosen for dessert.

The festivities continue into the late afternoon. You loosen your belt and sip a glass of wine. Gazing fondly across the table at your mother- in- law, you rise to your feet and pull out your wallet. “Mom, for all the love you’ve put into this, how much do I owe you?” you say sincerely. As silence descends on the gathering, you wave a handful of bills. “Do you think three hundred dollars will do it? No, wait, I should give you four hundred!”

Dalam artikel yang saya agihkan tentang memori ojek pangkalan itu, topik yang banyak disorot adalah masalah empati — kehidupan sosial. Bahwa ternyata semua orang di kota metropolitan selalu mencari yang lebih efisien sehingga melupakan esensi kemanusiaannya, bahwa ada kedekatan antara si penulis dengan tukang ojek pangkalan langganannya yang membuat dia bisa berutang. Ada kepercayaan yang dibangun di situ, dan kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dibeli — sama seperti masakan mertua dalam kutipan di atas yang tidak mungkin kita bayar dengan berlembar-lembar rupiah/dollar.

Pada akhirnya, semua orang mencari efisiensi dalam kehidupan ini. Semua orang benci pada ketidakpastian. Itu sebabnya Gojek cenderung lebih disukai, karena selalu bisa diukur dalam satuan rupiah. Namun, ada satu hal yang mengusik batin saya dalam semua perdebatan ini,

Apakah saat semua jadi serba efisien, kita hanya akan menjadi robot-robot dalam peradaban?

Referensi:
http://danariely.com/the-books/excerpted-from-chapter-4-%E2%80%93-the-cost-of-social-norms/

Iklan

Satu tanggapan untuk “Norma dan Efisiensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s