Media

Arus informasi menggila. Anda mungkin menemukan tulisan ini di antara tumpukan bacaan yang menggunung di sekeliling Anda. Tulisan ini mungkin hanya jadi sebuah usaha kecil dalam penyebaran kebaikan.

Begitulah media 2.0. Keterhubungan masyarakat benar-benar terekam. Dinding pun bertelinga sekarang. Dulu orang berpikir bagaimana caranya bisa berinteraksi dengan penyiar di TV, sekarang itu semua terjawab dengan mudahnya melalui media sosial.

Saya belajar banyak tentang ini dari siaran Star Talk semalam yang digawangi oleh astrofisikawan Neil deGrasse Tyson. Malam itu, mereka membicarakan tentang media sosial dan jurnalistik. Mengundang Jeff Jarvis — seorang profesor di bidang jurnalistik — dan Chuck Nice — seorang komedian di AS, mereka membicarakan bagaimana media konvensional “bersaing” dengan media sosial di zaman seperti sekarang ini. Anda bisa menonton cuplikannya di sini.

Menariknya, memang media konvensional pada akhirnya selalu berhulu pada masyarakat, yang dalam era pos-Gutenberg ini bersumber dari media sosial. Media sosial memberikan mimbar bagi siapa saja, termasuk orang-orang yang dianggap mengganggu karena kekurangan ilmunya — asal bunyi. Perhatikanlah, sudah berapa kali Anda merasa kesal karena tulisan yang Anda lihat di Facebook yang berasal dari orang-orang terdekat Anda?

Begini, dari dulu, orang-orang yang menyebalkan itu selalu ada. Orang-orang yang berkomentar tanpa tahu ilmunya itu juga selalu ada. Bedanya, dengan adanya media sosial, semua itu menjadi terpatri. Mereka punya probabilitas yang lebih tinggi untuk mendapatkan perhatian. Padahal, mungkin secara rasio jumlah mereka dulu dan sekarang itu sama. Jadi, apa yang harus dilakukan?

Sederhana saja, jangan berikan perhatian yang mereka inginkan. Jangan “memberi makan” mereka. Persentase mereka seharusnya kecil, tapi dengan memberi mereka makan, maka mereka dapat tumbuh besar. So, don’t ever laugh at their posts.

The Huffington Post dulu mencoba menggunakan algoritma yang canggih dan 30 orang moderator manusia untuk menyingkirkan internet troll tersebut dari kolom komentar artikel-artikel mereka. Namun, internet troll ini seakan tidak pernah habis. Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan bahwa mengapa mereka harus memusingkan sekelompok orang yang mungkin hanya sejumlah 0,00001 persen dari populasi ini?

Pada akhirnya, media sosial memang sebuah usaha pencitraan. Dan citra yang dibangun tersebut bisa jadi citra yang baik, bisa juga citra yang buruk. Karena, toh, tidak semua hal yang kita alami dalam hidup kita masukkan ke sana kan? Maka, di samping kita perlu menyaring hal-hal buruk yang berseliweran di sekitar kita, ada satu hal yang tak kalah penting: menghasilkan karya-karya positif.

Apakah kita sudah cukup berkarya hari ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s