Sekelumit Jakarta

Hari ini saya melihat beberapa hal yang “menarik” sekali di ibukota tercinta ini. Ini membuat saya benar-benar berkontemplasi. Saya yang biasanya hidup enak, tinggal pilih naik motor atau naik mobil ke kantor — meski waktu tempuhnya bisa mencapai satu jam, hari ini melihat lagi apa yang lama saya tinggalkan sejak lulus SMA: kehidupan angkutan umum.

Semua berawal ketika saya harus mengunjungi salah satu rumah sakit di bilangan Jakarta Timur. Menariknya, meski rumah sakit ini akan dicalonkan sebagai subrujukan untuk kasus tuberkulosis (TB), masih banyak hal yang saya pikir harus dibenahi dari sarana maupun prasarananya. Gampangnya, ada kok beberapa rumah sakit lain yang punya kapasitas lebih.

Well, ternyata memang rumah sakit tersebut mencerminkan daerah di sekitarnya. Berhubung lokasinya dekat dengan terminal — yang sebetulnya juga hanya terminal bayangan, maka berseliweranlah kendaraan umum berbagai jenis. Saya yang saat itu sedang senggang, memutuskan menggunakan bis untuk mencapai tujuan saya berikutnya.

Hal yang pertama saya sadari adalah betapa semrawutnya sistem transportasi umum ini: tidak ada halte yang nyaman untuk menunggu, jadwal yang tidak pasti, hingga masih banyaknya anak jalanan yang mencari uang dengan berbagai macam cara. Yang membuat makin miris, ketika saya menunggu di bawah terik matahari siang itu, saya melihat seorang anak kecil yang sedang merokok. Ia masih usia sekolah dasar, tapi tidak ada yang menegurnya mengepulkan asap dari benda berbahaya itu. Dan, hey, ini jam sekolah, mengapa dia tidak pakai seragam dan tidak berada di sekolah?

Itu baru satu kasus. Saya juga melihat seorang bocah laki-laki yang mengamen di dalam bis. Biasa mungkin. Yang tidak biasa adalah tindakan dia berikutnya. Ketika dia sudah turun dari bis, kemudian seorang wanita muda masuk ke dalam bis dan mengambil tempat duduk tidak jauh di depan saya. Kalian tahu yang anak kecil itu lakukan? Ia kembali ke dalam bis, meminta-minta pada wanite tersebut (tidak mengamen lagi), kemudian mencolek-colek lengan wanita tersebut. Entah dari mana ia berpikiran untuk melakukan hal tersebut. Namun, saya cukup yakin bahwa apa yang dia saksikan selama ini di lingkungannya telah menjadi preseden yang buruk.

Itulah sekelumit kehidupan ibukota. Meski saya menemukan hal-hal seperti itu, meski saya “dipaksa” memikirkan hal-hal seperti itu, tetap saja saat ini saya sedang duduk enak di sebuah mal yang dingin, menulis di depan laptop kesayangan yang harganya mungkin bisa dipakai untuk uang kuliah saya dua semester dulu. C’est la vie.

Saya mungkin selama ini mengeluhkan lamanya waktu tempuh rumah-kantor sehari-hari yang bisa mencapai satu jam. Saya mungkin juga sering dipusingkan karena tidak punya teman main di waktu-waktu kosong saya. Gawai-gawai yang saya miliki mungkin juga kalah canggih dengan kebanyakan yang teman saya punya.

Namun, bukankah masih banyak hal yang bisa disyukuri dari hidup ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s