Tragedy of the Commons

Pernah dengan istilah tersebut? Saya baru dengar juga, tapi secara konsep, saya yakin kita sama-sama sudah tahu. Bayangkan sebuah desa yang berisi para peternak kambing. Para peternak tersebut selalu menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang subur. Dengan kecepatan konsumsi rumput oleh kambing seperti sekarang, siklusnya sudah cukup untuk membuat rumput di padang tersebut tumbuh lagi untuk dapat dimakan oleh kambing sepanjang tahun. Masalah muncul ketika seorang penggembala merasa bahwa dengan rumput yang subur dan baik seperti itu dia bisa menambah keuntungan pribadinya dengan menggembalakan lebih banyak kambing lagi di tempat tersebut.

Di awal, mungkin dampaknya tidak terlalu terasa. Namun, lambat laun, persediaan rumput yang subur di padang tersebut semakin menipis. Bahkan, di akhir tahun sudah tidak ada lagi rumput yang tersisa yang dapat dikonsumsi oleh kambing-kambing. Jadi, hanya karena keinginan seorang saja untuk mendapatkan lebih — menjadi rakus, semua terkena kerugiannya.

Mengerti kan maksudnya?

Nah, kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa hal-hal yang seperti itu sebetulnya banyak terjadi di sekeliling kita. Mungkin kita sebagai yang dirugikan, atau bahkan mungkin yang merugikan. Coba perhatikan, kira-kira mengapa kota seperti Jakarta bisa sangat dipenuhi oleh polusi? Karena setiap orang merasa bahwa mobil yang dia beli sudah sangat ramah lingkungan sehingga emisinya sedikit. Masalahnya, semua orang berpikiran hal yang sama sehingga akhirnya tetap saja polusinya menumpuk.

Hal yang sama juga terjadi pada kasus kemacetan, pencemaran sungai, dan — yang paling mahal harganya — kepercayaan. Coba perhatikan, betapa kita tidak percaya pada partai politik sekarang, atau betapa tidak percayanya kita pada klaim harga-murah-tapi-bersyarat-dan-terbatas dari provider telekomunikasi. Tentu saja — seharusnya — ada orang-orang baik yang berkiprah di bidang politik dan tidak semua iklan provider telekomunikasi berbohong. Masalahnya, karena ada yang berbohong, kepercayaan masyarakat terhadap pihak-pihak tersebut menjadi terkikis, bahkan habis.

Dan Ariely dalam bukunya Predictably Irrational* menceritakan bahwa eksperimen yang dia lakukan membuktikan bahwa orang-orang cenderung tidak percaya bahkan terhadap sesuatu yang bisa dianggap kebenaran mutlak, hanya karena diberikan embel-embel bahwa hal tersebut disampaikan oleh partai politik maupun perusahaan tertentu. Pernyataan seperti “matahari itu berwarna kuning” menjadi sebuah perdebatan ketika dilabeli bahwa pernyataan tersebut disampaikan oleh Partai Republik.

Dalam dunia matematika, tragedy of the commons juga dibahas dalam kasus prisoner’s dilemma. Tapi, nantilah saya ceritakan kapan-kapan tentang itu. Sekarang, mari kita merenungkan, “Apakah saya sering terlalu memprioritaskan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama?”

Lalu, apa gunanya dulu kita belajar pendidikan kewarganegaraan?

* Buku ini sangat saya rekomendasikan, seru sekali!

Iklan

5 tanggapan untuk “Tragedy of the Commons

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s