Menyerah pada Perubahan

Sudah beberapa minggu ini saya mendapatkan notifikasi untuk memperbarui OS ponsel saya. Yang menyebalkan, notifikasinya tidak bisa dimatikan. Jadi, untuk beberapa minggu, saya harus mengklik “No, maybe later” untuk menghilangkan notifikasi yang muncul semena-mena itu.

Konon kabarnya sih pembaruan itu agak melambatkan kinerja dari ponselnya. Mungkin memang sudah natur dari pembaruan begitu ya? Karena di iPod saya pun setelah diperbarui OS-nya malah jadi lebih lambat.

Saya jadi berpikir, apa itu sebabnya orang-orang tidak menyukai perubahan? Kita diharuskan beradaptasi lagi dengan suatu hal yang asing. “Saya sudah nyaman kok dengan kondisi sekarang. Bagaimana kalau setelah berubah ada hal yang saya tidak suka?”

“Perubahan itu sering membuat sakit perut,” ujar dosen saya. Perubahan acap kali memaksa kita menyisihkan hal-hal yang selama ini selalu berada di sekitar kita, dan, sebagai manusia, sudah menjadi suatu fitrah bahwa kita takut kehilangan. Selain itu, selalu ada ketidakpastian yang menyertai dalam sebuah perubahan. Itulah yang membuat kita sering merasa gelisah menghadapinya.

Seorang bijak pernah mengatakan bahwa perubahan memang tidak selalu menjanjikan hal yang lebih baik, tetapi menuju hal yang lebih baik selalu memerlukan perubahan. Yang menjadi tantangannya sekarang, sudah siapkah kita menghadapi pengorbanan dan ketidakpastian itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik?

Sudah siapkah kita untuk berubah?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s