Sekilas Tentang Parung Panjang

Di akhir tahun yang lalu, saya menyempatkan untuk pergi seorang diri ke Parung Panjang. Niatnya untuk menindaklanjuti beberapa hal yang kami (tim Leadership Project dari awardee BPRI) titipkan pada kunjungan kami sebelumnya. Karena sendirian, akan lebih mudah bagi saya untuk menggunakan commuter line dari Stasiun Kebayoran.

Tidak sampai satu jam waktu yang dibutuhkan dari Stasiun Kebayoran menuju Stasiun Parung Panjang. Ditambah dengan waktu tempuh menuju SD Negeri 04 Babakan dengan ojek membuat saya menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk bertemu dengan Bu Uun (baca pos ini untuk cerita lebih lengkap tentang siapa Bu Uun). Jarak dari stasiun menuju SD Negeri 04 Babakan mungkin tidak jauh, tetapi buruknya kondisi jalan raya menuju tempat tersebut tak pelak menjadi kendala utama transportasi.

SD yang saya datangi kala itu bukanlah SD yang menjadi ‘objek’ dari proyek kepemimpinan kami. Akan tetapi, melihat kondisi sekolah tersebut membuat saya menyadari bahwa masih banyak bagian-bagian dari daerah Bogor Barat ini yang terbengkalai, terutama di bagian fasilitas umumnya. Beruntunglah ada orang-orang seperti Bu Uun yang masih mau meluangkan waktunya untuk menyisir setiap dusun yang ada untuk menemukan dan menanggulangi kasus-kasus seperti ini.

Foto di atas diambil di SD yang sama pada waktu yang sama. Bagian sekolah yang bagus dan ramai tersebut merupakan perwujudan CSR dari salah satu grup yang dikelola oleh istri dari Pak Dahlan Iskan, sedangkan bagian yang terlihat jauh dari selesai tersebut merupakan pekerjaan pemerintah. Kesan yang ditimbulkan dari kasus ini adalah pemda masih sangat lalai terhadap pekerjaannya. Bukti di lapangan yang menunjukkan seperti itu.

Kondisi kesehatan masyarakat pun masih membuat miris. Dengan belasan bahkan puluhan gizi buruk dan lebih banyak lagi kasus gizi kurang, Parung Panjang jelas butuh bantuan. Seperti halnya jalan dan sekolah, fasilitas kesehatan juga sangat memerlukan perhatian pemerintah. Bayangkan, warga dusun Cilejet harus menempuh jalan sekitar 10 km untuk mencapai Puskesmas Tenjo — fasilitas pelayanan kesehatan terdekat setelah pustu (puskesmas pembantu) yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.

Jarak dan waktu tempuh St. Tenjo - St. Cilejet
Jarak dan waktu tempuh St. Tenjo – St. Cilejet

Dengan kondisi jalan yang seperti sekarang, waktu tempuh yang diperkirakan oleh Google Maps rasanya sudah tidak tepat. Bisa jadi, waktu tempuhnya adalah 2-3 kali lipatnya.

Alhamdulillah, bantuan tak kunjung berhenti datang ke Parung Panjang. Terakhir saya dengar ada bantuan untuk akses fasilitas air bersih dari Daarut Tauhid. Di samping itu, rasanya saya dengar beberapa kali dari Dompet Dhuafa memberikan bantuan ke daerah yang berbatasan dengan Banten ini.

Semoga yang mereka yang diberi amanah oleh rakyat bisa benar-benar melihat langsung ke daerah ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s