Martabak

Siapa yang tidak suka makan martabak? Baik martabak telur maupun martabak manis (juga disebut “terang bulan” di beberapa daerah), sama enaknya. Dengan berbagai jenis isian, martabak merupakan favorit banyak orang, selain karena mudahnya untuk mendapatkannya.

Yang menarik, kudapan ini sangat identik dengan buah tangan yang biasa dibawa ketika orang sedang ngapel. Martabak seolah-olah adalah pilihan yang tak mungkin salah. Well, mungkin berbeda kalau sang camer ternyata tidak boleh memakan gula terlalu banyak. Tapi, yah, tetap saja martabak menjadi pilihan yang terlintas pertama di pikiran sebagai “tiket buat ngapel”.

Masalahnya, kalau Anda pernah melihat cara pembuatan martabak, mungkin Anda akan berpikir dua-tiga kali sebelum membelinya lagi dalam waktu dekat. Untuk sebuah martabak cokelat, kacang, wijen — salah satu kombinasi standar isian martabak manis, perhatikan berapa banyak mentega dan gula yang digunakan. Itu pun belum menghitung susu kental manis yang ditambahkan, lalu cokelat dan kacangnya. Boy, menurut hasil googling sih sepotong martabak manis bisa mengandung 200 kalori!

Sebenarnya sih, meski sudah mengetahui cara pembuatannya, hingga kalori yang terkandung di dalamnya, masih banyak saja yang akan membeli martabak. Godaannya terlalu kuat untuk dihindari. Apalagi karena makanan ini biasanya dibuat untuk ririungan, berkata bahwa akan mengambil satu saja biasanya hanya berakhir sebagai sebuah kebohongan besar.

Repotnya, di depan kantor saya sekarang ada yang menjual martabak tiap sore. Gawat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s