Tentang Koala Kumal

Saya baru selesai membaca buku terbaru Raditya Dika: Koala Kumal. Akhir-akhir ini, saya jarang sekali menghabiskan buku berlembar-lembar dalam waktu cepat. Anehnya, buku setebal 247 halaman ini habis dalam waktu kurang dari 12 jam.

Buku ini berisi tentang banyak cerita patah hati meski selalu dibumbui komedi. Istilah yang mungkin Anda akan sering dengar di media akhir-akhir ini: komedi pakai hati. Sesuatu yang “sialnya” membuat saya benar-benar ikut berkontemplasi.

Lelucon ala Raditya Dika sebetulnya acap kali tidak terlalu lucu buat saya. Well, saya pada dasarnya memang sulit untuk tertawa dari sekadar membaca. Namun, buku ini jelas menunjukkan peningkatan kualitas tulisan-tulisannya. Beberapa titik di buku ini berhasil membuat saya tertawa.

Bukunya yang ketujuh ini menunjukkan perbedaan yang jauh berbeda dengan buku pertamanya yang keluar 10 tahun yang lalu. Buku ini benar-benar memiliki DNA tulisan Raditya Dika. Gaya penuturannya sudah sangat mudah dikenali, seperti halnya pada 2-3 bukunya yang terakhir. Menariknya, gaya bahasanya tetap cukup santai meski banyak redaksinya yang sudah mengikuti bentuk baku, misalnya ketika jomblo dituliskan sebagai jomlo.

Ada poin menarik yang saya sadari ketika selesai membaca buku ini. Beberapa halaman pertama buku ini, saya masih membaca dengan bayangan suara Raditya Dika menarasikan cerita. Perlahan, suara itu menghilang, dan saya malah terlarut dalam kenangan sendiri. Meski pikiran saya memang suka bandel ketika membaca buku — bercabang dengan liar, tetapi saya rasa apa yang ditujukan Raditya Dika dalam buku ini bisa tersampai. Kita tertawa, tapi tetap ada hikmah yang bisa diambil dari buku ini.

Buku ini memang menjadi karya yang melankolis. Mereka yang baru patah hati mungkin akan terpaksa berhenti di banyak bagian dari buku ini. Dengan penyusunan laiknya materi stand up comedy, setiap bit didahului dengan setup yang baik, dan diakhiri dengan punchline yang menohok — memaksa pembaca untuk merenung.

Buku ini jelas menarik, dan semua ini membuat saya semakin menyadari…

Sekali lagi, terbukti bahwa waktu dan pengalaman dapat terejawantahkan sebagai karya yang kelak bisa dikenang abadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s