Berpikir Kritis

Dulu, saya pernah diamanahkan untuk memegang jabatan sebagai ketua KIR di SMA. Setelah hampir 6 tahun meninggalkan bangku SMA, nyatanya saya masih beberapa kali kembali ke sana untuk berbagi dengan penerus-penerus di KIR. Yang saya heran, apa sih yang sebenarnya orang-orang cari di KIR? Saya pun heran mengapa saya bisa bertahan sebegitu lamanya di ekskul yang selama setahun rasanya tidak ada banyak kegiatan yang dilakukan jika dibandingkan dengan masa perkuliahan.

Zaman saya SMA dulu, KIR yang katanya banyak melakukan eksperimen menarik di lab, seingat saya hanya melakukan kurang dari 5 kali eksperimen dalam setahun. Di samping itu, saya mungkin sempat ikut 2-3 kali lomba karya ilmiah. Namun, di luar itu rasanya tidak banyak yang saya lakukan yang sifatnya benar-benar ilmiah.

Sense of Crisis

Jika dipikir, mungkin memang kami saja yang “malas” waktu itu sehingga tidak melaksanakan banyak eksperimen atau penelitian. Dengan masih adanya tanggung jawab untuk bersekolah dan mendapatkan nilai yang baik dan keterbatasan ilmu serta materi, melakukan eksperimen dan penelitian memang bukan pilihan yang utama. “Toh, hidup masih bisa terus berjalan tanpa itu semua,” batin saya.

Namun, suara “berisik” di kepala tersebut membuat saya berpikir. Saya mulai menyadari bahwa nyamannya kehidupan di kota besar menyebabkan pola pikir kreatif dan kritis itu tidak terasah. Hebatnya kemampuan manusia untuk beradaptasi terhadap keadaan membuat semua bisa berlalu begitu saja.

Faktanya kekuranganlah yang biasanya menghasilkan inovasi, karena tanpa inovasi tidak ada taraf hidup yang lebih baik. Orang-orang kota besar tidak punya kekhawatiran itu, istilah kerennya: tidak punya sense of crisis. Video dari cara Kick Andy ini adalah salah satu contoh inovasi yang dihasilkan oleh sense of crisis itu.

Memulai Kembali

Setahun terakhir, saya sempat mencoba untuk menanamkan kebiasaan berpikir kritis itu kepada anak-anak KIR di SMA saya. Nyatanya, susah sekali untuk sekadar membuat mereka menentukan masalah apa yang seharusnya dijadikan topik karya ilmiah. Kegiatan yang direncanakan rutin per minggu selama dua bulan ternyata tidak berhasil dijalankan karena padatnya jadwal siswa SMA zaman sekarang.

Hal ini tidak sepenuhnya salah mereka, karena tuntutan orang tua dan tuntutan zaman untuk memperoleh universitas yang bagus, pekerjaan yang baik, dan berakhir pada gaji yang tinggi memang tidak bisa dihindari. Namun, apalah artinya hidup kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang?

Agak jauh memang lompatan pemikirannya ya? Akan tetapi, sekali lagi perlu diingat bahwa hidup itu terdiri dari proses-proses kecil yang menjadi kebiasaan, dan pada akhirnya kebiasaan itu yang membentuk hidup kita. Maka, saya pikir penting untuk membiasakan berpikir kritis dari sekarang. Jangan bilang, “Tunggu saya kaya dulu baru mikirin orang lain.”

So, saya mau mencoba menggugah anak-anak itu lagi di tahun ini. Ajakan dari mereka untuk mengisi sudah datang lagi, tinggal masalah kali ini saya bisa lebih berhasil menggelitik nurani mereka atau tidak. Saya percaya bahwa potensinya besar, hanya perlu diarahkan saja ke mana harus dimanfaatkan potensi yang besar itu.

Harus diapakan ya anak-anak itu nanti?

Iklan

2 tanggapan untuk “Berpikir Kritis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s