das Sein, das Sollen

Kata-kata itu sudah lama sekali saya dengar. Kalau saya tidak salah ingat, itu ketika saya masih berada di bangku SMA — itu sudah sekitar 5-6 tahun yang lalu loh! Ketika itu, kata-kata itu digunakan untuk menggambarkan cara yang paling mendasar untuk mencari permasalahan dalam karya ilmiah.

Beberapa waktu yang lalu, saya baru paham maknanya secara harafiah. Kalau saya tidak salah, kata-kata tersebut diambil dalam bahasa Jerman, yang artinya be (das Sein) dan should (das Sollen). Jadi, penelitian itu harusnya mencari gap antara apa yang seharusnya terjadi (das Sollen), dan apa yang sebenarnya terjadi sekarang (das Sein).

Apa sih masalah yang ada di masyarakat sekarang? Memangnya kenapa itu menjadi masalah? Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kondisi idealnya?

Jika kita sudah berhasil menghasilkan research question yang seperti itu, maka penelitian itu akan menjadi jujur dengan sendirinya. Kita meneliti, ya karena memang dibutuhkan. Masalahnya, tidak jarang kita lihat penelitian yang dilakukan itu adalah karena “ini terlihat keren” atau “ini bisa membuat kita terkenal” lalu dipaksakan kepada masyarakat — padahal mungkin itu tidak tepat guna.

Yang saya lihat dalam kehidupan startup pun seperti itu. Mereka yang berhasil mengembangkan produknya, bermula dari kesederhanaan das Sein dan das Sollen. Facebook berhasil karena melihat kebutuhan untuk menghubungkan orang satu dengan lainnya dengan lebih mudah, Path tetap berhasil karena adanya kebutuhan untuk menghubungkan orang-orang yang lebih personal, dan — kalau di Indonesia — NoLimit bisa dikatakan berhasil karena Twitter itu adalah suara jujur konsumen yang sangat bermanfaat bila ditampung dan diolah.

Nah, das Sein dan das Sollen juga sebetulnya berlaku dalam seni pertunjukan. Sulap atau stand-up comedy, misalnya. Para seniman itu memanfaatkan das Sein sebagai setup-nya, lalu memunculkan trik atau punchline sebagai das Sollen yang dibelokkan. Karena pada dasarnya dalam hidup kita selalu berekspektasi sehingga membelokkan ekspektasi tersebut dapat menghasilkan sebuah pertunjukkan yang menarik.

Gampangnya, jangan terlalu banyak berharap kepada manusia, nanti kecewa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s