Budaya

Saat Program Kepemimpinan (PK) Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) kemarin, kami para penerima beasiswa beberapa kali bertemu dengan Pak Arief Munandar. Beliau adalah seorang doktor jurusan sosiologi dari FISIP UI yang kebetulan ditunjuk sebagai badan pengawas untuk program BPRI yang diadakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Di salah satu sesi yang beliau isi, ada satu pertanyaan yang menarik, “Apa sih sebetulnya budaya Indonesia itu?”

Saya sangat tergelitik dengan pertanyaan seperti ini. Karena hal sejenis juga sering sekali digadang-gadang ketika saya masih menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Bandung. “Apa iya yang orang-orang koarkan tentang budaya itu benar?” batin saya.

Dalm beberapa kali diskusi dengan ayah saya, sebetulnya beberapa kali topik ini sempat terbahas. Dan salah satu yang menarik adalah ayah saya bilang bahwa orang-orang Indonesia itu menarik: mudah punya tapi tak bisa merawat dan sangat pemaaf. Dari hasil kontemplasi saya, ada dua hal lagi yang jadi ciri khas atau budaya orang Indonesia: gotong royong dan kreatif.

Mudah Punya tapi Tak Bisa Merawat

Daya beli orang Indonesia itu tidak sembarangan loh. Faktanya, banyak sekali perusahaan besar yang membuka cabangnya di Indonesia. Terakhir saya dengar, Twitter akan membuka kantor cabangnya di Indonesia, demikian pula dengan Oppo yang akan membuka pabriknya di daerah Tangerang.

Masalahnya, daya beli orang Indonesia itu tidak dibarengi dengan kemampuan merawatnya. Lihat saja berapa banyak fasilitas umum yang awalnya sangat bagus pada akhirnya bisa jadi tidak dikenali lagi bentuknya. Di luar mal, berapa banyak sih fasilitas WC umum yang benar-benar dibersihkan setiap harinya sehingga membuat pengunjungnya yakin bahwa itu bersih?

Sangat Pemaaf

Poin yang ini dan berikutnya agak menarik, karena sifatnya bisa dikategorikan sebagai “tingkat tinggi” bahkan “kelewatan”. Mengapa saya berkata seperti itu? Karena faktanya menunjukkan seperti itu.

Gini deh, kalau ambil kasus yang berkaitan dengan dunia IT saja, berapa banyak Anda lihat situs pemerintah yang tidak intuitif? Berapa banyak juga kasus di lapangan yang membuat orang “berdamai” dengan keadaan bahwa semua sistem yang sudah dibangun pada akhirnya tidak dipakai — padahal biaya yang dikeluarkan tidak sedikit untuk itu?

Kasus yang paling seru sih tapi tentang seorang figur publik yang pernah terkena skandal video tidak senonoh, tapi toh ternyata bisa “dimaafkan” oleh publik, dan jadi terkenal lagi. It’s just… inexplicable.

Gotong Royong

Ini salah satu budaya yang dari dulu sekali sudah sering disebut. Bahkan, poin ini masuk bahan pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan saat saya masih di bangku SD dulu. Saya tidak bilang ini salah, nyatanya memang masih ada warga yang bergotong-royong untuk mengerjakan hal-hal baik bagi lingkungannya. Gerakan pungut sampah di Bandung salah satunya.

Tapi, gerakan gotong-royong ini kadang-kadang jadi salah kaprah. Dengan dalih bahwa yang “lebih lemah” harus dibela, kadang-kadang pembelaan jadi membabi-buta. Asal tuding sana-sini, asal share berita tanpa mengkaji isinya, pokoknya selama yang share sudah banyak, artinya itu berita bener. Kenyataannya, yang banyak memang yang lebih kuat di sini. Yang benar pun bisa jadi salah hanya karena kalah jumlah.

Kreatif

Orang-orang Indonesia penuh dengan kreativitas. Banyak hal yang bisa diciptakan, mulai dari rancangan pakaian, mobil elektrik, pesawat terbang, hingga rumus Fisika. Kita sejatinya tidak pernah kekurangan orang pintar yang berasal dari tanah air ini.

Masalahnya, kreativitas itu terkadang dimanfaatkan untuk hal yang salah. Sudah tidak asing kan mendengar orang-orang Indonesia yang berhasil “mengakali” sistem? Saking banyaknya, mungkin kita hanya bisa tertawa kalau menonton acara Scam City — karena mungkin semuanya dilakukan juga di Indonesia!

Jadi, harus bagaimana dong?

Sebetulnya, di tengah-tengah karut-marutnya Indonesia, kita masih bisa punya harapan bahwa masa depan negeri ini akan lebih baik. Sudah banyak orang-orang baik di sekeliling kita yang tidak luput dari sorotan media. Well, tetap saja selalu ada orang-orang yang mencap pemberitaan baik itu sebagai pencitraan saja.

Tapi, toh, kalau pencitraannya konsisten, kan hasil akhirnya akan baik juga?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s