Pejuang Cilejet

Sore ini saya terduduk lemas, merasa malu sekali setelah bertemu dengan seorang ibu yang sangat luar biasa. Kalau dilihat sekilas, mungkin Anda akan melihat beliau tak ubahnya ibu-ibu pada umumnya. Namanya Bu Dessy Suprihartini, tapi beliau biasa dipanggil dengan sebutan Bu Uun. Dengan semangatnya, ia membantu orang-orang miskin di desa-desa tertinggal untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Beliau turun langsung dengan sepeda motornya menyusuri daerah-daerah yang sebenarnya tak seberapa jauh dari kota besar.

Tahukah Anda daerah yang jumlah penduduk miskinnya paling banyak di Indonesia?

Kalau Anda menjawab salah satu daerah di Indonesia bagian timur, maka tebakan Anda salah. Secara persentase, daerah-daerah Indonesia timur memang merupakan daerah yang tinggi persentase penduduk miskinnya. Namun, secara jumlah, daerah yang perlu perhatian khusus tersebut adalah Bogor! Tak seberapa jauh dari Jakarta yang digadang-gadang sebagai kota megapolis. Kalau tidak percaya, silakan cari informasinya. Salah satunya, Anda dapat mengeceknya di sini.

Ketika saya dan teman-teman yang mengikuti seleksi tahap akhir Beasiswa Presiden Republik Indonesia beberapa hari yang lalu, kami diturunkan ke lapangan dan melihat kenyataan bahwa daerah Parung Panjang di kabupaten Bogor yang waktu tempuhnya hanya sekitar 30 menit dari BSD, ternyata memiliki kondisi yang bagaikan langit dan bumi. Banyak sekali infrastruktur yang rusak, fasilitas air bersih tidak mudah didapatkan, hingga rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan tinggi.

Waktu itu, kami yang hanya turun sehari — lebih tepatnya hanya sekitar 4-5 jam di lokasi, sudah cukup tercekat terhadap kondisi yang jauh sekali dari segala kenyamanan yang bisa didapatkan di ibukota. Hebatnya, Bu Uun telah 7 tahun mengabdikan dirinya terhadap daerah-daerah di Bogor bagian barat tersebut. Beliau membantu orang-orang miskin untuk datang ke puskesmas. Jika sakitnya parah, maka beliau pula yang mengurus agar si sakit dapat dirujuk ke rumah sakit dengan bantuan BPJS atau Jamkesmas. Tak cukup sampai di situ, beliau pun mengontrol setelah selang beberapa hari untuk memastikan bahwa si sakit tersebut masih mendapatkan perawatan yang layak. Bahkan, beliau pernah mengurus seorang warga yang harus dirujuk sampai 7 kali untuk akhirnya mendapatkan perawatan.

Dalam 7 tahun tersebut, Bu Uun telah membantu 1000 orang pasien, merenovasi 10 gedung sekolah, mengadakan 20 titik fasilitas air bersih, dan bahkan pernah melakukan advokasi kesehatan ke komisi IX DPR RI. Beliau melakukan itu secara sukarela, tanpa mengharapkan imbalan. Bahkan, tak jarang ia mengalami tekanan oleh orang-orang di lingkungannya yang tidak senang terhadap tindakan beliau tersebut.

Lucu ya? Ada orang yang berbuat baik, tapi malah mau diusir. Nyatanya demikianlah adanya di negeri kita tercinta ini. Ada kasus di mana beliau hampir dimasukkan ke dalam kurungan hanya karena ‘blusukan’ beliau ke daerah-daerah terpencil telah membuat pengunjung klinik seorang bidan menjadi sepi. Belakangan diketahui bahwa bidan tersebut adalah istri dari oknum polisi yang mau memenjarakan Bu Uun. Hal-hal yang harusnya menjadi bentuk pelayanan terhadap masyarakat, malah menjadi ‘barang dagangan’ untuk memenuhi isi perut sendiri.

Fakta yang tidak dapat kita pungkiri adalah bahwa hanya sebagian kecil dari penduduk negeri ini yang dapat mengenyam pendidikan tinggi. Hal itu pula yang akhirnya menyebabkan banyak kesulitan di berbagai lini: banyak kepala keluarga yang tidak bisa mencari nafkah yang cukup bagi keluarganya, kesadaran terhadap gaya hidup bersih dan sehat yang amt kurang, dan lain sebagainya. Namun, jika itu semua masih terasa abstrak bagi Anda, maka Anda mungkin harus membuka mata lebih lebar untuk menerima kenyataan bahwa sebagian dari mereka tidak mau berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan ketika sakit karena perlakuan yang tidak mengenakkan hanya karena mereka tidak mengerti prosedur yang seharusnya.

Bayangkan, ada orang tua yang sampai menitikkan air matanya hanya karena ia tidak mengerti bagaimana caranya mendaftar, konsultasi, hingga mendapatkan obat dari rumah sakit. Beberapa kali mereka bahkan harus kena marah oleh petugas kesehatan karena salah menjalankan prosedurnya. Bagi Anda yang berpendidikan, sekalipun Anda tidak tahu apa yang harus Anda lakukan, prosedurnya biasanya masih dapat Anda lihat di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Namun, bagi mereka, percayalah bahwa itu mungkin sesulit Anda yang harus mengerjakan 20 soal ujian akhir Kalkulus Dasar II dalam waktu 20 menit. Baca-tulis masih jadi kendala besar di beberapa tempat di negeri ini, kawan.

Faktor ekonomi merupakan salah satu kendala terbesar lainnya. Tak sedikit dari mereka yang masih belum mengetahui bahwa ada skema seperti BPJS atau Jamkesmas. Sebagian dari mereka pun merasa sulit sekali kalau harus membayar Rp 10.000 kepada tukang ojek untuk mencapai puskesmas agar dapat melahirkan dengan selamat. Untuk Anda ketahui, di beberapa desa, jarak menuju Puskesmas terdekat sekitar 4 km dan kondisi jalannya benar-benar memprihatinkan. Beberapa jalanan sangat berdebu sehingga kasus ISPA bukanlah hal yang baru di daerah-daerah tersebut.

Kawan, kalau Anda punya hati, saya yakin sekali bahwa hati Anda akan bergetar ketika mendengar ceritanya langsung dari Bu Uun, atau mungkin turun langsung ke lapangan seperti yang Bu Uun lakukan. Ini bukan sekadar masalah uang, meski janji pengucuran dana 1 miliar rupiah untuk desa tak kunjung terealisasi dengan merata, ini masalah kemanusiaan, masalah pemenuhan janji kemerdekaan yang tersemat dalam setiap diri kita.

Masihkah kita tega untuk menutup mata terhadap keadaan di sekeliling kita?

***

Kalau Anda ingin berkontribusi untuk membantu pengembangan dusun Cilejet, silakan kunjungi .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s