Menjadi Anak Rantau Jakarta

Jakarta adalah ibukota yang luar biasa. Tak cukup dengan penduduk aslinya saja, pekerja yang tinggal di luar kota konon kabarnya bisa sampai ratusan ribu orang yang “mampir” ke Jakarta tiap harinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau jumlah kendaraan yang beredar di Jakarta bisa dikategorikan tidak masuk akal.

Data dari BPS Jakarta tahun 2010 menyatakan bahwa ada 8.764.130 pengendara sepeda motor di Jakarta. Dengan jumlah penduduk 9.607.787 juta jiwa, maka hampir setiap satu orang punya satu motor! Maka, gerombolan motor di jalan raya sudah tidak asing lagi bagi para pengguna jalan di Jakarta.

Saya pun menjadi partikel kecil dari pengendara motor itu pada tiga hari terakhir.

Hari Senin (11/8) adalah masa yang membuat saya naik level sebagai penduduk Jakarta. Akhirnya, saya merasakan bermacet-macetan dengan motor di kala hujan melanda. Saya sempat melipir beberapa kali untuk berteduh, seperti halnya pengendara motor lain. Namun, semua berubah ketika negara api menyerang hujan reda. Jalanan jadi macet tidak-masuk-akal!

Jangankan mobil, motor saja jadi susah bergerak. Mau mengambil jalan tikus di beberapa titik ternyata tetap terimbas macet parah itu. Walhasil, perjalanan dari Senayan ke Cipete Utara yang biasanya hanya memerlukan waktu 15-20 menit menjadi 3 jam!

Jakarta sakit.

Hari Selasa (12/8), saya menggunakan moda transportasi favorit saya dan orang-orang Jakarta: TransJakarta. Dan seperti biasa, masalah yang masih muncul adalah sedikitnya armada untuk koridor non-utama, terutama koridor 7A (Harmoni–PGC) yang saya lalui. Kondisi ini jauh berbeda dengan koridor 1 (Blok M–Kota) yang armadanya banyak, bisnya masih dalam kondisi baik, tapi masih memungkinkan untuk mendapatkan tempat duduk!

Kondisi yang bertolak belakang itu membuat saya berpikir, mungkin seharusnya para pemimpin kota ini mencoba sekali-dua kali dalam sebulan untuk menggunakan TransJakarta, dan cobalah untuk semua koridor. Harapannya, dengan begitu para pemimpin itu jadi paham kondisi sebenarnya dari kota ini. Penumpang yang berdesak-desakan di TransJakarta menunjukkan bahwa sebenarnya warga Jakarta sudah mencoba untuk menggunakan transportasi umum, tapi mungkin ini masih kurang diperhatikan pemerintah.

Pengalaman ini membuat saya akhirnya memutuskan untuk mengirimkan SMS kepada Pak Ahok, mengadu. Balasannya sudah diterima, hanya berupa ucapan terima kasih sudah melapor. Namun, semoga tindakannya bisa lebih menjawab aduan itu.

Lalu, di mana bagian sebagai pemotornya? Well, biasanya saya menggunakan motor sampai di Al-Azhar, lalu naik TransJakarta dari sana menuju kantor saya di daerah Salemba. Lumayan, dengan begitu saya jadi bisa menghabiskan waktu commuting untuk membaca.

Hari Rabu (13/8), saya mencoba jalan pulang yang tidak biasanya saya lalui: Jalan Jend. Sudirman. Hasilnya? Macet parah. Saya tidak mengerti mengapa bisa semacet itu, padahal jalur cepatnya terlihat lancar. Sampai rumah, badan rasanya pegal-pegal sekali, bahkan saat menulis blog ini saja saya sudah sangat mengantuk — lelah.

Yah, semoga saja moda transportasi umum di Jakarta bertambah banyak dan baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s