Tentang Waktu

Waktu itu adalah makhluk Tuhan yang aneh. Ketika sudah berlalu, bahkan barang sedetik pun, maka ia menjadi benda terjauh dari hidup kita. Namun, kematian yang kita bahkan tidak tahu kapan waktunya, menjadi sesuatu yang sangat dekat, karena kepastian yang terkandung di dalamnya. Menarik ya?

Waktu Membaca

Urusan waktu ini sangat berhubungan dengan kebiasaan membaca saya. Sekarang saya jadi sangat pilih-pilih terhadap bahan bacaan. Terlalu panjang sedikit, biasanya akan saya tinggalkan. Padahal, mana tahu ternyata bacaan itu menarik. Tulisan-tulisan di Medium yang saya baca, biasanya saya sortir terlebih dahulu berdasarkan perkiraan waktu yang dibutuhkan. Kebanyakan, artikel yang masuk ke kategori saya adalah memiliki rentang waktu 3-5 menit. Selebihnya, saya tinggalkan.

Faktanya, tulisan-tulisan yang menarik perhatian di Medium adalah yang memiliki waktu baca sekitar 7 menit. Menurut analisis yang dilakukan oleh tim data analisis dari Medium, waktu yang paling optimal untuk sebuah artikel adalah 7 menit, meski data lain menunjukkan bahwa 94% dari artikel yang ditulis di Medium memiliki waktu baca 6 menit.

Poin saya sebetulnya adalah apakah kehidupan yang serba cepat ini telah membuat banyak orang jadi sulit membaca tulisan yang panjang (terutama dalam bentuk buku) seperti saya? Kalau iya, apakah menghabiskan 100 artikel dengan waktu baca 6 menit per artikel sepadan dengan menghabiskan 1 buku dengan waktu baca yang sama? Bagaimana pendapat Anda?

Masa Lalu vs Masa Depan

Saya baru sadar bahwa saya punya kebiasaan jelek. Saya sempat bercerita pada seorang teman bahwa saya akhir-akhir ini merasa sangat penting untuk hadir tepat waktu. Sebetulnya itu sifat yang baik, tapi masalahnya ini membuat saya menjadi stres ketika ada kemungkinan untuk terlambat. Saya disadarkan, saya jadi terlalu obsesif terhadap waktu.

Saya jadi kaku, dan ini sebetulnya sudah sering diingatkan oleh Allah melalui sakit yang diberikan kepada saya. Ayah pun sudah sering mengingatkan akan hal ini. Hanya saja, “tamparan” itu baru datang ketika kata yang dipakai adalah obsesif.

Begini loh, siapa sih yang tahu apa yang akan terjadi masa depan? Maksudnya, Allah pasti menghendaki sesuatu kalau pun kita dibuat terlambat menghadiri satu pertemuan. Mungkin saja, awal dari pertemuan itu belum dihadiri banyak orang sehingga orang-orang yang sudah hadir malah menggunakannya untuk membicarakan tentang orang lain — bergosip. Kalau sudah begitu, bukankah artinya kita diselamatkan oleh Allah dengan dibuat terlambat?

Keburukan lain saya adalah terlalu membeda-bedakan mana yang penting dan tidak. Ini menyebabkan saya jadi mudah lupa terhadap hal-hal yang saya anggap tidak penting. Maka, jangan heran jika saya tidak ingat kapan Steve Jobs meninggal, atau bahkan kapan saya pindah dari rumah yang lama ke rumah yang sekarang. Memang katanya kita tidak boleh terlalu sering melihat ke belakang, tetapi kalau semua yang saya ingat hanya dibagi berdasarkan penting dan tidak buat saya, saya khawatir bahwa saya akan jadi mudah pikun nantinya.

Mengapa? Karena ketika saya sudah tua, mungkin yang jadi penting bagi saya tinggal keluarga-keluarga terdekat saya. Kalau sudah begitu, maka benarlah yang sering dikatakan itu, bahwa menjadi orang tua pada hakikatnya adalah perjalanan kembali. Layaknya seorang bayi yang baru dilahirkan, ia tak punya kenangan akan masa lalu. Ia pun sangat rentan dan lemah terhadap ujian yang dihadapi.

Ala Bisa Karena Biasa

Oleh karena itu, ingatlah nasihat bahwa kita di saat tua adalah apa yang kita lakukan di masa muda. Masa depan itu dibentuk dari sekarang. Apa yang kita lakukan saat ini, akan menentukan jadi seperti apa kita di kemudian hari. Kemampuan berpikir orang tua tidak akan sehebat kemampuan orang muda, maka yang bisa menyelamatkannya hanyalah kebiasaannya yang terbawa sampai dia tua.

Saya ingat sekali akan kebiasaan almarhum datuk saya yang meski sudah sepuh tetap mengusahakan shalat berjamaah di masjid di awal waktu. Meski sudah harus menggunakan tongkat untuk membantu jalannya, beliau tetap menjadi salah satu jamaah yang paling setia di masjid tersebut. Coba sekarang bandingkan dengan kita yang masih segar bugar ini. Berapa sering kita bahkan shalat di akhir waktu dengan alasan penundaan yang bahkan tidak jelas manfaatnya?

Semoga Allah melindungi kita dari berlalunya waktu dengan sia-sia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s