Pulang!

Kembali ke Lombok ternyata membuat saya sangat senang. Baru mendarat di bandara saja, saya sudah tersenyum sendiri mendengarkan orang-orang berbahasa Sasak. Ini adalah saat yang sudah saya tunggu sejak lama.

Nyatanya, Lombok sudah cukup banyak berubah. Hampir sepanjang jalan dari bandara di Praya menuju Mataram, banyak sekali terlihat masjid yang dibangun. Memang, Mataram dijuluki sebagai kota 1000 masjid. Namun, sayangnya sebagian besar dari masjid tersebut belum rampung.

Usut punya usut, ternyata banyak sekali masjid-masjid yang terhambat di pendanaan. Bahkan, ada salah satu masjid di Lombok Tengah yang belum rampung setelah empat kali pergantian bupati! Anehnya, masjid-masjid tersebut terlihat sangat megah dan sangat banyak. Apakah ini artinya pendanaannya tidak efektif? Atau jangan-jangan, ini merupakan akibat dari salah satu masalah yang mengakar di Indonesia — korupsi? Entahlah.

Saya senang sekali karena akhirnya saya bisa punya waktu untuk berjalan-jalan sore ini untuk sedikit napak tilas. Begitu banyak hal yang melintas di kepala saya setiap beberapa meter berjalan menuju daerah Senggigi dari Mataram. Dalam perjalanan sekitar 40 menit itu, saya teringat masa kecil saya.

Tempat dulu ibu biasa beli roti masih ada!

Ah, ini dulu tempat saya sempat belajar karate!

Nah, setelah ini ada stadion — yang belakangan baru saya ingat bahwa namanya adalah Stadion Malomba.

Lalu, Ampenan.

Di sebelah kanan nanti ada Pasar Kebon Roek.

Nanti ada kuburan Tiongkok di kiri jalan.

Habis ini jembatan di daerah Meninting — yang ternyata sudah menjadi dua.

Seharusnya ada BTS di kanan jalan setelah ini.

Lalu…

Kemudian…

Terus seperti itu sepanjang jalan. Menyenangkan sekali!

Saya pun menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke rumah yang lama di daerah Senggigi.

Rumah
Rumah

Aaa!

Lombok sudah berkembang. Waralaba minimarket yang termasyhur itu sangat mudah ditemukan di kiri-kanan jalan. Selain itu, banyak sekali ruko yang dibangun. Kendaraan yang lalu-lalang di jalan pun bisa dibilang sudah lebih banyak sekarang. Akan tetapi, saya merasa bahagia sekali karena tempat-tempat yang menyimpan kenangan itu masih ada.

Bahkan, sebagian dari tempat-tempat itu sudah diperbaiki. Tempat-tempat untuk menikmati matahari terbenam sekarang sudah diberikan kursi-kursi panjang. Pasar Kebon Roek juga terlihat sudah dirapikan.

Hal-hal tersebut membuat saya percaya bahwa Lombok masih sangat bisa berkembang. Sudah banyak bukti di lapangan. Asal ada niat dan pengelolaan yang baik, semua itu bukan sekadar impian.

Semoga saya bisa jadi bagian dari perkembangan itu.

Spot untuk menikmati jagung bakar
Spot untuk menikmati jagung bakar di malam hari
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s