Balada TransJakarta (Bag. 2)

Sebelum saya tulis di sini, kisah ini pernah saya ceritakan ke beberapa orang teman. Salah satu tanggapan membuat saya terdiam adalah seharusnya cerita (baca: keluh kesah) saya harusnya tidak disampaikan kepada mereka. Harusnya, cerita ini disampaikan ke pihak yang berwenang.

Dipikir-pikir, iya juga sih. Banyak opini masyarakat yang akhirnya tidak tersampaikan secara langsung kepada pihak-pihak yang berhubungan. Tidak terhitung jumlahnya artikel berupa opini masyarakat tentang suatu produk atau jasa di berbagai media. Masalahnya, yang bersangkutan mendengarkan atau tidak? Well, semoga saja tulisan ini bisa jadi refleksi untuk kita semua, bukan hanya yang berhubungan langsung.

“Loh, Kok Terus?”

Beberapa hari terakhir, pola saya ke kantor adalah naik motor hingga Al-Azhar, lalu naik TransJakarta menuju Harmoni, kemudian transit ke arah PGC untuk turun di halte Salemba UI. Sudah beberapa kali saya menggunakan rute ini, tapi baru minggu lalu saya menggunakan TransJakarta untuk pulang juga. Biasanya, saya bisa pulang dari kantor bersama ayah saya yang membawa mobil.

Nah, sebagai pengguna yang “awam”, tentu pikiran saya adalah tinggal menggunakan bis arah sebaliknya untuk mencapai titik awal saya berangkat. Jadi, karena bis Harmoni-PGC berwarna abu-abu, saya tinggal mengambil bis sebaliknya yang berwarna abu-abu juga. Tidak terlalu sulit kan?

Namun, saya agak bingung ketika bis tersebut terus melaju di saat seharusnya sudah belok. “Ada yang aneh rasanya,” batin saya.

Mau bertanya, petugasnya jauh di depan. Petunjuk tentang koridor bisnya juga tidak ada. Masalahnya, saya cukup yakin bahwa ini harusnya adalah bis yang benar.

Dari hasil curi-curi dengar, ternyata ada juga yang bertanya-tanya bis ini ke arah mana. Ternyata, bisnya memang mirip, tapi yang saya naiki tersebut terus ke arah Ancol! Untung saja saya masih belum terlalu jauh — baru sampai Jembatan Merah. “Tinggal turun dan ambil bis arah sebaliknya,” pikir saya.

“Loh, Kok BElok?”

Yap, bis arah sebaliknya ternyata jarang sekali. Beberapa kali bis lewat, arahnya malah ke Tanjung Priok. Giliran ada yang benar yang lewat, penuhnya minta ampun! Kejadian ini benar-benar menguji kesabaran saya.

Hatta, muncul lah bis yang saya tunggu — tertulis Term. Kampung Melayu. Untungnya, bis ini tidak terlalu penuh. Namun, ada suara sayup-sayup, “Priok, Priok.”

Setelah bis berjalan, barulah saya menyadari bahwa bisnya ternyata berbelok ke arah Tanjung Priok, saudara-saudara.

Halte pertama pemberhentian bis ini (Kemayoran Landas Pacu Timur) pun ternyata cukup jauh dari halte Jembatan Merah, dan anehnya lumayan sepi. Waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul setengah 7 malam, dan kondisinya saya belum shalat maghrib. Akhirnya, keluarlah saya dari halte untuk mencari musholla terdekat.

Lucunya, saya jadi punya pengalaman lain sebagai orang Jakarta sekarang, karena selama sekian tahun tinggal di Jakarta, rasanya baru kali inilah saya akhirnya melihat rumah susun dan lingkungannya. Ini terjadi karena musholla (yang ternyata adalah masjid) yang saya cari ada di lingkungan rumah susun tersebut. Menarik juga melihat beberapa orang yang sedang bercengkerama di lingkungan tersebut.

Menunggu

Setelah selesai shalat, akhirnya saya kembali ke halte untuk menunggu bis ke arah sebaliknya datang. Untuk menghilangkan rasa bosan, saya mencoba untuk membaca buku. Namun, karena tidak ada tempat duduk dan haltenya sempit sekali — hanya berukuran dua orang jika dijejerkan, saya terpaksa duduk bersila di lantai.

Hampir satu jam berlalu sebelum akhirnya bisnya datang. Suasana Jakarta yang tetap panas di malam hari dan tidak tersedianya pendingin ruangan di halte sukses membuat banyak orang mengipas-ngipas. Saya yakin bahwa semua orang berpikiran sama pada waktu itu: begitu bis datang, tak peduli penuh, saya harus masuk!

Benar saja, walaupun bis penuh, dan staf TransJakarta yang berada di bis berkata, “Masih ada lagi di belakang (bisnya),” semua orang berusaha untuk masuk. Tidak akan ada yang tahan untuk menunggu lebih lama lagi. Lagi pula, tidak ada bis yang terlihat di belakang bis tersebut.

Hal yang menyebalkan adalah fakta bahwa saya menaiki bis ini untuk kembali ke titik saat saya tersasar pertama kali. Akhirnya, saya pun terpaksa menunggu lagi. Namun, hikmahnya adalah buku yang saya baca jadi cepat saya habiskan.

Setelah kembali ke jalan yang benar, akhirnya saya berhasil sampai ke rumah 4 jam setelah pertama kali saya menjejakkan kaki keluar dari kantor.

Kontemplasi

Saya jadi berpikir, bahwa siapa yang salah sebetulnya dalam kejadian ini? Saya memang salah karena tidak bertanya dulu, tapi apakah tidak ada yang pernah memikirkan untuk memberikan petunjuk yang jelas tentang arah bisnya? Oke, memang ada petugas yang meneriakkan arah bis itu. Namun, coba bayangkan kalau ada penumpang yang tuna rungu, apa dia nanti akan mendengar? Bayangkan berapa kali orang tersebut bisa tersasar kalau harus mengandalkan indra pendengarannya.

Saya sempat menceritakan hal ini kepada teman kantor, dan salah satu tanggapan dari mereka adalah memang terjadi perubahan jalur dari bis tersebut. Masalahnya, kenapa tidak ada pemberitahuan yang jelas? Saya bukan satu-satunya orang yang tersasar pada waktu itu loh. Artinya, memang ada masalah dari desainnya di sini.

Kalau dilihat-lihat, sebetulnya banyak kejadian seperti ini di sekeliling kita. Coba perhatikan, berapa kali kita lebih memilih untuk mempermanenkan solusi yang awalnya dirancang untuk sementara hanya karena solusi sementara itu belum terlihat bermasalah? Saya pun ragu sekali bahwa ada field test yang dilakukan saat pengembangan sistem transportasi TransJakarta ini.

Saya bukan bermaksud menyalahkan, karena nyatanya saya sendiri masih bermental “yang penting jalan dulu”. Di kuliah saya dulu saja tidak banyak menitikberatkan pada persiapan pengujian. Padahal, banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum sebuah aplikasi bisa berjalan.

Hal ini berbeda sekali dengan kuliah “Design of Computer Programs” yang saya ambil di Udacity. Dalam kursus daring tersebut, setiap fungsi yang dibuat, langsung dibuatkan juga pengujiannya. Di akhir kursus bahkan dijelaskan bahwa masih ada cara-cara alternatif yang mungkin lebih baik dari program yang telah dihasilkan.

Dalam hal-hal yang menyangkut khalayak ramai seperti ini, rasanya pengujian adalah hal yang wajib-kudu-mesti dilakukan. Demikian pula halnya dengan ujian yang kita hadapi di sekolah atau pekerjaan. Ujian tersebut adalah bentuk pertanggungjawaban akan suatu hal yang telah kita pelajari atau kembangkan. Ujian itu sulit, tapi perlu dijalani supaya kita bisa naik tingkat. Yang saya khawatirkan sebetulnya adalah…

mungkin mental kita tanpa sadar telah terbentuk untuk takut terhadap ujian bahkan ketika kita sebetulnya bisa melaluinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s