Balada TransJakarta (Bag. 1)

Beberapa hari terakhir, saya mencoba lagi untuk membiasakan diri dengan salah satu kendaraan favorit commuter ibukota: TransJakarta. Ternyata, hanya dengan cara seperti inilah saya baru bisa merasakan “serunya” kehidupan ibukota. Berdesak-desakan, menunggu bis yang tak kunjung datang, hingga berpanas-panasan ria padahal kondisinya sedang malam hari. Nah, berhubung banyak yang bisa diceritakan (padahal frekuensi naik bisnya masih bisa dihitung dengan jari), jadilah tulisan ini akan saya bagi menjadi dua bagian.

“Nanti Saya yang Kena Marah!”

Kisah pertama yang ingin saya ceritakan adalah ketika saya ingin menuju Manggarai dari halte Matraman. Kala itu, bis dalam kondisi penuh. Walhasil, banyak orang yang tidak dapat tempat duduk.

Hatta, adalah seorang bapak paruh baya yang berdiri agak di tengah. Sebagai warga negara yang pernah diajari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, sudah jadi bagian dari tanggung jawab moral bagi orang-orang yang lebih muda untuk menawarkan tempat duduknya kepada orang-orang seperti bapak itu. Nah, kebetulan, karena kondisinya agak di tengah, akhirnya mbak-mbak petugas TransJakarta yang berdiri di dekat pintu meminta salah seorang penumpang untuk memberikan tempat duduknya.

Bapak tersebut awalnya bersikeras untuk menolak. Apalagi orang yang diminta tempat duduknya adalah seorang perempuan — menurut bapak itu. Well, kejadian seperti ini memang sebenarnya bukan pemandangan yang aneh bagi sebagian besar orang. Namun, yang menarik adalah respon dari mbak-mbak petugas TransJakarta tersebut.

Tidak apa-apa, Pak. Silakan duduk saja. Kalau tidak, nanti saya yang kena marah.

Entah kenapa, saya agak tersentak dengan kata-kata dari mbak-mbak petugas TransJakarta tersebut. “Lah, kalau tidak peraturan yang mengatur, dan kalau tidak ada yang memarahi, berarti Mbak tidak akan mengusahakan bapak itu untuk mendapat tempat duduk?” begitu usik batin saya.

“Nanti Saya yang Repot!”

Beberapa hari kemudian, saya juga masih menggunakan TransJakarta untuk mencapai kantor. Salah satu alasannya sebetulnya juga karena saya jadi bisa menghabiskan waktu untuk membaca buku sepanjang perjalanan. Waktu 1 jam perjalanan itu sangat lumayan untuk menghabiskan buku yang selama ini telantar.

Nah, suatu ketika, halte tempat saya akan berhenti sudah mulai terlihat di depan mata. Saya yang duduk di bagian belakang bis pun bersiap-siap untuk turun. Buku sudah saya masukkan ke dalam tas, saya pun kemudian bangkit dari tempat duduk.

Ketika saya akan melangkah ke luar, tiba-tiba saya ditegur oleh salah seorang penumpang. Ternyata, uang saya terjatuh di tempat duduk saya tadi. Saya berbalik arah untuk memungutnya ketika tiba-tiba pintu bis mulai tertutup dan bis mulai berjalan.

Dalam sekejap, saya yang baru berjalan ke arah pintu mempercepat langkah saya dan melompat keluar dari pintu yang baru tertutup seperempat bagian. Saya kemudian ditegur oleh petugas di halte, diingatkan bahwa yang saya lakukan tersebut berbahaya. Well, yes, memang yang saya lakukan cukup berbahaya. Salah sedikit saja waktunya, maka mungkin saya bisa terjatuh dari bis.

Yang membuat saya kaget. Ketika saya akan berjalan ke luar dari halte, bis yang saya naiki tadi tiba-tiba berhenti, pintunya terbuka, lalu petugas TransJakarta yang ada di dalam marah-marah kepada saya. Saya tahu bahwa saya salah sehingga saya meminta maaf sambil menjelaskan duduk perkaranya. Lagi-lagi, yang menarik adalah respon dari petugas TransJakarta tersebut.

Jangan melompat keluar dari bis seperti itu! Berbahaya! Nyawa taruhannya! Kalau nanti terjadi apa-apa, nanti saya yang repot kena marah.

Saya hanya bisa meminta maaf kepada petugas tersebut. Namun, dalam hati saya kembali bertanya-tanya, “Serius nih nyawa saya kalah penting dibandingkan Anda yang kena marah nanti?” Mengingatkannya sih saya tidak masalah, tapi kenapa ujung-ujungnya yang dikhawatirkan adalah dia kena marah atau tidak?

Kontemplasi

Saya sebetulnya agak bingung. Seberapa peduli kah sebetulnya orang-orang tersebut akan kenyamanan atau keselamatan orang lain? Sekali lagi, kalau tidak ada yang memarahi, apakah teguran-teguran atau imbauan tersebut masih tetap ada?

Buat saya, sebetulnya wajar sekali rasa kekhawatiran itu. Namun, kalau sampai alasan tersebut diutarakan kepada orang yang bersangkutan dengan masalahnya, bukankah itu berarti prioritasnya memang kekhawatiran tersebut alih-alih kenyamanan dan keselamatan orang lain?

Pikiran saya bercabang ke banyak hal. Sebetulnya, masalah yang paling kecil seperti buang sampah sembarangan hingga masalah yang besar seperti korupsi, akarnya adalah ketidakpedulian terhadap lingkungan. Mungkin tidak pernah terlintas di benak orang-orang tersebut bahwa kepentingan orang lain itu ada di atas hak kita — seperti yang diajarkan di sekolah dulu.

Anda boleh sekali buang sampah sembarangan, selama itu dilakukan di rumah Anda sendiri, di kamar Anda sendiri. Anda juga boleh merokok dan mengepulkan asapnya ke udara, asal tidak ada orang lain di sekitar Anda yang terganggu. Uang-uang itu pun — bagi saya — boleh Anda miliki jika infrastruktur sudah terbangun dengan baik, jika fakir miskin dan anak-anak terlantar sudah dipelihara dengan baik melalui uang yang kami titipkan itu, dan jika kebutuhan umum lainnya sudah terpenuhi dengan baik. Nyatanya?

Saya setuju dengan pemaparan Bapak Jokowi di koran Kompas hari ini (10/5),

Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional. Usaha kita bersama untuk mengubah nasib Inodnesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil, dan makmur.

Begini loh, Tuhan pun bilang bahwa perubahan itu harus dimulai dari masing-masing dulu, baru kemudian direstui oleh Tuhan. Tidak ada cerita bahwa tiba-tiba sekelompok orang — dalam hal ini konteksnya bisa negara — jadi baik tiba-tiba tanpa usaha. Negara ini baru akan jadi negara yang adidaya jika kita sebagai masyarakat pun turut memberikan andil dalam perubahan ke arah yang lebih baik.

Selalu ingat bahwa perubahan itu dimulai dari diri sendiri.

Iklan

2 tanggapan untuk “Balada TransJakarta (Bag. 1)

  1. Inget kasus Dinda dan ibu hamil di kereta? Gw sering mikir kejadian itu sebenernya puncak gunung es dari hal-hal kecil yang ditulis diatas. Sebagai bangsa/masyarakat/mahluk sosial, kita kekurangan empati, rasanya. Gatau gimana cara menumbuhkan itu secara kolektif, terutama di fasilitas umum seperti TJ, tapi mungkin, yang kita bilang ‘nanti kena marah’ atau ‘nanti saya yang repot’ itulah awalnya.

    Gw juga paling suka naik TJ, terutama bagian khusus wanitanya, karena disana somehow, persaingan justru makin sengit dan banyak cerita yang bisa di (curi) dengar :p

    Anyway, me miss you! (plus the rest of SoC)

    1. Bagian curi-curi dengar pembicaraan di tempat umum itu memang menarik. 😛 Kadang-kadang ada informasi yang salah dan pengen dibenerin tapi karena ga kenal jadi dicuekin aja. :mrgreen:

      Bagian kedua dari balada ini akan berhubungan dengan sifat orang Indonesia yang lainnya. Ditunggu ya. 😀

      Iya nih, pengen banget ketemu anak-anak SoC lagi. Tapi bosnya kayaknya lagi sibuk banget nih akhir-akhir ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s