Pak Anies dan Nyoman

Nyoman Anjani, Sang Presiden yang Membumi

Saya bukan orang yang terlalu mengikuti dunia politik. Pun demikian halnya dengan politik kampus. Saya tidak pernah cukup tertarik untuk datang hearing calon Presiden (Ketua Kabinet) KM ITB. Namun, semua berubah ketika negara api menyerang ketika muncul sosok Nyoman Anjani.

Dari Nyoman, saya melihat kesederhanaan. Ia tidak membawa mimpi yang muluk-muluk. Ia hanya ingin mahasiswa di kampus tercintanya mau bergerak bersama, melakukan hal-hal baik dengan dukungan sesama. Ia sadar bahwa menjadi seorang pemimpin sejatinya bukan hanya “menyuruh”. Ia mau turun di pelbagai kegiatan yang diadakan di kampus — memastikan bahwa semua baik-baik saja.

Saya melihat Nyoman sebagai sosok yang berhasil menjadi pemimpin yang membumi. Acap kali ia terlihat berinteraksi dengan “warganya”, baik di dunia nyata, maupun melalui media sosial. Nyoman adalah orang yang tak segan untuk memberikan ucapan terima kasih secara langsung kepada orang-orang yang terlibat dalam suatu program. Sederhananya, meski orang lain melihatnya “di atas”, ia tetap paham bahwa pada hakikatnya, posisinya sama dengan yang dipimpinnya.

Anies Baswedan, Sang Penggagas Turun Tangan

Hal yang kurang lebih sama saya lihat pada diri Anies Baswedan. Pak Anies adalah orang yang hebat, punya segudang prestasi sejak zaman kuliah hingga sekarang. Beliau bukanlah orang yang hanya ingin — meminjam istilah beliau — urun angan. Mimpinya untuk melunasi salah satu janji kemerdekaan diejawantahkan dalam program Indonesia Mengajar. Beliau telah berkarya, bahkan sebelum bertahta.

Saya mungkin tidak perlu bercerita banyak tentang beliau, prestasi beliau banyak dapat dicari di berbagai media. Namun, satu hal yang ingin saya garis bawahi adalah apa yang menjadi alasan beliau untuk berani mencalonkan diri sebagai seorang presiden. Beliau bisa saja memilih jalan yang penuh tepuk tangan dan penghormatan, tetapi beliau rela menempuh jalan yang lebih berat, yang penuh caci maki, demi melunasi janji kemerdekaan yang lebih besar lagi.

Ayahmu tak mundur ketika mendapatkan tantangan untuk mengabdi pada republik. — Anies Baswedan

Makna Turun Tangan

Menempuh jalan seperti yang diambil oleh kedua orang tersebut merupakan sebuah keputusan besar dalam hidup. Mereka melihat ini sebagai tanggung jawab, bukan sebagai peluang untuk memperkaya diri atau memperoleh puja-puji. Di atas semua itu, mereka sepenuhnya sadar, bahwa mereka tak akan pernah bisa menjalankan semua ini seorang diri.

Lihatlah bagaimana Nyoman berkampanye. Slogannya bukanlah “Mewujudkan kampus yang bla… bla.. bla…” Ia hanya berusaha menularkan semangatnya dengan tagar #yukbergerak, sebuah simbol persuasi yang jauh dari kesan supremasi diri.

Hal ini tak ubahnya yang dilakukan oleh Pak Anies. Dengan slogan #turuntangan, beliau ingin menjaring sebanyak-banyaknya kepedulian bangsa Indonesia. Beliau percaya bahwa para ibu di bangsa ini masih melahirkan jiwa-jiwa yang peduli; bahwa masih banyak bagian bangsa yang tak terbeli dengan uang; bahwa para relawan itu tak akan sekadar urun angan, tetapi akan bergerak dengan tulus untuk turun tangan.

Semoga Allah senantiasa memudahkan jalan bagi para pemimpin yang berjuang di jalan-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s